بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  1. Memperingati Isra’ Mi’raj Bolehkah..?

Isra’ Mi’raj, banyak diantara kaum muslimin yang memperingatinya walaupun pada hakekatnya hal tersebut tidak disyariatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak pernah merayakannya begitupula para sahabat dan tidak satupun dinukil dari para salaf, namun peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat agung yang diabadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an.

2. Bantahan Terhadap Pemahaman Keliru

Dalam Surah Al Isra Allah Subhanahu wata’ala. 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Isra’ : 1)

Ayat ini menjadi bantahan bagi yang mengatakan bahwa :”Yang diperjalankan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah ruhnya bukan jasadnya”, ada yang mengatakan seperti mimpi , kita bantah :”Andaikan cuman mimpi maka tidak perlu Allah Subhanahu wata’ala memulai firmannya dengan “سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ”, dan mimpi adalah sesuatu yang biasa, ulama kita mengatakan bahwa yang diperjalankan adalah jasad dan ruh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan diperkuat lagi dengan pengingkaran kafir Quraisy, Andaikan Rasulullah mengatakan:”Saya bermimpi diperjalankan pada suatu malam dari masjidil haram ke masjidil Aqso, kemudian diangkat kelangit dan kembali  didunia sebelum fajar terbit, tentu mereka mengatakan bahwa itu hal yang biasa“. Olehnya karenanya dengan jasad dan ruh membuat orang kafir Quraisy begitu heran dan menganggap bukan sesuatu yang biasa.

3. Khilaf Para Ulama Tentang Waktu Isra’ Mi’raj

Walaupun hakekatnya peritiwa isra dan miraj terjadi khilaf dikalangan para ulama, Al Imam Al Suddi Rahimahullah menyebutkan peristiwa isra dan miraj itu terjadi di bulan dzulqa’dah , Al Imam Al Zuhri mengatakan isra dan miraj itu terjadi pada bulan rabiul Awwal, Imam Abdil Barr mengatakan isra dan miraj terjadi pada bulan rajab, begitupula dengan Imam An Nawawi Rahimahullah, Imam Al Waqidi mengatakan terjadi dibulan syawal dan ada yang mengatakan terjadi dibulan Ramadhan, ada yang mengatakan terjadi 6 bulan sebelum hijrah, ada yang mengatakan 9 bulan sebelum hijrah, ada yang mengatakan setahun sebelum hijrah, hal ini menunjukkan terjadi banyak khilaf dikalangan para ulama.

Faedah yang bisa kita ambil dari khilaf para ulama ini adalah bahwasanya tidak ada ibadah khusus  yang disyariatkan yang berkaitan dengan peristiwa isra dan miraj, kita membahasnya untuk mengambil ibrah atau pelajaran darinya yang merupakan peristiwa yang luar biasa yang terjadi pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan salah satu diantara mu’jizat yang  Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada beliau.

5. Rasulullah Menjadi Nabi dan Rasul Sebelum Isra’ Mi’raj

Isra dan miraj dialami langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diawal-awal dakwah beliau karena peristiwa ini terjadi di makkah, ketika Rasulullah melihat kondisi kaumnya dizaman jahiliyah yang jauh dari nilai akhlak yang baik, mereka mempertuhankan dan menyembah berhala – berhala yang menghiasi ka’bah pada waktu itu dan Rasulullah melihat fenomena dan kondisi tersebut  , beliau dibuat senang dan merenung sendiri , kita mengetahui bahwasanya sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul beliau mengasingkan diri digua hira untuk bertafakkur diwaktu malam karena waktu malam adalah waktu yang tenang untuk merenung, beliau kemudian merenung melihat kondisi dan keadaan yang terjadi pada kaumnya, sampai kemudian beliau didatangi oleh Jibril ‘alaihissalam dalam wujud aslinya, jibril datang memeluk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pelukan yang sangat kuat, kemudian jibril mengatakan :”Bacalah

Hikmah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dipeluk oleh malaikat jibril adalah karena sebelum Rasulullah mendapatkan wahyu beliau telah mendapatkan isyarat  tetapi isyarat tersebut beliau lihat dalam mimpi, setiap kali beliau bermimpi melihat cahaya terang diwaktu subuh, jibril memeluk Rasulullah untuk meyakinkan dan menyadarkan  bahwa itu bukan lagi mimpi melainkan hal tersebut adalah kenyataan. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengtaakan:”Saya tidak bisa membaca”, Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptkanmu, ayat ini turun untuk meresmikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi tetapi belum menjadi Rasul, setelah itu beliau kembali kerumahnya disambut oleh istrinya khadijah Rasulullah kembali dengan keadaan menggigil dengan mengatakan:”Selimuti saya, selimuti saya, selimuti saya”, Khadijah berkata:”Demi Allah wahai suamiku, Allah tidak akan menghinakanmu, engkau adalah orang yang selalu menyambung tali silaturrahim, memuliakan tamu, engkau adalah orang yang selalu memikul beban orang lain, menolong orang lain”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul akhlaknya sudah sangat mulia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasllam setelah menerima wahyu yang pertama wahyu kemudian terputus dan beliau telah bertemu dengan paman Khadijah yang bernama Waraqa bin Naufal salah seorang lelaki tua yang telah membaca taurat ketika disampaikan kepadanya tentang apa yang dialami oleh Rasulullah beliau mengatakan:”Ini adalah malaikat yang juga datang kepada Musa ‘Alaihissalam”, Waraqa bin Naufal mengatakan:”Bersiap siaplah engkau akan diusir oleh kaummu, dan andaikan saya hidup dimasa itu saya akan menjadi pembela dan penolongmu”. Hal ini menunjukkan bahwasanya Waraqa bin Naufal seorang muslim yang membela kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”, tidak lama kemudian turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (٤) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (٥

“Wahai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji”. (QS. Al Mudatsir: 1-5). Ayat ini meresmikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi rasul , turun juga surah Al Muzammil, disinilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mulai berdakwah, tetapi dakwah secara sembunyi-sembunyi sampai kemudian datang perintah dari Allah Subhanahu wata’ala untuk beliau berdakwah secara terang-terangan.

6. Ujian Berat diawal Dakwah Terang – Terangan Rasulullah

Firman Allah Subhanahu wata’ala yang terdapat dalam surah Asy Syu’ara  pada ayat 214:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat“. (QS. Asy Syu’ara : 214).

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (QS. Al Hijr : 94).

Setelah perintah ini turun kepada Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam maka naiklah beliau ke Jabal Safa, beliau memanggil Qabilah yang masih ada hubungan kerabat dengan beliau, datanglah mereka dan siap untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau kemudian berseru:”Jika saya sampaikan kepada kalian akan ada pasukan yang  siap menyerang kalian dibalik bukit ini, apakah kalian percaya kepadaku”, mereka berkata:”Tentu wahai muhammad, kami  tidak  pernah  mendapati  engkau  berdusta”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan dengan berkata:”Saya ini adalah utusan Allah yang diutus ditengah – tengah kalian”, disinilah awal dakwah Rasulullah menyeru kepada kaumnya untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala, dan yang pertama menentang beliau adalah pamannya sendiri yaitu Abu Lahab , Abu lahab mengatakan:”Celakah engkau muhammad hanya mendengarkan ocehanmu engkau mengunpulkan kami seperti ini , kami meninggalkan aktifitas kami hanya untuk mendengarkan ocehanmu”, maka turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala yang menerangkan kecelakaan bagi Abu Lahab, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Subhanahu wata’ala yang artinya:

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa, tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari sabut”. (QS. Al Lahab : 1-5)

Dari sinilah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mulai mendapatkan penindasan dari kaumnya bahkan Utbah bin Abi Mu`id mendoakan kebinasaan kepada Rasulullah , walaupun mereka belum berani  terang – terangan dan mereka juga tidak berani mengancam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena Abu Thalib pada waktu itu masih hidup sebagaimana kita ketahui kecintaan Abu Thalib kepada muhammad lebih dari pada anaknya sendiri, Abu Thalib memiliki tempat duduk yang tidak ada seorangpun yang berani duduk ditempat tersebut termasuk anak beliau sendiri akan tetapi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang duduk beliau membiarkannya dan terkadang beliau menempatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditempat duduknya, walupun Abu Thalib diakhir hidupnya beliau tidak beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan beliau dimasukkan kedalam neraka yang siksaannya ringan.

Kemudian Khadijah istri beliaupun meninggal dunia dan semakin mempersempit beliau bersama dengan para sahabat di kota makkah pada waktu itu, akhirnya beliau mencari tempat yang lain yang diharapkan dakwahnya bisa diterima, beliau kemudian berangkat ke thaif untuk berdakwah akan tetapi yang beliau dapatkan disana adalah lemparan batu oleh orang – orang thaif bersama dengan anak mereka sehingga menyebabkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terluka dan mengucurkan darah dari tubuh beliau.

7. Allah Menolong Rasulullah dengan Doanya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dari kota Thaif dalam keadaan bersedih dan diantara doa yang beliau panjatkan walupun di dhoifkan oleh sebagian para ulama dan dihasankan oleh ulama yang lain, beliau berdoa :

اللهمّ إليك أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، أنتَ ربُّ المستضعفين وأنت ربّي، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى بعيدٍ يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك هي أوسع لي، أعوذ بنور وجهِك الذي أشرقتْ له الظّلمات، وصَلَح عليه أمر الدّنيا والآخرة من أن تُنْزِل بي غضبَك، أو يحلّ عليَّ سخطك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوّة إلا بك

Ya Allah, kepadaMu ku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Wahai Dzat Paling Penyayang, Engkaulah Tuhan orang yang ditindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada orang asing yang akan menyerangku ataukah kepada musuh yang menguasai aku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Namun afiat-Mu sudah cukup buatku. Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan teratur segala urusan dunia dan akhirat di atasnya, daripada Engkau menurunkan kemarahan-Mu kepadaku atau Engkau murka kepadaku, KepadaMulah aku tetap merayu sehingga Engkau ridha. Tiada daya (untuk melakukan kebaikan) dan tiada upaya (untuk meninggalkan kejahatan) kecuali dengan petunjukMu. (HR. Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir: 13/73 dan dihassankan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya: 7/267).

Setelah beliau berdoa maka datanglah pertolongan Allah Subhanahu wata’ala diantara pertolongan tersebut:

  1. Datang malaikat jibril memberi salam kepada Nabi dan berkata:”Wahai Muhammad bersama saya malaikat penjaga gunung”, Malaikat gunung mengatakan:”Assalamu ‘alaikum wahai muhammad, jika engkau inginkan aku timpakan penduduk thaif dua gunung , perintahkan kepadaku apapun yang engkau mau wahai muhammad”, tapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Nabi yang penuh dengan kasih sayang beliau tidak pernah dendam dengan ummatnya , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Jangan, saya berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang yang mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala, doa beliau kemudian terkabul”, kota thaif sekarang terkenal dengan penghafal Al-Qur’annya.
  2. Setelah beliau ditolak dari kalangan manusia maka datanglah dari kalangan jin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendengarkan dakwahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
  3. Setelah dakwahnya ditolak dari kalangan manusia maka datanglah undangan dari Allah Subhanahu wata’ala sekaligus Allah Subhanahu wata’ala menghibur beliau.

6. Peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah 

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:“(Jibril) telah datang kepadaku bersama Buraq, yaitu hewan putih yang tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari kuda, yang dapat meletakkan kakinya (melangkah) sejauh pandangannya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka aku menaikinya hingga sampailah aku di Baitul Maqdis, lalu aku turun dan mengikatnya dengan tali yang biasa dipakai oleh para Nabi.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Kemudian aku masuk ke masjid al-Aqsha dan aku shalat dua raka’at di sana, lalu aku keluar. Kemudian Jibril Alaihissallam membawakan kepadaku satu wadah khamr dan satu gelas susu, maka aku memilih susu, lalu Jibril berkata kepadaku: ‘Engkau telah memilih fitrah (kesucian).’”

(Beliau diperjalankan dari Rumahnya Ummu Hani kota haram, beliau dibedah selama 2 kali dibedah pertama kali ketika dirumahnya Halimah Assa’diyah, dikeluarkan hati beliau  kemudian dicuci dengan air zam-zam, kemudian kedua beliau dibedah sebelum di isra’ mi’rajkan, beliau diperjalankan ke Baitul Maqdis (palestina) dari situlah beliau diangkat kelangit_Penj).

Lanjut beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kemudian Buraq tersebut naik bersamaku ke langit, maka Jibril meminta agar dibukakan pintu langit”, lalu ia ditanya: “Siapa engkau?”,Jibril menjawab: “Jibril.” Jibril ditanya lagi: “Siapakah yang bersamamu?”, Jibril menjawab: ‘Muhammad.”, Jibril ditanya lagi: “Apakah dia telah diutus?” Ia menjawab:”Dia telah diutus.” Kami pun dibukakan pintu lalu aku bertemu (Nabi) Adam ‘Alaihissallam. Beliau menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku. Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit kedua, maka Jibril ‘Alaihissallam mohon dibukakan pintu, lalu ia ditanya: “Siapa engkau?”, Ia menjawab: “Jibril.” Ia ditanya lagi: “Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: “Muhammad.” Ia ditanya lagi: “Apakah dia telah diutus kepada-Nya?”, Jibril menjawab: “Dia telah diutus.’” Kata Nabi: “Maka kami dibukakan pintu lalu aku bertemu dengan dua orang sepupuku, yaitu “Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria Alaihimussallam, maka keduanya menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku”.

(Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan):Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit kedua, maka Jibril ‘Alaihissallam mohon dibukakan pintu, lalu ia ditanya: “Siapa engkau?”, Ia menjawab: “Jibril.” Ia ditanya lagi: “Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: “Muhammad.” Ia ditanya lagi: “Apakah dia telah diutus kepada-Nya?”, Jibril menjawab: “Dia telah diutus.’” Kata Nabi: “Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu Nabi Yusuf Alaihissallam yang telah dianugerahi setengah dari ketampanan manusia sejagat.” Kata Nabi: “Maka Yusuf menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.”

(Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan): Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit kedua, maka Jibril ‘Alaihissallam mohon dibukakan pintu, lalu ia ditanya: “Siapa engkau?”, Ia menjawab: “Jibril.” Ia ditanya lagi: “Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: “Muhammad.” Ia ditanya lagi: “Apakah dia telah diutus kepada-Nya?”, Jibril menjawab: “Dia telah diutus.’” Kata Nabi: “Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu Idris Alaihissallam, ia menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman (untuknya): ‘Dan kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.’”

(Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan):Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit kedua, maka Jibril ‘Alaihissallam mohon dibukakan pintu, lalu ia ditanya: “Siapa engkau?”, Ia menjawab: “Jibril.” Ia ditanya lagi: “Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: “Muhammad.” Ia ditanya lagi: “Apakah dia telah diutus kepada-Nya?”, Jibril menjawab: “Dia telah diutus.’” Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu dengan Nabi Harun Alaihissallam, ia menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.”

(Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan): Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit kedua, maka Jibril ‘Alaihissallam mohon dibukakan pintu, lalu ia ditanya: “Siapa engkau?”, Ia menjawab: “Jibril.” Ia ditanya lagi: “Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: “Muhammad.” Ia ditanya lagi: “Apakah dia telah diutus kepada-Nya?”, Jibril menjawab: “Dia telah diutus.’” Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu dengan Musa Alaihissallam, lalu ia menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.”

(Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan): “Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit kedua, maka Jibril ‘Alaihissallam mohon dibukakan pintu, lalu ia ditanya: “Siapa engkau?”, Ia menjawab: “Jibril.” Ia ditanya lagi: “Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: “Muhammad.” Ia ditanya lagi: “Apakah dia telah diutus kepada-Nya?”, Jibril menjawab: “Dia telah diutus.’” Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu dengan Ibrahim Alaihissallam, yang sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur, di mana tempat itu setiap harinya dimasuki oleh 70.000 Malaikat dan mereka tidak kembali lagi sesudahnya.”

(Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan): “Kemudian Buraq tersebut pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha yang (lebar) dedaunnya seperti telinga gajah dan (besar) buah-buahnya seperti tempayan besar.” Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tatkala perintah Allah memenuhi Sidratul Muntaha, maka Sidratul Muntaha berubah dan tidak ada seorang pun dari makhluk Allah yang bisa menjelaskan sifat-sifat Sidratul Muntaha karena keindahannya. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberiku wahyu dan mewajibkan kepadaku shalat lima puluh kali dalam sehari semalam.”

(Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan): “Kemudian aku turun dan bertemu Musa ‘Alaihissallam, lalu ia bertanya: ‘Apa yang diwajibkan Rabb-mu terhadap ummatmu?’ Aku menjawab: ‘Shalat lima puluh kali.’ Dia berkata: ‘Kembalilah kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Sesungguhnya aku telah menguji bani Israil dan aku telah mengetahui bagaimana kenyataan mereka.’”

Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku akan kembali kepada Rabb-ku.” Lalu aku memohon: “Ya Rabb, berilah keringanan kepada ummatku.” Maka aku diberi keringanan lima shalat. Lalu aku kembali kepada Musa ‘Alaihissallam kemudian aku berkata padanya: “Allah telah memberiku keringanan (dengan hanya) lima kali.” Musa mengatakan: “Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu melakukan hal itu, maka kembalilah kepada Rabb-mu dan minta-lah keringanan.”

Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam berkata: “Aku terus bolak-balik antara Rabb-ku dengan Musa ‘Alaihissallam sehingga Rabb-ku mengatakan:

يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ خَمْسُوْنَ صَلاَةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً.

“Wahai Muhammad, sesungguhnya kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari semalam, setiap shalat mendapat pahala sepuluh kali lipat, maka lima kali shalat sama dengan lima puluh kali shalat. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan, lalu ia tidak melaksanakannya, maka dicatat untuknya satu kebaikan, dan jika ia melaksanakannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa berniat melakukan satu kejelekan namun ia tidak melaksanakannya, maka kejelekan tersebut tidak dicatat sama sekali, dan jika ia melakukannya maka hanya dicatat sebagai satu kejelekan.’”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Kemudian aku turun hingga bertemu Musa ‘Alaihissallam, lalu aku beritahukan kepadanya, maka ia mengatakan: ‘Kembalilah kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan lagi.’” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Lalu aku menjawab: “Aku telah berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya.’”

Diantara yang disaksikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Isra’ Mi’raj adalah:

  1. Beliau melihat sebuah sungai bagian dalam dan sungai bagian luar, Rasulullah berkata:”Apa ini wahai jibril”, Jibril menjawab:”Adapun sungai yang ada didalam adalah sungai didalam Surga adapun sungai yang berada diluar itu adalah sungai nil dan furad yang asalnya dari surga”.
  2. Kemudian Rasulullah diperlihatkan tempat tawafnya para malaikat dilangit dunia dan beliau mendapai Ibrahim ‘Alaihisssalam bersandar dibaitul makmur dan baitul makmur masuk didalamnya 70 ribu malaikat yang setiap harinya tawaf, berdzikir, bertasbih.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Tidak melihat Allah Subhanahu wata’ala secara langsung , ketika Rasulullah ditanya:”Apakah engkau melihat tuhanmu Ya Rasulullah ketika isra dan miraj, beliau berkata:”Ada cahaya yang menghalangi  pandanganku, jadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melihat Allah secara langsung akan tetapi beliau mendengarkan langusung wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana yang dialami oleh Nabi Musa dan Nabi Adam ‘Alaihissalam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peristiwa Isra’ Mi’raj diundang langsung oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk menerima perintah sholat dan diakhir zaman manusia banyak menyia – nyiakan perintah sholat tersebut sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (QS. Maryam: 59-60).

Setelah itu Rasulullah kembali kedunia dan keesokan harinya datang Jibril ‘Alaihissalam kepada Rasulullah untuk mengajarkan Rasulullah tata cara mengerjakan sholat dan menjelaskan kepada beliau waktu – waktu sholat, Jibril mengimami Rasulullah selama 2 hari, pada awal waktu dan dihari berikutnya diakhir waktu untuk menjelaskan secara rinci perintah sholat yang beliau terima diatas langit.

6. Rasulullah Kembali Dipermalukan Oleh Kaumnya 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kembali kerumahnya diwaktu pagi beliau keluar dan berjumpa dengan Abu Jahal ia melihat ada sesuatu yang aneh dari Rasulullah, Abu Jahal berkata:”Ada sesuatu wahai Muhammad yang hendak engkau sampaikan?”, Rasulullah berkata:”Ia, semalam saya diperjalankan dari makkah kemudian ke baitul maqdis dan diangkat kelangit dan kembali sebelum fajar”, Abu Jahal berkata:”Apakah engkau mau sampaikan hal ini jika aku kumpulkan orang – orang”, Rasulullah berkata:”Silahkan kumpulkan”,  disinilah Abu Jahal mengambil kesempatan untuk mempermalukan Rasulullah, akhirnya dikumpulkanlah orang – orang Rasulullah kemudian menceritakan perjalanan Isra’ Mi’raj beliau, kemudian ada yang mengetes Rasulullah dengan  berkata:”Bagaimana kondisi masjidl Aqso, pada waktu itu”, Nabi tiba diwaktu malam belum sempat melihat kondisi dan keadan masjidil Aqso dan bangunannya akan tetapi kembali diangkat dan diperlihatkan sehingga beliau menjawab dengan benar ujian dan pertanyaan mereka.   Sebagian mereka berkata:”Muhammad memang gila”, dan yang tidak bisa dilupakan dalam peristiwa ini adalah ketika disampaikan kepada Abu Bakar As Shiddiq, mereka berkata:”Wahai Abu Bakar orang ini Muhammad yang engkau ikuti sudah gila, dia berkata:”Diperjalankan satu malam dari masjidil haram ke masjidil aqso dan kembali semalam sebelum fajar“, Abu Bakar As Shiddiq berkata:”Apakah benar ia mengatakan demikian, jika beliau yang mengatakan saya percaya, lebih dari itu saya sudah percaya, saya percaya Allah menurunkan wahyu kepadanya”. Akhirnya beliau diberi gelar Abu Bakar As Shiddiq.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 13 Sya’ban 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR