بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Setelah Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan pengingkaran orang – orang kafir dan kesombongan mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah kemudian berfirman dengan memperkenalkan dirinya dengan nama – nama dan sifatnya kepada makhluknya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun?”. (QS. Qaf : 6).

Allah Subhanahu wata’ala memperkenalkan dirinya lewat makhluk ciptaannya, kita tidak mampu melihat Allah akan tetapi segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah memiliki tanda, Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):“Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali ‘Imran : 190-191).

Tanda tersebut menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala itu satu, Allah Berfirman:

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤

Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“. (QS. Al-Ikhlas : 1-4).

Jika kita ingin membuka akal dan fikiran kita kemudian kita tafakkur dan merenung maka kita akan menemukan pada diri kita terdapat tanda – tanda kebesaran Allah Subhanahu wata’ala, dan andaikan manusia dibiarkan diatas fitrahnya maka mereka akan beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar Ruum : 30). Disebutkan pula dalam hadist:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Fitrah manusia menunjukkan bahwasanya disana ada pencipta, dialah Allah Subhanahu wata’ala namun sebagian manusia buta dan tidak tahu siapa yang menciptakannya atau bahkan mengingkarinya, adapun kita sebagai orang muslim Allah telah memperkenalkan dirinya lewat Al-Qur’an dan lewat ciptaannya.

Banyak kelompok pecinta alam, mereka mendaki gunung, semangatnya mendaki gunung sampai sholat 5 waktu terlewatkan. Apa gunanya alam ditadabburi jika hanya diambil gambarnya kemudian diupload dengan status:”Indahnya pemandangan“, lalu hati kita tidak tersentuh dengan kebesaran Allah yang menciptakan alam tersebut.

Mahasiswa STIBA memiliki mapala dimana sebelum berangkat mereka dibekali dengan ilmu dan wejangan tentang adab-adab dalam melintasi alam dan juga diingatkan bahwa tujuan adanya mapala adalah untuk semakin mengingat akan kebesaran Allah Subhanahu wata’ala, membaca doa sebelum berangkat, ketika tiba waktu sholat mereka singgah untuk mengerjakan sholat, bantu orang lain, sebarkan senyum dijalan, angkat duri yang menghalangi jalan, ketika sampai pada tujuan baca doa perlindungan, minta izin kepada masyarakat setempat agar tidak dianggap pendatang ilegal atau pengungsi, ketika melihat yang bukan mahram tundukkan pandangan, oleh karena itu jangan ikut dalam mapala yang justru terjadi campur baur antara yang bukan mahram.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah suatu ketika terlambat keluar memimpin sholat subuh maka masuklah Bilal ibn Rabah berkata:”Sholat Ya Rasulullah”, Bilal mendapati Rasulullah dalam keadaan menangis, Rasulullah menjelaskan mengapa ia menangis, beliau berkata:”Telah diturunkan kepadaku semalam ayat dan sungguh merugi orang yang membacanya kemudian ia tidak mentafakkurinya”, Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan“. (QS. Al-Baqarah : 164).

Langit yang berdiri kokoh tanpa tiang penyanggah, sebagaimana masjid yang memiliki tiang jika tiangnya rusak maka akan menjadi ke khawatiran bagi kita jangan sampai runtuh atau roboh. Adapun langit yang menjulang tinggi kita bisa melihatnya tanpa tiang penyanggah, jangankan langit yang tinggi, awan yang menggantung diantara langit dan bumi sangat berat, pesawat yang beratnya berton – ton jika masuk diawan yang tebal maka akan menggoncang pesawat tersebut, bahkan ada pesawat yang dijatuhkan. Dialah Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak terjatuh dengan izin darinya, tidakkah itu membuka hati dan mata kita untuk beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Orang – orang yang memiliki inti kecerdasan maka ia akan terdorong untuk tafakkur mengingat Allah dan mensucikan Allah, mengingat Allah dalam setiap kondisi dan keadaan kemudian hatinya semakin bergantung kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai“. (QS. Al-A’raf : 179).

Allah menghiasi langit dengan rembulan dimalam hari yang dengan rembulan tersebut dituliskan dengan beribu – ribu bait syair terutama bagi yang rindu kepada kekasihnya, diantara contoh syair:”Jika engkau rindu kepadaku dan tidak melihatku dan kerinduan itu telah memuncak didalam hatimu, keluarlah dimalam hari dan lihatlah rembulan, maka engkau akan melihatku didalamnya“.

Kami menghiasi langit itu dengan bintang – bintang bukan hanya sebagai perhiasan dan menunjuk arah akan tetapi juga sebagai tanda kebesaran Allah Subhanahu wata’ala, kesempurnaan yang luar biasa, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?“. (QS. Al-Mulk : 3).

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR