mim.or.id – 5 Nasihat Sebelum Bermaksiat mengingatkan kita tentang pentingnya mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan karunia-Nya, baik yang terlihat maupun tidak terlihat.
Bersyukur adalah cara kita menjaga nikmat tersebut, dan Allah telah berjanji bahwa jika kita bersyukur, Dia akan menambah nikmat-Nya, namun jika kita kufur, azab-Nya sangatlah pedih. Salah satu bentuk syukur adalah dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan saleh.
1. Jangan Makan Rezeki Allah
Nasihat pertama yang diberikan Ibrahim ibn Adham adalah,
“jika engkau hendak bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, silahkan, tetapi jangan engkau makan sedikitpun dari rezeki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadamu”.Â
Lelaki itu seketika menyadari bahwa semua yang ia makan dan minum, setiap nikmat yang ia rasakan, semuanya datang dari Allah. Allah-lah yang menciptakan, menghidupkan, dan menjamin rezeki setiap makhluk di dunia ini, bahkan rezeki telah ditentukan di langit.
Berbuat maksiat dengan menggunakan rezeki Allah seharusnya menimbulkan rasa malu yang mendalam kepada-Nya, padahal umumnya kita harus menggunakan nikmat itu untuk mengabdikan diri kepada-Nya.
2. Jangan Tinggal di Bumi Allah
Ibrahim ibn Adham melanjutkan nasihat kedua:
“jika engkau hendak bermaksiat, jangan tinggal di buminya Allah”. Lelaki itu pun bingung, “jika demikian kemana aku hendak pergi?”.
Ia tahu bahwa segala sesuatu dari timur sampai barat, di laut, di bumi, bahkan di bawah bumi, semuanya adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana mungkin seseorang makan rezeki Allah, tinggal di bumi-Nya, namun tidak merasa malu untuk bermaksiat kepada-Nya?.
Baca Juga: Bersegera dalam Kebaikan sebelum Kesempatan Dicabut
3. Bermaksiatlah di Tempat yang Tidak Dilihat Allah
Nasihat ketiga adalah, “jika engkau hendak bermaksiat, bermaksiatlah di tempat yang engkau tidak dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala“. Namun, lelaki itu mengetahui bahwa tidak ada tempat yang luput dari pengawasan Allah.
Bahkan, Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada kita. Seringkali kita merasa malu jika dilihat oleh manusia saat berbuat maksiat, bahkan oleh anak kecil sekalipun, tetapi kita lupa bahwa Allah yang melihat, mendengar, dan mencatat segala perbuatan serta perkataan kita.
Semua itu akan dipertanggungjawabkan di hari kemudian. Oleh karena itu, jika sendiri dalam gelapnya malam dan jiwa mengajak berbuat maksiat, hendaknya kita malu pada pandangan Allah dan ingat bahwa Dialah yang menciptakan gelapnya malam dan melihat apa yang kita lakukan.
4. Tunda Kedatangan Malaikat Maut
Nasihat keempat dari Ibrahim ibn Adham adalah, “silahkan engkau bermaksiat, namun jika malakul maut datang hendak menjemput nyawamu, Bisakah engkau berkata Saya tidak mau mati, tolong tangguhkan sejenak umur saya?”.
Kematian adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak dan tidak mengenal tua muda, kaya miskin, atau jabatan. Tak ada satupun jiwa yang tahu kapan dan di mana ia akan meninggal.
Kita tidak boleh tertipu oleh kesehatan, masa muda, kekayaan, atau pangkat, karena kematian akan menjemput di manapun kita berada, bahkan di benteng yang sangat kokoh sekalipun.
Kematian adalah kebenaran yang selama ini kita hindari dan pasti akan datang. Sangat penting bagi kita untuk mempersiapkan diri sebelum datangnya waktu tersebut, karena tidak ada jaminan kita akan hidup sampai pagi atau kembali ke rumah.
Banyak pemuda yang meninggal mendadak, calon pengantin yang rohnya dicabut, atau anak kecil dengan cita-cita tinggi yang jasadnya dimasukkan ke dalam kubur. Kematian adalah rahasia Allah, dan yang terpenting adalah apa yang kita persiapkan untuk menghadapinya, agar tidak meninggal dalam keadaan lalai dan bermaksiat.
Baca Juga: Siapakah Manusia yang Paling Mulia?
5. Tolak Masuk Neraka di Hari Kiamat
Nasihat kelima dan terakhir adalah, “silahkan engkau bermaksiat, namun nanti di hari kemudian ketika malaikat menarikmu hendak memasukkanmu ke dalam neraka, Bisakah engkau kemudian berkata Saya tidak mau masuk neraka?”.
Ibrahim ibn Adham menegaskan bahwa itu adalah hal yang mustahil, karena ketetapan Allah di hari kemudian tidak dapat diubah kecuali oleh Allah sendiri. Di akhirat, ada yang dimasukkan ke surga dan ada yang ke neraka.
Orang-orang kafir yang membangkang akan dimasukkan ke neraka Jahanam, di mana mereka tidak akan dimatikan atau diringankan azabnya. Mereka akan berteriak-teriak meminta dikeluarkan untuk beramal saleh, namun penyesalan di neraka adalah yang paling mereka idam-idamkan saat berada di dalamnya.



