بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pembahasan kitab tauhid Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi Rahimahullah yang beliau beri nama kitabnya :”Kitabut Tauhid”, kitab ini walaupun ia merupakan matan dari perkara – perkara yang penting yang wajib kita ketahui yang berkaitan dengan masalah aqidah dan tauhid namun memiliki manfaat yang sangat besar dan diberi perhatian khusus oleh para ulama didalam mensyarah dan menjelaskan kitab yang mubaraka ini. Semoga dengan mengkajinya Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, amalan sholeh dan memberikan kepada kita taufik.

Dalam bahasa arab kata tauhid adalah  وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيْدًا , mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala adalah  perkara yang paling asas dalam kehidupan manusia dan kehidupan seorang muslim, tauhid merupakan kunci amalan – amalan diterima disisi Allah Subhanahu wata’ala, tauhid dibagi menjadi 3 berdasarkan hasil penelitian dan hasil bacaan para ulama dari nash – nash yang ada didalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

  1. Tauhid Rububiyah yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala bahwa dialah yang menciptakan dan menguasai, dialah yang memiliki dan mengatur segala urusan makhluk dilangit dan dibumi dan apa yang ada diantara keduanya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ

“Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah:”Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. (QS. Ali-Imran: 154)

Dalam surah Al-A’raf, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-A’raf : 54).

Dalam surah Fatir Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?”. (QS. Fatir : 3).

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”. (QS. Yunus: 31). Allah mengeluarkan sesuatu yang mati menjadi hidup seperti benih dan biji – bijian, bahkan manusia berasal dari air yang hina yang kemudian ditiupkan ruh sebagaimana proses penciptaan manusia yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam surah Al Mu’minun.

Siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?, dialah Allah Subhanahu wata’ala tuhan seluruh manusia, dialah Allah Subhanahu wata’ala yang berhak untuk disembah dengan sebenarnya dan tidak ada lagi kebenaran setelahnya kecuali kesesatan, Allah berfirman:

فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”. (QS. Yunus : 32).

Maka siapa yang menolak kebenaran maka kesesatan yang ia dapatkan. Allah Subhanahu wata’ala yang menciptakan manusia, bumi dan langit kemudian seseorang beriman kepadanya maka tidak ada lagi kebenaran itu kecuali kesesatan, hal ini juga diakui oleh orang – orang musyrik dizaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dalam firman Allah dalam surah Az Zuhruf pada ayat 9.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS. Az-Zuhruf : 09).

Fitrah manusia tidak bisa mengingkari hal tersebut, bahkan orang – orang komunis sekalipun yang tidak mengakui adanya tuhan ketika dalam kondisi terdesak fitrah mereka akan meminta sesuatu yang ada diluar diri mereka yang mana mereka mengakui bahwasanya ada kekuatan diluar dari kekuatan yang mereka miliki, dan ini sebagaimana dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’i Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadist Qudsi Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِنِّـي خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءُ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ

 “(Allah Azza wa Jalla berfirman): Sesungguhnya Aku menciptakan para hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus dan cenderung pada kebenaran) dan sungguh (kemudian) para syaitan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka”. (HSR. Muslim, no. 2865).

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Semua bayi (yang baru lahir) dilahirkan di atas fitrah (cenderung kepada Islam), lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya orang Yahudi, Nashrani atau Majusi”. (HSR. Al-Bukhari, 1/465 dan Muslim, no. 2658).

Manusia diciptakan diatas fitrah namun setelah itu mereka digelincirkan oleh syaithan baik syaithan dari kalangan manusia maupun syaithan dari kalangan jin.

2. Tauhid Uluhiyah yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dari segala macam bentuk peribadatan, penghambaan, penghinaan hanya diberikan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Olehnya ulama kita menyebutkan bahwasanya hubungan antara tauhid Rububiyah dengan tauhid Uluhiyah dikenal dengan sebuah kelaziman, jika kita mengakui dialah Allah yang menciptakan segala sesuatunya, menciptakan kita, langit, bumi dan apa yang ada diantara langit dan bumi bahkan menciptakan apa yang berada dalam perut bumi, sebagaimana firmannya didalam Al-Qur’an:

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi”. (QS. Thahaa : 2-4).

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir; maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka”. (QS. Shad : 27).

Diawal Al-Qur’an perintah yang paling pertama adalah tauhid, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 21).

Tauhid uluhiyah : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu, kemudian Allah mengingatkan tauhid Rububiyah: yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”. (QS. Al-Baqarah : 22).

Diantara tanda – tanda kebesaran Allah yaitu kita bisa melihat bumi yang mati seperti ketika terjadi musim kemarau, sawah yang bergantung pada air hujan menjadi kering kerontang akan tetapi baru sehari hujan tumbuhlah berbagai tanaman hijau.

Olehnya perintah pertama adalah tauhid dan larangan pertama didalam Al-Qur’an adalah larangan kesyirikan, setelah kita meyakini hal tersebut jangan kemudian menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wata’ala, janganlah menjadikan tandingan untuk Allah Subhanahu wata’ala, jangan menjadikan saingan untuk Allah Subhanahu wata’ala, semua kita telah mengetahui dan menyadari dan mengetahui hal tersebut, oleh karenanya segala sesuatunya itu ada tanda yang menunjukkan ketauhidan Allah Subhanahu wata’ala, pada penciptaan langit, pada penciptaan bumi ditambah dengan lautan yang membentang luas yang didalamnya penuh dengan keajaiban bahkan pada diri kita sendiri.

Inilah yang diingkari oleh orang – orang kafir dizaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu Tauhid Uluhiyah adapun Tauhid Rububiyah mereka semua meyakininya namun itu tidak cukup sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi mereka karena mempersekutukan Allah Subhanahu wata’ala dalam berbagai bentuk – bentuk peribadatan.

  1. Tauhid Asma wa Sifat yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala bahwasanya ia memiliki nama dan sifat, kita menetapkan nama – nama dan sifat – sifat bagi Allah sebagaimana yang Allah tetapkan untuk dirinya dan ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pembagian 3 tauhid ini terkumpul pada firman Allah Subhanahu wata’ala yang terdapat dalam surah Maryam ayat yang ke 65. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam : 65).

Potongan ayat:”Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya”, merupakan Tauhid Rububiyah dimana dialah Allah yang menciptakan segala sesuatunya.

Potongan ayat:”Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya”, merupakan Tauhid Uluhiyah.

Potongan ayat:”Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?“, merupakan Tauhid Asma wa Sifat.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.