بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa“. (QS. An-Najm: 32).

Tidaklah seseorang tawadhu karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya disisinya, Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.(HR. Muslim no. 2588).

Diantara bentuk tawadhu sebagaimana yang dinasehatkan oleh Luqmanul Hakim :”Jangan engkau memalingkan wajahmu ketika engkau berbicara dengan orang lain”, jadi bentuk kesombongan tatkala ada seseorang yang enggan wajahnya dilihat ketika diajak berbicara, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai kepada anak kecil beliau memberi salam kepada mereka serta berbicara kepada mereka bahkan menghormati mereka, olehnya inilah sifat yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala, apalagi kepada orang yang lebih tua dari kita atau lebih tinggi dari kita seperti guru, ustadz, orang tua dan selainnya maka kita harus lebih tawadhu kepada mereka.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. (QS. Al-Isra : 37). Tidak ada yang pantas disombongkan karena semua kita adalah hamba Allah yang lemah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”. (QS. Fatir : 15).

Salah seorang salaf pernah berkata:”Apa yang disombongkan oleh manusia kemana saja ia pergi ia membawa kotoran”, setiap kita membawa kotoran sebagaimana kotoran yang ada dalam perut kita bahkan kita berasal dari air yang hina yang telah melalui 2 tempat keluarnya kotoran, olehnya tawadhu karena Allah dengannya Allah angkat derajat orang tersebut dan ini yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wahai Mu’adz! Tahukah engkau apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah?

Salah satu metode pengajaran yang terbaik yaitu dengan cara bertanya

Muadz Berkata: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui

Diantara adab seorang sahabat dan juga adab ketika kita tidak mengetahui sesuatu yang ditanyakan kepada kita maka jangan malu untuk berkata:”Saya Tidak Tahu“, maka dari itu jika urusan yang berkaitan dangan agama ditanyakan kepada kita tidak mengapa kita menjawab:”Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”, adapun jika perkara tersebut adalah perkara dunia misalnya ketika salah seorang ditanya kemana temanmu..? apakah kita menjawabnya Allah dan Rasulnya yang lebih tahu ketika kita tidak tahu, jawabannya adalah kita cukup menjawab:”Allahu ‘alam“.

Pernah penduduk Yaman mengumpulkan pertanyaan dari kaumnya dan mereka membiayai orang ini untuk melakukan perjalan ke Madinah bertanya kepada salah seorang ‘alim yang bernama Malik ibn Anas, pada waktu itu belum ada whatsapp, telp, Hp, sehingga jika ada yang bertanya tentang sesuatu maka diutus seorang utusan untuk melakukan perjalanan yang sangat jauh bahkan seorang ulama dimasa dahulu untuk mendengarkan satu hadist  terkadang ada diantara mereka yang menempuh perjalanan berbulan – bulan, adapun kita hampir setiap pekan kita mendengarkan hadist – hadist yang dibacakan namun berlalu begitu saja ditelinga kita, sudah ada rekaman dan fasilitas yang luar biasa maka begitulah jika keberkahan mulai dicabut oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Imam Bukhari menuliskan kitabnya Shahih Bukhari dimalam bulan purnama dan jika bukan bulan purnama beliau menggunakan arang, jika ingin menulis sesuatu beliau meniup arang tersebut untuk menerangi apa yang hendak dituliskannya, adapun kita sangat dimanjakan dengan fasilitas namun hasilnya tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh pendahulu kita karena keberkahan telah dicabut.

Jadi orang ini diutus ke Madinah untuk bertanya kepada Malik ibn Anas, puluhan pertayaan disampaikan kepada beliau hanya beberapa yang dijawab selebihnya beliau mengatakan:”Wallahu ‘alam laa adriy”, beliau memang tidak tahu bukan karena menyembunyikan ilmu, terkadang sebagian ulama ketika ditanya beliau berkata:”Tunggu dulu saya cari terlebih dahulu”,  Imam Malik dan Imam Syafii ketika ditanya sesuatu yang belum pas jawabannya beliau berkata:”Berikan saya waktu 3 hari”, mengapa 3 hari karena kebiasaan mereka menghatamkan Al-Qur’an hanya dalam waktu 3 hari sehingga ia mencari jawaban didalam Al-Qur’an.

Utusan ini kemudian berkata:”Subhanallah, apa yang akan saya katakan kepada kaumku ketika aku kembali kepada mereka, mereka telah membiayai perjalanan saya dengan jarak perjalanan yang sangat jauh kemudian saya tidak mendapatkan jawaban”,Malik bin Anas  berkata:”Sampaikan kepada mereka bahwa Malik bin Anas tidak tahu”. Jika saja malaikat tidak malu mengatakan:

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Baqarah : 32). Olehnya jangan malu mengatakan:”Saya tidak tahu”, Ulama kita mengatakan:”Ucapan saya tidak tahu itu separuh jawaban”, karena jika ada yang bertanya kemudian kita menjawab:”Saya tidak tahu“, maka dia akan mencari jawaban ditempat yang lain, akan tetapi jika kita sok tahu kemudian menjawab pertanyaan yang ditanyakan kepada kita maka ia hanya mencukupkan dengan jawaban yang kita sampaikan kepadanya sehingga dia tidak mencari lagi ditempat yang lain. Olehnya ketika kita ditanya selematkan terlebih dahulu diri kita kepada Allah kemudian kepada manusia.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR