spot_img

Siapakah Manusia yang Paling Mulia?

mim.or.id – Pertanyaan mengenai siapakah manusia yang paling mulia adalah salah satu yang fundamental, dan jawabannya telah diberikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Rasulullah, ditanya tentang hal ini, beliau menjawab bahwa manusia yang paling mulia adalah “yang paling bertakwa di antara mereka”.

Jawaban ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hujurat Ayat 13:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Baca Juga: Semarakkan HUT RI ke-80: Tumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Santri Kuttab Qur’an MIM

Hakikat Ketakwaan: Bersemayam di Hati 

Penting untuk memahami di mana letak ketakwaan itu. Dalam ajaran Islam, ketakwaan tidak terletak pada penampilan lahiriah, harta, atau kedudukan sosial, melainkan “di sini… di sini… di sini… dalam hati”. 

Sebagaimana diungkapkan dalam hadist Rasulullah: 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Ini berarti, seseorang dapat menjadi sangat mulia di sisi Allah walaupun ia tidak terkenal, atau mungkin terlihat biasa-biasa saja di mata manusia.

Keistimewaan Orang yang Bertakwa: Dikenal di Langit 

Sumber tersebut menggambarkan betapa dahsyatnya kemuliaan orang yang bertakwa di sisi Allah, bahkan jika di dunia ia dipandang rendah. Digambarkan seorang yang rambutnya kusut, pakaiannya lusuh, dan mungkin ada tambalannya. 

Jika ia bertamu, pintunya mungkin tak dibukakan; jika ia melamar, lamarannya ditolak; jika berbicara, tak ada yang mau mendengarkan; jika ia tidak ada, tak ada yang kehilangan; jika hadir, tak ada yang memperhatikannya. 

Namun, individu semacam ini “terkenal di langit karena takwa, ketakwaannya”. Bahkan, jika ia bersumpah atas nama Allah, Allah akan mengabulkan sumpahnya.

Baca Juga: Khutbah Jum’at: Tauhid itu Memerdekakan! (Edisi 078, 21 Safar 1447)

Status di Sisi Allah: Taqwa Mengungguli Keturunan dan Kedudukan 

Allah telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang bertakwa, meskipun ia seorang budak sahaya dari negeri Habasyah seperti Bilal bin Rabah. Sebaliknya, Allah juga menyiapkan neraka bagi orang-orang kafir.

Allah berfirman dalam Surat Az-Zumar Ayat 73:

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ

Artinya: Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.

Meskipun mereka adalah tokoh terpandang dari suku Quraisy seperti Abu Jahal atau Fir’aun di zamannya. Ini menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh asal-usul, keturunan, atau status sosial di dunia, melainkan semata-mata oleh kadar ketakwaan seseorang.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.