بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tidak ada satupun manusia didunia ini kecuali dia sedang mencari dan mengharapkan kebahagian yaitu :”Kebahagiaan didunia yang fana dan terlebih lagi kebahagiaan diakhirat yang kekal abadi, namun seorang mukmin lebih mendahulukan kebahagiaan akhirat”.

Firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.(QS. Al A’laa: 17).

Berkata Imam Ibnul Qayyim Jauziah Rahimahullahu Ta’ala dan juga perkataan dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab beliau Al-Qowa’idul Arba’ah  beliau sebutkan 3 ciri atau tanda kebahagiaan seorang muslim:

  1. Bersyukur Ketika Diberi Nikmat

Semua manusia diberikan nikmat oleh Allah Subhanahu wata’ala dan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah nikmat iman dan islam karena dengan sebab nikmat tersebut kita mampu melakukan keta’atan dan ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karna itu ketika penduduk surga menginjakkan kaki pertama mereka di dalam surga mereka mengucapkan:

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّـهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَـٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّـهُ

Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah  kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami(QS. Al-A’raaf: 43).

Seorang hamba tidak akan mampu menghitung nikmat Allah Subhanahu wata’ala. Allah Azza wa jalla  berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).(QS. Ibrahim: 34).

Para ulama mengatakan:”Seseorang tidak akan dikatakan hamba yang pandai bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala kecuali dia mengumpulkan 3 bentuk kesyukuran.

  1. Bersyukur dengan hati

Bersyukur dengan hati dengan meyakini bahwasanya segala nikmat itu datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala dan tidak ada satupun nikmat kecuali datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala. Allah Ta’ala Berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”.(QS. An Nahl : 53). Ketika pertama kali mendapatkan suatu nikmat maka pertama kali yang harus dilakukan adalah bersyukur dengan hati lalu kembalikan kepada Allah bahwanya kita dapat merasakan nikmat tersebut kecuali taufik dari Allah Subhanahu wata’ala.

  1. Bersyukur dengan lisan

Diantara cara bersyukur dengan lisan selain memuji Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat tersebut adalah dengan menceritakan nikmat tersebut kepada orang lain dalam rangka untuk bersyukur kepada Allah bukan untuk berbangga dengan nikmat tersebut kepada manusia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Adapun mengenai nikmat Rabbmu, maka ceritakanlah”. (QS. Adh-Dhuha:11).

Namun hendaknya tidak menceritakan kepada setiap orang akan tetapi ceritakanlah kepada orang yang kita percaya dan kenal dengan sifat dan akhlaknya serta keimanannya kepada Allah Subhanahu wata’ala agar nikmat yang kita ceritakan tersebut tidak membuat seseorang menjadi hazad dan dengki. Sebagaimana Kisah Yusuf Alaihissalam dalam Firman Allah Subhanahu wata’ala yang artinya:

Ingatlah tatkala yusuf berkata kepada ayahnya”Wahai ayahku sungguh aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan kulihat semuanya sujud kepadaku”. (QS. Yusuf: 4).

Dia ayahnya berkata:”Wahai anakku janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakanmu, sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia”.(QS. Yusuf : 5).

  1. Bersyukur dengan anggota tubuh mengerjakan amalan sholeh dan keta’atan kepada Allah Subhanahu wata’ala .

Puncak dari kesyukuran adalah beramal dengan anggota tubuh dengan menggunakan nikmat tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala , didalam Al-Qur’an ketika Allah berbicara kepada Nabi daud Alaihissalam dimana Nabi Daud Alaihissalam diberikan kerajaan oleh Allah Subhanahu wata’ala gunung dan burung – burung ikut bertasbih bersamanya, lalu Allah perintahkan untuk bersyukur dengan beramal sholeh , sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Wahai keluarga Dawud beramallah sebagai bentuk syukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali di antara para hamba-Ku yang bersyukur”.(QS. Saba’: 13).

Begitu pula dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabatnya dalam perang badar dimana jumlah kaum muslimin sebanyak 314 melawan 1000 pasukan kafir dan akhirnya kaum muslimin menang setelah itu Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan kaum muslimin bahwa kemenangan pada perang badar adalah salah satu nikmat yang besar yang harus disyukuri kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.”(QS. Ali Imran: 123).

Di kisahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala sampai kaki beliau bengkak sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata:

“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat, beliau berdiri hingga kedua telapak kaki beliau merekah, lalu ‘Aisyah bertanya, ‘Kenapa engkau melakukan semua ini, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-dosa-mu yang telah lalu dan yang akan datang?’ Lalu beliau menjawab:

أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur”.(HR. Al-Bukhari).

kata para ulama semua nikmat yang tidak bisa mendekatkan diri kita kepada Allah Azza Wa Jalla ketahuilah bahwasanya itu bukan nikmat tetapi dia adalah bala atau musibah.

  1.  Bersabar Ketika Ditimpa Musibah (cobaan).

Firman Allah Subhanahu wata’ala:

نَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az-Zumar : 10).

Bersabar tebagi menjadi 3 yaitu:

  1. Bersabar diatas ketaatan

Bersabar dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala seperti sholat dan amalan ibadah yang lainnya dalam rangka meningkatkan ketakwaan disisi Allah Subhanahu wata’ala

Seorang Syaikh pernah ditanya tentang bagaimana cara terbaik agar kita selalu berada diatas keta’atan dan kita menjauhi kemaksiatan dan dosa, beliau mengatakan:”ketika datang rasa malas untuk melakukan keta’atan, katakan kepada diri kita rasa capek yang di dapatkan ketika melakukan keta’atan akan segera hilang dan tinggallah pahalanya disisi Allah Subhanahu wata’ala begitu pula ketika jiwa dan hawa nafsu ketika datang syaithan yang menggoda untuk melakukan perbuatan maksiat katakan kepada diri kita kelezatan dan kenikmatan maksiat akan hilang dan akan tetap dituliskan dosa-dosanya”.

  1. Bersabar menjauhi maksiat

Syaikh abdul aziz bin baz Rahimahullah pernah ditanya tentang hadits larangan berjalan dengan memakai satu sendal sebagaimana hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيعًا

Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan hanya memakai satu sandal. Pakailah keduanya (sepasang) atau jangan memakai sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 5408 dan Muslim no.2097). Syaikh kemudian mengatakan dzahir dari hadist ini adalah menunjukkan larangan seseorang berjalan dengan menggunakan satu sandal haram hukumnya kata beliau, kemudian orang tersebut bertanya lagi wahai syaikh terkadang kita meletakkan sandal berdampingan kiri dan kanan tetapi ketika kita datang ingin memakai sandal tersebut sudah terpisah jauh apakah boleh saya memakai yang kanan lalu saya berniat untuk mengambil yang kiri ?, Syaikh mengatakan:”tidak boleh, hendaklah memakai keduanya atau melepas keduanya”, kemudian ia bertanya lagi:”Syaikh meskipun cuman satu langkah ?”, Syaikh abdul aziz bin baz mengatakan:”Berusahalah agar engkau tidak bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala meskipun satu langkah”.

  1. Bersabar atas takdir  Allah Subhanahu wata’ala

Kita diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk berusaha adapun hasilnya dikembalikan kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai bentuk takdir kepada Allah Subhanahu wata’ala.

  1. Memohon Ampun Pada Allah Ketika Telah Terjerumus Dalam Dosa.

Semua manusia pernah terjatuh dalam kesalahan dan dosa sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”. (HR Tirmidzi).

Dan bahkan orang yang senantiasa bertaubat kepada Allah akan dijanjikan surga, Allah Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa(QS. Ali Imran: 133).

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135) Bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk menggapai kebahagiaan didunia dan akhirat

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadist Qudsi:

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ

Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ [Ya Allah, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni (maksudnya: selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu, pen).”( HR. Muslim no. 2758).

Jangan berputus asa dari Rahmat Allah Subhanahu wata’ala. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَه

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabb-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya”. (QS. Az-Zumar: 53-54).



Oleh : Ustadz Khalid Walid, Lc, Hafidzahullahu Ta’ala (Alumni Fakultas Hadist Universitas Islam Madinah).

@Masjid Nurul Hikmah_MIM

Senin, 21 Safar 1438 H

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCIGoaFDkENVOY187i92iRqA

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

Tumblr : https://www.tumblr.com/blog/markaz-imam-malik

ID LINE : mim.or.id

PIN BBM : D23784F8

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.