بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sering kita membaca doa:

اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka”. (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690)

 

Semua kita ingin bahagia, kita keluar diwaktu pagi mencari nafkah kemudian pulang disore hari atau dimalam hari tiada lain adalah bagaimana kita ingin mendapatkan kebahagiaan. Apakah hakekat kebahagiaan itu ?, apakah dengan banyaknya harta, menggapai puncak karir penjalanan hidup, menjadi orang yang terkenal atau memiliki segala – galanya kita telah mendapatkan kebahagiaan atau diberi sebutan bahagia.

Salah seorang pengusaha pernah curhat kepada ustadz dan dia juga menyampaikan apa yang dialami oleh tamannya, dia sangat kaya raya namun dia berkata:”Walaupun segala hal yang Allah berikan kepadaku dari dunia dan isinya, dimana apa saja yang saya mau diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala namun saya tidak menikmati semua apa yang saya miliki”,

Dia bisa membeli ranjang yang mahal tetapi dia tidak bisa menikmati lezatnya tidur, dia bisa berobat dimana pun ia mau atau bahkan sampai ke luar negeri namun dia tidak bisa membeli kesembuhan, akhirnya orang ini menangis, hal ini bukan hanya satu atau dua orang yang mengalami hal tersebut akan tetapi banyak hanya saja tidak diketahui oleh orang lain karena terkadang orang – orang kaya banyak curhat kepada ustadz atau kiai.

Kisah diatas menjadi contoh atau dalil bahwasanya kebahagian itu bukan semata –mata ketika kita telah mendapatkan dunia beserta isinya, akan tetapi kebahagiaan letaknya didalam hati dan jiwa ketika seseorang merasakan ketenangan didalam hidupnya, kebahagiaan bukan hanya dzahirnya (nampak) akan tetapi bagaimana ia bisa menikmati apa yang Allah berikan kepadanya.

Tips untuk meraih kebahagiaan

Kata salah seorang ulama:”Alamat kebahagiaan itu diraih dan didapatkan pada 3 hal:

  1. Bersyukur dari setiap nikmat yang Allah berikan

Terkadang kita menangisi sesuatu yang tidak bisa kita raih padahal kita bisa memiliki sesuatu yang tidak bisa dimilki oleh orang lain , Allah memberikan kepada kita akal dan sebagian manusia ada yang gila, Allah memberikan kepada kita penglihatan dimana sebagian manusia ada yang buta tidak bisa melihat, Allah memberikan kepada kita lisan untuk berbicara dan sebagian manusia ada yang bisu, Allah memberikan kepada kita pendengaran dan disana banyak orang yang tuli tidak bisa mendengar, Allah memberikan kepada kita 2 kaki untuk berjalan dimana banyak orang yang lumpuh tidak bisa bergerak kecuali dengan bantuan orang lain, Allah memberikan kepada kita kesehatan dan disana banyak orang yang sakit.

Nikmat baru terasa ketika dicabut dan diambil oleh Allah Subhanahu wata’ala, nimat sehat akan terasa ketika kita sakit, nikmat kekayaan kita rasakan ketika Allah mencabut kekayaan dari kita kemudian kita menjadi fakir dan miskin, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Salah seorang penyair berkata:”Kesehatan itu salah satu mahkota yang tidak bisa dilihat oleh orang lain kecuali orang yang sakit”, keindahan mahkota kesehatan hanya bisa dilihat oleh orang – orang yang sakit. Oleh karenanya sempatkan waktu luang kita untuk berkunjung ke rumah sakit agar kita banyak meninggat nikmat Allah Subhanahu wata’ala.

Inilah kunci kebahagiaan yang sebenarnya ketika kita senantiasa Qana’ah (Merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada kita) dan inilah yang menjadi alamat kebahagiaan sebagaimana yang dikemukakan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu: alamat ketakwaan ada 4

الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ وَاْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ وَالرِّضَا بِالْقَلِيْلِ

“Takut kepada Allah yang Maha Mulia, mengamalkan apa yang termuat dalam at tanzil (Al-Qur’an), mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia dan ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit)”. Pada point yang terakhir merasa cukup dengan yang sedikit, sedikit yang disyukuri itu lebih baik dari pada banyak tapi dikufuri, sedikit tapi membuat kita ingat kepada Allah dari pada banyak namun membuat kita lupa kepada Allah Subhanahu wata’ala . Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup“. (QS. Al-Alaq :6-7).

Nikmat adalah merupakan titipan dari Allah Subhanahu wata’ala yang suatu saat akan dicabut oleh Allah, oleh karenanya milikilah sifat rasa syukur tersebut maka kita akan bahagia.

Hendaknya engkau ridho dengan apa yang Allah berikan kepadamu maka engkau akan menjadi orang yang paling kaya didunia, walaupun kita telah memilliki segala sesuatunya namun jika tidak pernah merasa cukup maka sesungghnya dia adalah orang yang fakir dan miskin. Bukan berarti kita tidak mencari rezeki atau bekerja melainkan islam menyuruh kita untuk bekerja, islam menyuruh kita untuk beraktifitas, mencari keutamaan Allah dipermukaan bumi ini.

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (QS. Al Qashshash: 77).

Islam adalah agama yang seimbang dan pertengahan, Rasulullah bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ….

“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih.” (HR. Ahmad 4/197. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim). Jika harta jatuh kepada orang yang baik maka ia akan salurkan kepada hal yang baik – baik, sahabat-sahabat Rasulullah banyak yang terkenal dengan kekayaannya seperti Abu Bakar as-Shiddiq, Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Khadijah bintu Khuwailid. Silahkan menjadi orang yang kaya raya akan tetapi dalam mencari harta hendaklah bersyukur dengan apa yang kita dapatkan walaupun sedikit, banyak disykuri dan sedikit juga disyukuri. Allah memberikan kepada kita rezeki sedikit maka bersyukur dan cara bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah dengan selalu melihat ke bawah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadist yang lain:

إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Berlomba dalam urusan akhirat, pelan dalam urusan dunia 

Jika kita ingin tadabburi Al-Qur’an, Allah memerintahkan kita berlomba dalam urusan akhirat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Berlomba-lombalah dalam kebaikan”. (QS. Al Baqarah: 148).

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”. (QS. Al Muthoffifin: 26).

Dihari jumat kita diperintah oleh Allah untuk bersegera menuju masjid. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui“. (QS. Jumuah :9).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“. (QS. Ali Imran : 133).

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS. Al Hadiid: 21)

Adapun dalam urusan dunia Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan“. (QS. Al-Mulk: 15).

Jangan diperbudak oleh dunia, silahkan dunia kita miliki akan tetapi cukuplah dunia berada ditangan kita dan jangan dimasukkan ke dalam hati. Salah satu doa seorang salaf adalah:

“Ya Allah jadikan dunia ditanganku dan jangan engkau jadikan dunia didalam hatiku”,  karena kapan dunia ditangan kita maka kita yang akan mengaturnya akan tetapi jika dunia berada didalam hati kita maka kita yang akan diatur oleh dunia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah”. (HR. Bukhari).

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”. (QS. At Takatsur: 1-2).

Harta yang kita kumpulkan hanya didunia semata namun kita tidak bisa membawanya ke negeri akhirat, akan tetapi jika orang kaya diberi ilmu oleh Allah maka ia akan tahu bahwa harta yang ia miliki, harta yang ia kumpulkan tidak bisa ia bawa mati sehingga ia kirim dari sekarang didunia ini dengan cara banyak bersedekah dan berinfak dijalan Allah Subhanahu wata’ala, sehingga harta yang ia infakkan akan ia nikmati pada hari kiamat.

Jadi kita diperintahkan dalam urusan akhirat untuk berlomba adapun dalam urusan dunia kita diperintahkan untuk pelan – pelan, Imam Hasan al Basri mengatakan:

Jika engkau melihat ada orang yang berusaha menyaingimu dalam urusan dunia maka saingi dia dalam urusan akhirat“.

Sekarang kita bisa melihat bagaimana orang – orang saling mempersilahkan dalam urusan akhirat , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

Seandainya manusia mengetahui apa yang ada (yaitu keutamaan) di dalam seruan (adzan) dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa mendapatkan shaf tersebut kecuali dengan undian, sungguh mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya”. (HR. Bukhari 580).

Hal ini menjadi kenyataan ketika dimasjid orang – orang saling mempersilahkan agar menempati shaf pertama.

Dalam urusan dunia jika ada pembagian sembako rela antri begitupula dengan menonton pertandingan sepak bola rela antri demi mendapatkan karcis, berdiri dengan satu kaki hanya untuk teriak memberikan dukungan kepada club yang ia cintai.

Bersyukur memiliki 3 rukun:
  1. Bersyukur dengan lisan yaitu banyak mengucapkan Alhamdulillah dari setiap nikmat yang Allah berikan
  2. Bersyukur dengan hati yaitu meyakini bahwa semua nikmat datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala. Allah berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (QS. An Nahl: 53).

  1. Bersyukur dengan anggota tubuh bagaimana caranya, yaitu nikmat yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kita digunakan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, jangan sampai digunakan didalam kemaksiatan sehingga nikmat yang Allah berikan kepada kita justru menjadi boomerang pada hari kaimat , Allah berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.  (QS. At Takatsur: 8).

Bersambung (3 Kunci Kebahagiaan Dunia Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 15 Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.