mim.or.id – Tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, tetapi keyakinan yang harus tercermin dalam seluruh sikap, ibadah, dan orientasi hidup.
Para penjaga tauhid senantiasa berusaha memurnikan penghambaan hanya kepada Allah, menjauhi segala bentuk kesyirikan, serta berpegang teguh pada petunjuk-Nya di tengah berbagai ujian dan godaan.
Timbangan yang Mengalahkan Segala Dosa
Pada hari kiamat, terdapat kisah tentang seorang hamba yang didatangkan dengan 99 catatan amalan yang penuh noda dan dosa.
Ketika ia merasa dirinya telah binasa di depan timbangan amal, Allah mengeluarkan selembar catatan kecil bertuliskan kalimat tauhid Laa ilaha illallah.
Ketika diletakkan di daun timbangan yang lain, satu catatan tauhid tersebut langsung mengalahkan beratnya seluruh catatan keburukan yang pernah ia lakukan.
Baca Juga: PQ Putra MIM Meriahkan Kemerdekaan dengan Perlombaan
Jaminan Keamanan dan Ketenangan
Orang yang memurnikan tauhidnya dan menjauhkan diri dari kesyirikan (kezaliman terbesar) dijanjikan keamanan mutlak oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
Di dunia, ia merasa aman karena hatinya hanya bergantung, takut, dan beribadah kepada Allah semata.
Sebaliknya, orang yang menggantungkan hatinya pada benda-benda keramat atau selain Allah akan selalu dilingkupi rasa cemas dan ketakutan.
Keteguhan Menjelang Ajal (Al-Qaul Al-Tsabit)
Allah akan meneguhkan lisan orang-orang beriman dengan ucapan yang kokoh saat menghadapi sakratul maut.
Rasulullah mengatakan bahwa barang siapa yang akhir ucapannya di dunia adalah Laa ilaha illallah, ia dijamin masuk surga.
Keteguhan ini murni merupakan taufik dari Allah, sebab setan akan mengerahkan segala upaya di akhir hayat manusia untuk menggelincirkannya ke dalam kekufuran.
Baca Juga: Meriahkan Hari Kemerdekaan, Kuttab Qur’an MIM Gelar Aneka Lomba
Sambutan Hangat Malaikat Maut
Bagi jiwa yang istiqamah mempertahankan tauhidnya, malaikat akan turun di saat sakratul maut untuk memberikan ketenangan.
Malaikat berkata, “Janganlah kamu takut (menghadapi kematian) dan janganlah kamu bersedih (atas dunia yang ditinggalkan), dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu”.
Oleh karena itu, bagi seorang mukmin sejati, hari kematian adalah hari terbaik karena merupakan gerbang perjumpaan yang dinanti dengan Sang Pencipta.
Kebahagiaan ini tampak nyata pada Bilal bin Rabah radhiallahu anhu, yang sehari sebelum wafatnya justru menyambut ajal dengan riang gembira sambil berkata, “Besok kita akan berjumpa dengan orang-orang tercinta, Muhammad dan para sahabatnya”.



