Bismillahirrahmanirrahiim ….

Sebaik-baik pujian hanya pantas untuk satu-satunya pencipta, Allah ‘Azza wa Jalla. Yang telah memberikan segala kemudahan dan fasilitas hidup di dunia. Baik hamba-Nya yang beriman, pun bagi yang tidak beriman. Dia-lah yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, pemilik alam semesta. Tempat kembalinya segala kehidupan kelak.

Salam dan shalawat kepada junjungan umat Islam, Nabi Allah dan Rasul-Nya. Telah berkorban demi umat beliau. Mengangkat derajat umat dari kehinaan jahiliyah ke mulianya ilmu. Beliaulah yang berhak diteladani, dijadikan contoh atas segala amanal yang kita perbuat.

Pada pembahasan yang lalu, kita sudah menjelaskan defenisi dan beberapa hal berkaitan dengan ikhlas. Sedikit mengulang, bahwa ikhlas adalah syarat bathin yang harus ada disebuah amalan, sebagai syarat diterimanya ia di sisi Allah. Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya DR. Ahmad Farid, setelah penjelasan akan ikhlas, maka pentingnya kita mengetahui keutamaan dari niat.
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab-radhiyallahu ‘anhu- berkata : “seutama-utama amalan adalah menunaikan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala wajibkan. Wara’ yaitu meninggalkan apa yang Allah subhanahu wa Ta’ala haramkan. Niat yang benar dalam meraih pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Melaksanakan amalan-amalan wajib adalah lebih utama dan harus diutamakan daripada mengerjakan amalan-amalan yang hukumya sunnah. Hal ini jangan sampai kita terjebak, membalikkannya. Mengutamakan amalan sunnah kemudian wajib. Bahkan, mengutamakan amalan yang mubah.  Semisal menuntut ilmu syar’I, dimana hukumnya wajib. Namun, kebanyakan umat Islam saat ini. Lebih mengutamakan menuntut ilmu selainnya. Yang hukumnya sunnah, atau mubah, bahkan ada yang haram sama sekali untuk dituntut, wallahul musta’anu.

Contoh lain adalah nafkah yang diberikan kepada keluarga adalah wajib daripada memberi infak kepada orang selain keluarga, maka ia harus didahulukan. Walaupun dengan memberi infak kepada orang lain juga memberi keutamaan atas seseorang, selama nafkah wajibnya telah ditunaikan.

Kemudian ‘Umar bin Khattab mengatakan, “ bersikap wara’ atau meninggalkan apa yang Allah subhanahu wa Ta’ala haramkan.” Perlu difahami bahwa, semua apa yang Allah haramkan maka, Dia akan memberi kemampuan atas hamba-hamba-Nya untuk meninggalkannya. Berbeda dengan ketika Dia memberi perintah, maka hamba menunaikannya sesuai kemampuannya. Tak semua mampu menunaikannya. Ini menunjukkan Maha Adil dan Pemurahnya Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasulullah- shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “ Dan apabila aku melarang kalian terhadap sesuatu, maka tinggalkanlah.” Maka mengandung arti, semua yang Allah haramkan, begitupula yang Rasul haramkan pasti kita mampu meninggalkannya. Sedang dalam persoalan perintah, maka diberi kebebasan melaksanakan sesuai kemampuan. Seperti, ketika kita tidak mampu shalat berdiri, maka dilaksanakan dengan duduk, berbaring, atau isyarat saja.

Yang ketiga, “Niat yang benar dalam meraih pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Karena amalan yang sempurna asalah amalan yang dilakukan dengan niat yang benar. Amalan inilah yang akan memperoleh pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berkata sebagian salaf ,” Berapa banyak amal yang kecil, menjadi besar dikarenakan niat. Dan berapa banyak amal yang besar, menjadi kecil dikarenakan niat.” Semisal menyingkirkan duri di jalan. Mudah, ringan. Tapi bisa menjadi besar karena niat yang benar. Sedang, jihad adalah amalan yang agung, tapi bisa menjadi kecil karena niat ingin dipuji. Begitupula amalan-amalan kecil lainnya, makan, minum, dll. Ketika niat kita benar dalam mengerjakannya, maka ia bisa bernilai besar sebagaimana amalan yang besar.

Yahya bin Abi Katsir berkata,” Belajarlah niat, pelajarilah niat, karena sesungguhnya niat itu lebih menyampaikan ke tujuan daripada amal.” Bisa jadi, sebuah amalan tidak sampai kepada Allah, karena kita tidak ikhlas. Namun, ketika kita berniat dengan benar, bahkan sebelum melakukan amalan, maka niat tersebut telah sampai dan bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu, bagaimana dengan niat. Apakah wajib di lafadzkan? Dari Ibnu ‘Umar-radhiyallahu ‘anhu- “beliau mendengar seseorang ketika berihram berkataAllahumma inni uridul hajja wal ‘umrata” ( ya Allah , saya hendak berhaji dan umrah,” maka Ibnu ‘Umar berkata, ”apakah engkau hendak memberitahu orang lain? Apakah engkau hendak mengabarkan kepada orang lain?.” Ini disebabkan niat adalah amalan hati. Maka tidak ada perintah untuk dilafadzkan. Cukup dalam hati saja. Bukankah Allah Maha Mengetahui?! Berbeda dengan ucapan ,”labbaika allahumma labbaik, labbaik allahumma bi hajjatin” atau “ labbaika allahumma bi ‘umratin” atau ketika haji qorin “ labbaika allahumma bi ‘umratin wa hajjatin”. Inilah talbiyah atau ihlal, dan bukan niat. Maka ia dilafadzkan.

  • MUTABA’AH

Berarti meneladani, mencontoh, mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam-, baik ucapan, perbuatan ataupun perkara-perkara yang didiamkan oleh Rasulullah–Shallallahu ‘alaihi wa Sallam-.

Dan mutaba’ah –sebagaimana yang telah kita jelaskan- merupakan syarat kedua diterimanya amalan.  Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- bersabda, ”Barangsiapa yang mengada-adakan, membuat perkara baru dalam urusan kami ( Islam), yang bukan bagian dari agama ini, maka amalan tersebut tertolak.

Riwayat Imam muslim, “Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.

Hadits ini terkandung dasar Islam yang agung. Sebagaimana hadits “innamal a’malu binniyaat” adalah amalan tergantung niatnya, menjadi timbangan amalan bathin. Maka, hadits diatas menjadi timbangan amalan lahir. Amalan yang tidak ada keihlasan tertolak, demikian pula malan yang tidak sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya pun tertolak.

Dalam QS. Al Hasyr : 7,

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

Dan apa yang datang dari Rasul kepada kalian, maka ambillah, dan apa yang Rasul larang bagi kalian, maka tinggalkanlah.”

Mutaba’ah juga merupakan bukti seorang hamba mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ali ‘Imran : 31,

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله

Katakanlah Muhammad, jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintai kalian.”

Ayat ini sekaligus menjadi ujian bagi hamba-hamba yang beriman, yang mengaku cinta kepada Allah, maka dia harus melakukan amalan-amalan yang berkesesuaian dengan sunnah Rasul-Nya.

Berkata Imam Az Zuhri, “Berpegang teguh dengan sunnah nabi adalah keselamatan.” Sunnah ibarat perahu Nabi Nuh-‘Alaihis salam-, siapa yang menaikinya akan selamat. Dan siapa yang meninggalkannya akan tenggelam dan binasa.

Berkata Sufyan , ”Ucapan tidak diterima kecuali dengan amalan ( dipraktekkan), dan perkataan dan perbuatan tidak akan istiqomah, tidak akan langgeng, kecuali didasari dengan niat( niat yang shalihah), dan tidak akan istiqomah ( tidak akan lurus ), perkataan, perbuatan, dan niat, kecuali dengan mengikuti sunnah Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”

Dan pembahasan ini ditutup oelh Syekh DR. Ahmad Farid dengan ucapan Ibnu Syaudzab, “Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas pemuda, yaitu apabila dia beribadah dengan diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikuti jalannya seorang ahli sunnah itu akan membawanya kepada sunnah.

Maka bisa disimpulkan, bahwa kesuksesan kita dalam beragama adalah ketika kita diberi taufiq dalam menuntut ilmu syar’I, baik secara formal maupun tidak. Lalu, kita memahaminya, dan segala perbuatan kita bersih dari hal-hal yang mengotorinya.

Pada pembahasan yang akan datang, kita akan memaparkan pentingnya ilmu dan ulama. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa meridhai tiap usaha kita, dan menjadikannya sebagai pemberat amalan di akhirat kelak. Allahumma Amin.

( Ummu Faari’ AR)

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR