بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغدُوْ خِمَاصًا ، وتَرُوْحُ بِطَانًا

Seandainya kalian bertawakkal kepada Allâh dengan sungguh-sungguh tawakkal kepada-Nya, sungguh kalian akan diberikan rizki oleh Allâh sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung. Pagi hari burung tersebut keluar dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang“. (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (I/30, 52); at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2344) dan at-Tirmidzi). 

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata:”Reseki terbagi menjadi 2 yaitu reseki yang engkau cari dan reseki yang mencarimu dan andaikan engkau berusaha berlari dari reseki yang telah ditentukan untukmu sebagaimana engkau berusaha berlari dari kematian maka reseki akan mendatangimu sebagaimana kematian akan menjemputmu dimanapun engkau berada”, adapun reseki yang engkau datangi engkau berusaha untuk mendatanginya sehingga Allah berikan karena keadilan Allah Subhanahu wata’ala.

Ini janji dari Allah siapa yang berusaha maka ia akan diberikan oleh Allah, sebaliknya reseki yang mendatangi kita tidak akan diambil oleh orang lain.

Oleh karenanya kita bisa melihat bagaimana Allah mengatur reseki diantara hamba – hambanya dan reseki yang Allah berikan berbeda antara yang satu dengan yang lain, ada diantara mereka yang telah bekerja keras namun kondisi dan keadaannya tetap demikian, sebaliknya ada diantara mereka yang tidak telalu kerja keras namun resekinya banyak, hal ini tiada lain merupakan pengaturan dari Allah Subhanahu wata’ala, namun jangan dijadikan oleh sebagian kita untuk hanya duduk pasrah karena ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang qadar atau takdir kepada para sahabat, kemudian ada diantara mereka yang mengatakan:”Jika demikian ya Rasulullah, untuk apa kita bekerja”, Rasulullah menjawab:”Berusahalah dulu dengan bekerja maka akan dimudahkan oleh Allah bagi yang diberikan kemudahan oleh Allah Subhanahu wata’ala”,

Hukum bertawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah wajib sebagaimana Syaikhul Islam ibnu Taimiyah Rahimahullah beliau berkata:”Sesungguhnya bertawakkal kepada Allah adalah merupakan kewajiban dan masuk diantara kewajiban yang besar sebagaimana ikhlas kepada Allah wajib, sungguh Allah telah memerintahkan kita untuk bertawakkal dalam banyak ayat sebagaimana Allah memerintahkan kita berwuduh kemudian mandi junub dan Allah Subhanahu wata’ala melarang kita untuk bertawakkal selain kepadanya, dalam surah Al Maidah ayat 23 Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal“. (QS. Al-Maidah : 11).

Allah menjadikan salah satu diantara keimanan adalah bertawakkal karena begitu pentingnya tawakkal Allah memerintahkan Nabinya untuk bertawakkal, dalam surah An Naml Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۖ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ

Sebab itu bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata“. (QS. An Naml : 79). Jadi Rasulullah diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran setelah itu bertawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala. Untuk para da’i sampaikanlah kebenaran jika itu benar kemudian selebihnya bertawakkallah kepada Allah Subhanahu wata’ala.  

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya“. (QS. Al-Furqan : 58). Manusia se kaya apapun dia dan setinggi apapun jabatannya dan sebesar apapun kekuasaannya maka pada ujungnya dia akan mati dan menjadi hamba yang tidak berguna.

Allah Subhanahu wata’ala juga berkata kepada Nabinya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya“. (QS. Ali ‘Imran : 159).

Ini merupakan salah satu manhaj qur’ani yang Allah ajarkan kepada Nabinya untuk senantiasa bermusyawarah dengan orang lain, walaupun beliau seorang Nabi akan tetapi beliau diperintah untuk banyak bermusyawarah oleh Allah Subhanahu wata’ala, bahkan salah seorang sahabat mengatakan:”Nabi adalah orang yang paling banyak bermusyawarah”. Dalam musyawarah terkadang banyak yang mengeluarkan pendapat yang bertentangan antara satu dengan yang lain sehingga hasil musyawarah harus ditentukan dan diputuskan, diantara sebagian yang ikut musyawarah ada yang kurang setuju dengan hasil putusan musyawarah namun jika telah diputuskan maka semuanya kembali kepada pemegang kebijakan untuk menjalankan hasil keputusan tersebut kemudian adapun selebihnya bertawakkallah kepada Allah Subhanahu wata’ala karena boleh jadi dari hasil keputusan ada hal – hal yang mungkin tidak dinginkan setelahnya namun jika kita bertawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala maka Allah akan senantiasa menolong dan membantu hambanya.

Allah mensifatkan orang – orang yang beriman didalam Al-Qur’an bahwasasanya mereka senantiasa bertawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal“. (QS. Al-Anfal : 2).

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan banyak kisah bagaimana sifat tawakkal para Nabi dan Rasul yang merupakan pilihan – pilihan Allah dan diantara kisah yang sering kita angkat adalah kisah dari Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dimana Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali“. (QS. Al-Mumtahanah : 4).

Kisah yang menakjubkan yang menunjukkan tawakkal Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah ketika beliau dilemparkan oleh kaumnya ke dalam api yang menyala – nyala yang mana kayu bakar yang digunakan untuk membakar Nabi Ibrahim dikumpulkan selama sebulan lebih yang apabila ada se’ekor burung yang melintas diatasnya maka akan jatuh terpanggang. Pada saat itu salah seorang wanita bernadzar dengan berkata:”Jika anak saya sakit atau saya sakit maka saya akan membawa kayu bakar untuk digabungkan dengan kayu bakar yang telah dipersiapkan untuk membakar Ibrahim”.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dilemparkan dalam kobaran api dengan menggunakan manjanik (Alat pelontar raksasa) karena mereka tidak mampu membawa Ibrahim langsung dekat dengan api dan ketika beliau dilontar diatas udara maka datanglah Jibril menawarkan bantuan, Jibril berkata:”Wahai Ibrahim adakah yang bisa saya bantu”, Ibrahim berkata:”Adapun kepadamu wahai Jibril saya tidak butuh bantuanmu adapun kepada Allah dia lebih tahu akan kondisi dan keadaanku, cukuplah Allah bagiku dan kepadanya aku bertawakkal”.

Ibnu Abbas dan Abu Aliyah mengatakan:“Andai Allah tidak berfirman:”Dan penyelamat bagi Ibrahim, tentu dinginnya api tersebut membahayakan Ibrahim”. Kata “Hasbunallah wani’mal wakiil”, bukan hanya diucapkan oleh Nabi Ibrahim akan tetapi juga diucapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang uhud ketika orang – orang berkata kepada beliau:”Sesungguhnya orang – orang telah berkumpul untuk mengepungmu wahai Muhammad tidakkah engkau takut kepada mereka”, namun yang seperti itu tidaklah menggetarkan Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam akan tetapi justru bertambah keyakinan beliau kepada Allah Subhanahu wata’ala kemudian beliau berkata:“Hasbunallah wani’mal wakiil (cukuplah sebagai penolongku adalah Allah dan sebaik – baik tempat untuk berlindung)”, Allah Subhanahu wata’ala kemudian menurunkan pertolongannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Setiap pagi dan petang kita dianjurkan untuk membaca dzikir sebanyak 7 kali:

 حَسْبِ اللهُ لا إله إلا هو، عليه توكلت و هو ربَ العرش العظيم

Cukuplah Allah bagiku,tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yg memiliki ‘Arsy yg agung“.

Sebelum berangkat kerja dan setelah sholat subuh kita duduk berzikir membaca doa ini sebanyak 7 kali kemudian kita merenungi isi kandungan dan maknanya akan memberikan kekuatan kepada kita, bertawakkal kepada Allah akan memberikan kekuatan karena telah kita serahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah berkata kepada Ibnu Abbas:”Ketahuilah andaikan seluruh ummat itu berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka tidak ada yang mampu memberikan mafaat kepadamu kecuali yang telah ditentukan oleh Allah dan andaikan mereka berkumpul untuk memberikan mudharat pun kepadamu maka tidak ada yang mampu memberikan mudharat kecuali yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala”, oleh karenanya salah seorang salaf pernah mengatakan:”Jangan terlalu takut dengan makar musuh – musuh Allah karena sesungguhnya hasil dari usaha mereka itu tidak keluar dari takdir dan ketentuan dari Allah Subhanahu wata’ala”.

Bersambung : Tawakkal (Silsilah Amalan Hati) Sesi 3

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 17 Jumadil Akhir 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.