بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. Al-Isra : 23).

Dan Tuhanmu telah memerintahkan

Ketetapan Allah terbagi menjadi 2, ada yang disebut dengan Qadaun Syar’i (ketetapan yang Syar’i) dan ada yang disebut dengan Qadaun Kauniy (Ketetapan yang merupakan Sunnatullah).

Perbedaan diantara keduanya adapun Qadaun Syar’i adalah sesuatu yang terjadi yang merupakan ketetapan dari Allah Subhanahu wata’ala dari hal – hal yang dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Qadaun Kauniy adalah sesuatu yang terjadi yang kadang dicintai oleh Allah atau bahkan sesuatu yang dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala tentang Bani Israil yang melakukan kerusakan dipermukaan bumi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. (QS. Al-Isra : 4).

Ini merupakan ketetapan Allah Subhanahu wata’ala tetapi tidak dicintai oleh Allah, mungkin ada yang bertanya:”Lalu mengapa Allah Subhanahu wata’ala menetapkan sesuatu yang tidak dicintainya”. Dari sini ulama kita menyebutkan bahwasanya ketetapan Allah Subhanahu wata’ala atau sesuatu yang dicintai oleh Allah terbagi menjadi 2, yang pertama ada yang disebut dengan Mahbubun Lidzatihi (Secara zatnya dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala) dan yang kedua disebut Mahbubun Lighairihi yaitu sesuatu yang dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala disebabkan karena sesuatu yang lain dengan contoh penjelasan yang semakin jelas, misalnya Allah Subhanahu wata’ala menciptakan didunia ini penyakit, kefakiran bahkan ada yang melakukan kerusakan semua ini tidak diinginkan oleh Allah Subhanahu wata’ala namun semua itu terjadi karena ada hikmah yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Mungkin ada yang bertanya:”Untuk apa Allah menciptakan Iblis yang menggelincirkan manusia dan Allah tidak cinta kepada kekufuran”. Maka perlu diketahui dibalik itu ada hikmah yang sangat besar yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, sampai ketika Adam ‘Alaihissalam diusir dari surga dan diturunkan ke dunia disebabkan karena Iblis tentu ada hikmah yang dinginkan oleh Allah.

Supaya kamu jangan menyembah selain Dia 

Pertama: Ketika Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk menjadi hambanya maka semakin besar penghambaan kita kepada Allah maka semakin besar cinta Allah kepada kita, di dalam Al-Qur’an ketika Allah Subhanahu wata’ala memuji orang – orang sholeh maka Allah menyandarkan penghambaan itu kepada dirinya, misalkan ketika Allah Subhanahu wata’ala memuji Rasulnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. (QS. Al-Furqan : 1).

Al-Furqan nama lain dari Al-Qur’an, kata:”Kepada hambanya” yang dimaksud adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan peristiwa Isra dan Mi’raj dan ini adalah maqam dimana Allah memuliakan Nabinya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Isra : 01).

Dalam ayat diatas disebut kata hamba, jadi jangan gengsi menjadi hamba Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ ۚ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا

“Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya”. (QS. An-Nisa : 172).

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”. (QS. Maryam : 93). Maksudnya tidak ada lagi yang mampu untuk menghindar pada hari kiamat.

Kedua: Ada yang disebut dengan Al-Ubudiyyah tu khassah (penghambaan kepada Allah Subhanahu wata’ala yang sifatnya khusus) seperti ketika Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan sifat dan ciri –ciri hamba-hambanya yang terdapat dalam surah Al-Furqan pada ayat yang ke 63:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. (QS. Al-Furqan : 63). Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang ini penghambaan yang sifatnya khusus,

Ketiga: Ada penghambaan yang sifatnya khawasu khawas yang lebih khusus dari yang khusus mereka adalah para Nabi dan Rasul yang dipilih oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana ketika Allah memuji Nabi Nuh ‘Alaihissalam pada surah Al Isra pada ayat yang ke 3. Allah berfirman:

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

“(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur”. (QS. Al-Isra : 3).

Allah memuji Nabi Nuh sebagai bentuk Al Ubudiyyah Al Khawasul Khawas diatas dari yang khusus, begitu pula dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dipuji oleh Allah sebagaimana yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 23:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar“. (QS. Al-Baqarah : 23).

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami”, yang dimaksud adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, begitupula dalam surah Shad Allah berfirman:

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi”. (QS. Shad : 45).

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR