mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Tauhid itu Memerdekakan!’ (Edisi 078, 21 Safar 1447).

‘TAUHID ITU MEMERDEKAKAN!‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang telah mengaruniakan kepada kita iman dan tauhid, yang menjadi syarat utama keberhasilan dan kebahagiaan kita di dua fase kehidupan yang pasti kita lalui, yaitu dunia ini dan akhirat kelak.
Tidak lupa pula, kami sampaikan wasiat para nabi dan rasul sejak dahulu kepada para pengikutnya: untuk selalu menjaga spirit ketaqwaan pada Allah Azza wa Jalla di sepanjang hayat kita, hingga tiba saatnya kita meninggalkan kehidupan dunia ini.
Kaum muslimin, jamaah Jum’at yang berbahagia!
Sekali lagi, Tauhid adalah kunci utama kesuksesan dan kebahagiaan kita di dunia ini hingga ke Akhirat kelak. Begitu dahsyatnya posisi Tauhid sebagai kunci utama itu, sehingga Allah Ta’ala menjadikan Tauhid sebagai pesan yang terus diulang-ulangi oleh setiap nabi dan rasul. Tidak ada satupun nabi ataupun rasul yang pernah hadir di muka bumi, kecuali menjadikan Tauhid sebagai misi dan pesan utamanya dalam berdakwah dan membangun peradaban.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Artinya:
“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad) kecuali Kami wahyukan padanya bahwa: tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Aku (Allah), maka beribadahlah (hanya) kepada-Ku.” (Surah al-Anbiya’: 25)
Jamaah sekalian, kalau kita memperhatikan dengan baik, kita akan melihat latar belakang yang sama di balik kehadiran para nabi dan rasul di tengah kehidupan manusia. Apa itu? Bahwa umat manusia terjebak dalam penghambaan dan perbudakan kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Ada yang terjebak dalam penghambaan pada sesama manusia yang kebetulan diberi kekuasaan oleh Allah Ta’ala namun melampaui batasnya, sehingga mengklaim diri sebagai tuhan!
Ada yang terjebak dalam penghambaan pada benda-benda langit yang dianggap luar biasa besarnya-seperti matahari-!
Ada yang terjebak dalam penghambaan kepada orang-orang yang dianggap suci, benda-benda keramat, bahkan penghambaan kepada hewan!
Dan selalu saja seperti itu, ketika manusia menghamba kepada sesama makhluk, maka pasti ritual-ritual ibadah dan penghambaannya selalu tidak manusiawi. Ada ritual pengurbanan yang tidak masuk akal. Ada ritual penghormatan pada makhluk yang sangat biadab dan tidak realistis. Ada kezhaliman yang tak terhingga dari pihak yang mempetuhankan dirinya, dan seterusnya.
Kenapa itu bisa terjadi? Semua itu bisa terjadi karena aturan dan panduan hidup yang digunakan oleh manusia-manusia itu tidak berasal dari Allah Azza wa Jalla, Sang Pencipta satu-satunya bagi seluruh alam semesta ini, termasuk manusia. Sang Maha mengetahui, yang paling tahu pedoman hidup apa yang paling tepat untuk manusia.
Karena itu, jamaah sekalian, Allah Ta’ala mengutus para nabi dan rasul untuk memerdekakan manusia dari semua bentuk penghambaan dan perbudakan itu. Penghambaan dan perbudakan kepada sesama makhluk ciptaan Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ﴾ [النحل: 36]،
Artinya:
“Dan sungguh Kami telah mengutus di tengah setiap umat itu seorang rasul, (untuk menyampaikan): ‘Hendaklah kalian (hanya) menyembah kepada Allah, dan jauhilah thaghut!’” (Surah al-Nahl: 36)
Menghambalah hanya kepada Allah Ta’ala, jangan pernah menghamba pada thaghut.
Apa itu thaghut, jamaah sekalian?
Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah merumuskan bahwa “Thaghut” itu adalah siapapun yang ditunduki, dipatuhi dan dicintai melebihi Allah Azza wa Jalla, dan dia rela atau bahkan meminta untuk diperlakukan melampaui batas seperti itu.
Maka jika ada pemimpin yang rela dipatuhi melebihi kepatuhan pada Allah Ta’ala, maka itu adalah Thaghut.
Jika ada ustadz, kyai atau habib yang mau dipatuhi kata-katanya melebihi kepatuhan pada perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla, maka itu ada ustadz thaghut, kyai thagut, atau habib thaghut.
Intinya, jika ada manusia yang mau dimuliakan, ditunduki, diikuti dan dicintai meskipun harus mengorbankan ketundukan dan kepatuhan pada Allah Ta’ala, maka itu adalah manusia Thaghut.
Dan Allah Ta’ala dengan tegas memerintahkan kita untuk menjauhi apapun bentuk thagut itu. Kenapa? Karena menjauhi thaghut adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Tauhid. Karena Tauhid itu satu paket: antara “menghamba hanya pada Allah” dan “menjauhi Thaghut”. Kita takkan mungkin menjadi seorang hamba Allah yang bertauhid, sampai kita meninggalkan semua bentuk Thaghut di dunia.
Dan di sini, sekali lagi, terbukti bahwa Tauhid itu memerdekakan kita. Tauhid itu memerdekakan kita dari menghamba dan diperbudak oleh sesama makhluk, baik itu penghambaan yang bersifat duniawi, maupun yang bersifat sprituil.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Itulah sebabnya, di dalam Islam, Allah Ta’ala menghapus semua bentuk perantara dalam beribadah kepadaNya. Kita semua bebas-merdeka untuk langsung beribadah dan berkomunikasi dengan Allah Ta’ala, senista apapun dosa yang pernah kita lakukan, seburuk apapun masa lalu yang pernah kita jalani.
Maka, jika kita memiliki hajat, kebutuhan, cita=cita dan obsesi, kita tidak perlu datang kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak perlu datang ke manusia yang dianggap suci, tidak perlu datang ke tempat khusus yang dikeramatkan. Tidak perlu membuat pengakuan dosa kepada ustadz atau kyai. Sama sekali tidak perlu. Karena setiap kita, siapapun itu, diberikan kesempatan, bahkan diharuskan oleh Allah Ta’ala untuk hanya meminta kepadaNya secara langsung tanpa perantara. Dan itulah Tauhid!.
Mari kita renungkan pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada salah seorang sahabat yang juga merupakan salah satu Ahlul baitnya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau mewasiatkan:
إذا سأَلتَ فاسألِ اللَّهَ ، وإذا استعَنتَ فاستَعِن باللَّهِ ، واعلَم أنَّ الأمَّةَ لو اجتَمعت علَى أن ينفَعوكَ بشَيءٍ لم يَنفعوكَ إلَّا بشيءٍ قد كتبَهُ اللَّهُ لَكَ ، ولو اجتَمَعوا على أن يضرُّوكَ بشَيءٍ لم يَضرُّوكَ إلَّا بشيءٍ قد كتبَهُ اللَّهُ عليكَ
Artinya:
“…Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika engkau meminta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Dan ketahuilah, bahwa andai seluruh manusia bersepakat untuk memberimu manfaat (kebaikan) dengan sesuatu, mereka takkan bisa memberikannya kecuali dengan apa yang telah dituliskan Allah untukmu. (Sebaliknya), andai mereka semua sepakat untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka takkan bisa mencelakaimu kecuali dengan apa yang telah Allah tuliskan untuk menimpamu….” (HR. al-Tirmidzi).
Betapa luar biasa, betapa dahsyatnya nasihat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Sungguh sangat memerdekakan, dan sangat membebaskan. Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan saudara sepupu dan Ahlul baitnya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu tentang makna Tauhid yang memerdekakan itu!
Jika ingin meminta, mintalah langsung kepada Allah. Tidak perlu bertemu atau sowan dengan siapapun dari kalangan makhluk, semulia apapun dia.
Jika ingin meminta tolong, mintalah langsung kepada Allah. Dan jangan pernah takut kepada apa yang menimpamu, karena pada akhirnya tidak ada satupun peristiwa yang terjadi padamu-menyenangkan atau tidak-; semuanya terjadi hanya ketika Allah Ta’ala menakdirkannya terjadi padamu.
Dengan keteguhan Tauhid seperti itu, maka tidak mengherankan jika seorang hamba yang bertauhidlah yang dapat berjalan melintasi kehidupan dunia ini dengan jiwa yang tenang dan bahagia, jiwa yang lapang dan teguh, karena ia tidak perlu lagi takut dan gelisah kepada sesama makhluk. Sebab seluruh hidup dan matinya, seluruh nafas dan darah, seluruh harta dan jiwanya hanya untuk Allah Azza wa Jalla, Sang Penguasa seluruh alam semesta ini.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Dengan jiwa yang dipenuhi Tauhid itu pulalah pada hari-hari ini kita memandang apa yang terjadi pada saudara-saudara kita kaum muslimin di Gaza.
Kita yakin sepenuh-penuhnya jiwa, bahwa apa yang terjadi di sana meskipun tampak begitu buruk dan tragis, pasti ada hikmah luar biasa yang telah Allah Ta’ala siapkan untuk mereka, dan juga untuk kita.
Tinggal menjadi kewajiban kita hari-hari ini, untuk terus berusaha menunaikan apa yang menjadi kewajiban kita untuk Gaza. Memberikan dukungan untuk mereka secara materil dan doa yang tak putus-putus, menyuarakan desakan kepada para pemimpin kaum muslimin untuk membuka nurani mereka bertindak menghentikan penjajah Zionis yang biadab, dengan menggunakan semua media dan sarana yang ada dalam genggaman kita.
Di hari Jum’at yang mulia ini, kita berdoa semoga tragedi kemanusiaan di Gaza dan penjajahan Zionis yang keji itu segera berakhir.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



