بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rasulullah bersabda:”Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun”.

Terutama dalam hal peribadatan sebagaimana perkataan Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah ketika beliau mendefinisikan tentang ibadah, dalam sya’ir beliau mengatakan:”Jadi beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan puncak cinta kepadanya disertai dengan menghambakan diri kepada Allah itulah inti dari ibadah dan semuanya itu kembali dari pada perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan dengan hawa nafsu, bukan dengan bisikan jiwa dan bukan dengan  bisikan syaithan”. Jadi kita beribadah dengan penuh rasa cinta kepada Allah dan menghambakan diri kepadaNya dan kesemuanya itu harus dibungkus dengan petunjuk dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karena itu ada 2 syarat diterimanya amal ibadah disisi Allah Subhanahu wata’ala, syarat yang pertama adalah ikhlas kepada Allah Subhanahu wata’ala dan yang kedua adalah Mutaba’ah (mengikuti tuntunan dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam).

Barangsiapa yang mengamalkan hal tersebut dalam hidupnya maka ia akan mendapatkan jaminan dari Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana dari pembahasan hadist diatas, ini menunjukkan bahwa inti dari ibadah adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala karena yang menjadi benang pemisah dan sumber permasalahan adalah kesyirikan, dalam sebuah atsar ilahiah disebutkan:“Sesungguhnya aku kata Allah, jin dan manusia berada dalam berita yang sangat agung, saya yang menciptakan dan mereka menyembah selain dari saya, saya yang memberikan mereka rezeki namun dia bersyukur dan berterima kasih selainku, senantiasa saya menurunkan kebaikan kepada hamba – hambaku namun keburukan – keburukan senantiasa terangkat kepadaku,  (begitu banyak nikmat dan kebaikan yang senantiasa Allah turunkan kepada hamba – hambanya tetapi hamba – hamba Allah senantiasa membalasnya dengan keburukan dengan kemaksiatan-Penj), saya membuktikan cintaku kepada mereka dan memberikan nikmat kepada mereka namun mereka membalas nikmat itu dan kecintaan itu dengan kebencian yaitu dengan bermaksiat kepadaku.

Hak hamba ketika ia tidak mempersekutukan Allah maka Allah tidak akan menyiksanya dan tidak menghukumnya. Dosa yang paling besar disisi Allah yang tidak diampuni pelakunya ketika tidak bertaubat kepada Allah sebelum ia meninggal adalah dosa syirik, adapun orang yang mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dan tidak mempersekutukannya, dihari kemudian walaupun ia memiliki dosa yang begitu banyak selain dari kesyirikan maka peluang untuk diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala sangat besar, kondisi dan keadaan pelaku dosa besar menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah pada hari kemudian berada dibawah kehendak Allah Subhanahu wata’ala, berbeda dengan pemahaman khawarij mereka mengkafirkan pelaku dosa besar adapun pemahaman murjiah kebalikan dari pemahaman khawarij. Jadi pelaku dosa besar berada dibawah kehendak Allah Subhanahu wata’ala, jika Allah berkehendak ia akan dimasukkan ke dalam surga dengan tauhid dan aqidah yang ia miliki namun jika Allah berkehendak karena ia memiliki banyak dosa maka ia dimasukkan terlebih dahulu ke dalam neraka kemudian diangkat, dicuci dan dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam surga. Dengan demikan jangan salah memahami hal ini sehingga memudah – mudahkan melakukan dosa dan maksiat.

Mu’adz bin Jabal kemudian bergembira mendengar wasiat yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata:”Wahai Rasulullah! Tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?”,

Wasiat Rasulullah dalam hadist diatas merupakan berita gembira bagi orang yang mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu apapun bahwasanya Allah tidak akan menghukumnya dan menyiksanya, olehnya dianjurkan kepada kita ketika mendapatkan kebaikan atau kabar gembira untuk disampaikan kepada saudara – saudara kita yang lain.

Rasulullah bersabda:”Janganlah kau sampaikan kabar gembira ini kepada mereka sehingga mereka akan bersikap menyandarkan diri (kepada hal ini dan tidak beramal shalih)”.

Mengapa Rasulullah melarang Mu’adz, bukankah Rasulullah mengatakan:”Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak”. (HR. Ibnu Hibbaan no. 96, Al-Haakim 1/102), Rasulullah melarang Mu’adz menyampaikan kepada sahabat yang lain agar mereka tidak bersandar kepada berita tersebut jangan sampai setelah mereka dengar apalagi diketahui oleh orang – orang yang jahil dan orang – orang yang lemah imannya sehingga tidak ada lagi yang berlomba – lomba untuk melakukan amalan sholeh, jangan sampai mereka mengatakan:”Yang penting aqidah sudah baik adapun ibadah pelan – pelan saja atau biasa – biasa saja padahal ini tidak diinginkan oleh Allah Subhanahu wata’ala”.

Walaupun disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya diakhir kehidupan Mu’adz sebelum meninggal dunia beliau menyampaikan hadist ini karena takut memikul dosa dihari kemudian. Faidah: Boleh menyembunyikan ilmu kepada sebagian orang jika melihat maslahatnya lebih besar daripada menyampaikannya, terkadang ada kemungkaran terjadi dihadapan kita, namun kita melihat tidak tepat untuk mengingkarinya karena jangan sampai ketika kita menyampaikannya pada saat itu juga boleh jadi dia akan pergi atau bahkan lari meninggalkan kita dan mudharatnya lebih besar.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.