mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Rasa Malu yang Hilang’ (Edisi 077, 14 Safar 1447).
Naskah selengkapnya:

‘RASA MALU YANG HILANG‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Kita awali dengan mengungkapkan rasa syukur hanya kepada Allah Azza wa Jalla, yang tidak henti-hentinya melimpahkan karuniaNya yang tak berbatas, yang selalu membukakan kesempatan demi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri, untuk mengoreksi jejak langkah kaki yang sudah terlanjur jauh tersesat.
Atas semua itu, sekali lagi, marilah menghadirkan rasa syukur yang sebesar-besarnya dengan memuji dan memuji Allah Ta’ala, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Rasa malu di dalam Islam bukan sekadar sebuah rasa yang bersifat pribadi dan personal. Rasa malu di dalam Islam bukan sekadar sebuah tuntutan sosial dalam hidup bermasyarakat. Lebih dari itu semua, rasa malu dalam Islam adalah sebuah ibadah dan amal shalih yang menjadi jalan untuk banyak kebaikan dunia dan akhirat. Rasa malu dalam Islam adalah jalan keimanan kepada Allah Ta’ala. Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
Artinya:
“Rasa malu itu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
الْحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ؛ وَالإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ
Artinya:
“Rasa malu itu bagian dari iman, dan iman itu (tempatnya) di Surga.” (HR. Ibnu Majah)
Maka, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan rasa malu sebagai satu cabang keimanan, maka itu berarti rasa malu menjadi bagian penting dalam memperbaiki dan menjaga keimanan kita kepada Allah Ta’ala.
Tidak hanya itu, rasa malu bagi kita kaum muslimin bahkan menjadi sebuah pilar dalam membangun peradaban dan kehormatan. Rasa malu dalam agama kita adalah titik tolak dan landasan terwujudnya jalan kebaikan di tengah masyarakat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ
Artinya:
“Rasa malu itu tidak menghadirkan kecuali kebaikan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dengan kata lain, jika rasa malu itu telah hilang dari kehidupan sosial-masyarakat, jika rasa malu itu telah dicabut dari hidup seorang manusia, maka menjadi indikator penting hilangnya kebaikan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat itu. Dan itu berarti juga kebobrokan dan keburukan pelan tapi pasti akan menghancurkan pribadi dan masyarakat yang kehilangan rasa malunya itu!
Jamaah Jum’at yang berbahagia!
Maka hari ini, marilah kita merenung lebih dalam menyaksikan ragam fenomena hilangnya rasa malu dalam kehidupan bernegara dan berbangsa kita dari waktu ke waktu. Kita akan menemukan: betapa dahsyatnya kerusakan, kebobrokan dan kehancuran yang terjadi akibatnya hilangnya rasa malu dari setiap pribadi dan masyarakat kita.
Korupsi yang terjadi secara masif dari lapisan paling atas sampai paling bawah misalnya; kenapa itu bisa terjadi? Karena para koruptor itu-baik yang kakap maupun yang kecil, baik yang kelas milyaran rupiah sampai kelas ratusan ribu atau puluhan ribu rupiah-sudah kehilangan rasa malunya! Dalam tradisi Bugis-Makassar: mereka sudah tidak punya lagi Siri’, sehingga dengan santai dan mudahnya mengambil harta yang bukan hak miliknya!
Jamaah sekalian, dampak kejahatan para koruptor itu bahkan lebih dahsyat dan masif dibandingkan kejahatan terorisme sekalipun. Karena para teroris mungkin hanya merusak satu-dua bangunan atau membunuh beberapa orang. Tapi para koruptor itu telah merampok uang rakyat, merusak sendi berbangsa dan bernegara. Jika para teroris itu konon-kononnya ada yang ingin mengganti negara katanya, para pejabat koruptor itu justru menjual negaranya dan mempermainkan sistem negara sesuai kepentingan para tukang suap yang menyuap mereka dari balik layar!
Dan semua itu terjadi, karena rasa malu sudah hilang dari diri mereka. Coba lihat, mereka para koruptor itu bahkan masih bisa tersenyum saat tertangkap tangan, saat diajukan di meja hijau, bahkan saat vonis telah dijatuhkan. Dan karena bapak dan ibunya yang korupsi itu tidak malu, anak-anak mereka pun tidak malu menikmati hasil korupsi orangtuanya. Dan begitulah siklus kejahatan bernama korupsi ini terus berputar.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!
Fenomena merebaknya perzinahan dalam berbagai bentuk dan formatnya hari-hari ini juga menjadi bukti betapa dahsyat kerusakan dan kehancuran sosial yang terjadi akibat hilangnya rasa malu. Perzinahan bahkan diperhalus dengan istilah “selingkuh”. Padahal “selingkuh” itu sesungguhnya adalah perzinahan itu sendiri.
Di dalam Islam, perbuatan zina itu adalah dosa yang sangat besar. Ini yang harus diletakkan dalam pikiran setiap kita, bahkan mungkin jika perlu diukir di depan mata kita, agar kita tidak lupa saat nafsu menggoda dan mendorong untuk melakukannya! Wal ‘iyadzu bilLah…
Begitu besarnya dosa perbuatan zina itu, sehingga hukumannya di dalam al-Qur’an dan Sunnah juga sangat berat. Jika pelakunya belum menikah, maka harus dicambuk 100 kali lalu dibuang selama 1 tahun. Tapi jika ia sudah menikah-dan betapa banyaknya hari ini yang berzina padahal sudah terikat dalam pernikahan-, hukumannya adalah dihukum rajam sampai mati!
Tapi lihatlah ketika rasa malu sudah hilang, hari ini kita bahkan menyaksikan para pezina-baik pria maupun wanita-tidak lagi malu mempublish dan menceritakan perzinahannya di depan publik. Para artis dan selebgram tidak lagi malu menceritakan kehamilannya akibat perzinahan di hadapan seluruh orang. Sebagian oknum pezina itu bahkan menyampaikannya dengan bangga! Wal ‘iyadzu bilLah.
Begitu juga dengan para pelaku seks menyimpang, kaum LGBT, dimulai dari tidak merasa bersalah dan menganggap perbuatannya sebagai dosa, lalu diikuti dengan hilangnya rasa malu.
Jamaah sekalian, rasa malu itu adalah benteng. Jika benteng itu sudah kita rusak dengan kepentingan nafsu sesaat, maka penderitaan dan kehancuran yang kita alami dan rasakan begitu dahsyat dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Kita menutup khutbah pertama ini dengan sebuah kisah antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan para Sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.
Suatu waktu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan:
اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu!”
Para sahabat menjawab:
قَالوا: إِنَّا لَنَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ.
“Sesungguhnya kamu merasa malu, walhamdulillah…”
Tapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan:
لَيْسَ ذَاكَ، وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ: أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَتَحْفَظَ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَتَتَذَكَّرَ الْمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ» حسن – رواه الترمذي.
Artinya:
“Bukan itu (yang kumaksud). Tapi malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu adalah ketika engkau menjaga kepala dan apa yang meliputinya, ketika engkau menjaga perutmu serta apa yang diseputarnya, dan ketika engkau selalu mengingat mati dan kebinasaan. Dan siapa saja yang menginginkan Akhirat, maka ia akan meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang melakukan itu semua, maka sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu.” (HR. al-Tirmidzi)
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Rasa malu adalah ajaran yang tersisa dari ajaran seluruh nabi dan rasul. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.
Artinya:
“Sesungguhnya di antara pesan kenabian pertama yang masih didapati oleh manusia adalah ‘Jika kamu tidak malu, maka perbuatlah apa yang kamu mau!’” (HR. al-Bukhari).
Hadits ini menunjukkan bahwa manusia yang kehilangan rasa malunya cenderung menjadi manusia bebal yang sangat sulit mendengarkan nasihat. Karena benteng rasa malunya sudah jebol, maka ia akan melakukan apa saja sekehendak hatinya.
Tentu saja, kehilangan rasa malu akan menjauhkan kita dari jalan para Nabi dan Rasul. Dan semakin menjauh seorang manusia dari jalan para Nabi dan Rasul, sudah pasti ia sedang mengukir kehancuran dan kebinasaannya, di dunia ini sebelum di Akhirat nanti.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



