Bismillahirrahmanirrahiim…

Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan kita begitu banyak nikmat dan kesempatan. Sampai kemudahan menempuh jalan menuju kebaikan. Serta, kesehatan yang menopang badan berada dalam kebaikan tersebut.

Salam dan shalawat kepada Nabi terakhir, Muhammad-Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yang telah dipilih oleh Allah membawa cahaya ilmu dan mengangkat umat dari kebodohan. Serta pada keluarga dan shahabat beliau, yang senantiasa berjalan di tasa sunnahnya.

Tazkiyatun nafs adalah satu ilmu yang sangat penting untuk kita mempelajarinya. Tidak mengalahkan pentingnya ilmu selainnya, namun ia adalah dasar yang sangat dibutuhkan oleh seorang muslimah. Dimana ia adalah suatu pembersihan, penyucian, dan perbaikan jiwa yang merupakan hal mendasar yang dibutuhkan dalam hidup ini dalam rangka mendapatkan kecintaan dari Allah-‘Azza wa Jalla-. Sebagaimana dalam sebuah ayat,

“ قد أفلح من زكاها وقد خاب من دساها ” (الشمس :9-10)

“ Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” ( Asy Syams : 9-10)

Dan tazkiyatun nafs ini, salah satu dari permohonan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-

اللهم آت نفسي تقواها،وزكها أنت خير من زكاك، أنت وليها ومولاها

Ya Allah karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya. Engkau-lah Yang Menjaga serta Melidunginya. (HR.Muslim)

Saudariku Muslimah,

Bagaimana agar kita mampu menguasai ilmu tazkiyatun nafs ini?  Baiknya, marilah kita mengetahui terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan menuntut ilmu. Seperti, syarat diterimanya sebuah ilmu, keutamaan ilmu dan ulama, barulah kita akan memasuki segala yang berkaitan dengan jiwa, sepeti jenis-jenis hati, penyakitnya, dll. Agar kita bisa lebih memahami cara yang tepat untuk membersihkan jiwa atau hati kita. Sungguh, membersihkannya adalah salah satu sebab dari mendapatkan kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla,

إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين ( البقرة :222)

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri ( Al Baqarah : 222)
 

IKHLAS DAN MUTABA’AH

Inilah dua perkara yang menjadikan sebuah amalan diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Pertama, Ikhlas, dimana ia merupakan syarat yang dilakukan di dalam diri kita. Kedua, mutaba’ah atau mengikuti sunnah Rasulullah, dimana ia merupakan sebuah sikap yang nampak dikerjakan oleh tubuh kita.

Tidaklah diterima tanpa keduanya. Terkadang kita melakukan sebuah amalan dengan ikhlas, tetapi meninggalkan ajaran Rasulullah atau tidak pernah dicontohkan oleh Beliau. Atau sebaliknya, kita mencontoh sunnah Beliau, tetapi melupakan keikhlasan dalam diri kita. Maka, semestinya kedua syarat ini terpenuhi, agar supaya sebuah amalan shalih diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Adapun makna dari ikhlas dan mutaba’ah, akan kita bahas di tulisan mendatang, insyaAllah.

(Ummu Faari’ )

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR