بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menambah ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu agama, didalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan nabinya untuk meminta tambahan ilmu

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah :”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS. Taha :114).

Ulama kita mengatakan Allah Subhanahu wata’ala tidaklah memerintahkan kepada Nabinya untuk meminta tambahan sesuatu melainkan tambahan ilmu, Allah Subhanahu wata’ala tidak berkata kepada Nabinya: Dan katakanlah :”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku harta” atau Allah Subhanahu wata’ala tidak memerintahkan Nabinya untuk meminta kedudukan, Allah Subhanahu wata’ala tidak berkata kepada Nabinya Dan katakanlah :”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku kedudukan”. akan tetapi beliau diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk meminta tambahan ilmu, dan hal ini menunjukkan keutamaan ilmu.

Allah Subhanahu wata’ala mengutus Nabinya untuk mengajarkan ilmu kepada ummatnya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai“. (QS. At Taubah :33).

Kata para ulama tafsir Al Huda adalah Ilmun nafii’ (ilmu yang bermanfaat) dan Wadinul Haq yang dimaksud adalah amalan sholeh, jadi dua hal ini saling berkaitan dimana ilmu yang bermanfaat yang melahirkan amalan sholeh, karena amalan sholeh yang diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala haruslah dibangun diatas ilmu.

Dalam setiap sholat sering kita meminta petunjuk kepada Allah Subhanahu wata’ala yang terdapat dalam surah Al-Fatiha. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“Tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat”.
(QS. Al-Fatihah :6-7).

Maksud jalan yang engkau beri nikmat kepada mereka yaitu dari golongan para Nabi, para Shiddiqin, syuhada dan orang – orang sholeh, dan golongan inilah kata para ulama yang mengumpulkan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang sholeh, disamping mereka mencari ilmu yang shahih maka mereka juga berusaha untuk mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (QS. Az Zumar : 17-18).

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

“Bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat”. (QS. Al Fatihah :7).

Ditafsirkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:”Mereka adalah orang – orang  yahudi mengapa mereka dimurkai oleh Allah kerena mereka memiliki ilmu tetapi tidak diamalkan“.

Dalam riwayat disebutkan semua kabilah – kabilah yahudi baik itu Bani Quraizah, Qainuqa dan Bani Nadhir dan kabilah-kabilah lainnya yang ke madinah, pendeta-pendeta (Ulama mereka)  mengetahui ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lahir, mereka berkata bahwasanya telah terbit bintang yang dimaksudkan adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dilahirkan, bahkan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke madinah mereka pun telah mengetahuinya dengan ciri – ciri yang mereka baca dalam kitab taurat akan tetapi mereka tidak mau beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam disebabkan karena hazab dan sombong sehingga mereka memiliki ilmu dan tidak mengamalkan ilmu tersebut.

Dan Bukanlah golongan orang – orang yang tersesat dan yang dimaksudkan orang – orang yang tersesat adalah nasara yang beribadah dengan kejahilan (Kebodohan) ayat dalam surah Al-Fatihah ini tidak hanya berlaku kepada orang – orang yahudi dan nasara akan tetapi berlaku bagi orang – orang yang memiliki sifat seperti mereka.

Ulama kita mengatakan:”Barangsiapa yang rusak dari kalangan para ulama (yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkan ilmunya maka ada kemiripan dengan orang – orang yahudi dan barangsiapa yang rusak dari ahlu ibadah tetapi ibadahnya dibangun diatas kejahilan maka ada kemiripan dengan orang – orang nasara dan kita berlindung dari kedua sifat tersebut”.

Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memerintahkan kepada kita untuk berdoa kepada Allah agar kita meminta ilmu yang bermanfaat.

اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَ رِزْقًا طَيِّبًا وَ عَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allaah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfa’at, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima”. (HR. Ibnu Majah, Kitab ash-Shalat, Bab “Apa yang dibaca setelah salam” no. 925; an-Nasa’i, Sunan al-Kubra (31/6) no. 9850). 

Kita meminta dan berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala, semoga Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan kita ilmu yang bermanfaat yang kemudian kita amalkan dalam kehidupan kita.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Ahad, 19 Rajab 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR