spot_img

Bersegera dalam Kebaikan sebelum Kesempatan Dicabut

mim.or.id – Manusia diperintahkan dengan ajaran untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan bersegera dalam kebaikan sebelum kesempatan dicabut, karena setiap kebaikan memiliki waktu dan momennya sendiri.

Peluang Terbatas: Sebelum Ajal Menjemput 

Kesempatan untuk beramal saleh sangat terbatas, terutama ketika ajal telah tiba. Setelah seseorang meninggal dunia, semua amalan terputus. Dia tidak akan mampu lagi rukuk, sujud, bersedekah, berdakwah, menyantuni fakir miskin, mengasihi anak yatim, melangkahkan kaki ke masjid, menuntut ilmu, tersenyum kepada sesama, atau menyingkirkan duri di jalan. 

Oleh karena itu, bahkan dalam kondisi sakit sekalipun, seseorang masih bisa berzikir, bertaubat, mengerjakan salat (walaupun duduk, berbaring, atau dengan isyarat), dan meminta maaf dari orang yang pernah dizalimi, yang semuanya masih menjadi amalan saleh. 

Rasulullah bahkan melarang pamannya yang sakit keras untuk meminta kematian, karena selama hidup, peluang beramal saleh masih ada. Seluruh amalan ini masih menjadi pemberat pada timbangan kebajikan.

Menyegerakan Sedekah di Masa Sehat 

Salah satu amalan yang sangat ditekankan untuk disegerakan adalah sedekah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa sedekah yang paling afdal adalah ketika seseorang bersedekah dalam keadaan sehat. 

Pada kondisi sehat, pandangan terhadap kehidupan belum berubah, berbeda dengan orang yang sudah terbaring sakit di rumah sakit yang melihat dunia tidak lagi memiliki nilai. Sedekah yang paling mulia dikeluarkan ketika Anda masih sehat, masih memiliki banyak pemikiran dan angan-angan, serta takut akan kefakiran.

Baca Juga: Siapakah Manusia yang Paling Mulia?

Menghindari Penyesalan di Masa Depan 

Ada beberapa kondisi masa depan yang harus dihindari dengan bersegera beramal saleh saat ini:

Pertama, sebelum Jatuh dalam Kefakiran atau Sombong karena Kekayaan: Seseorang mungkin baru ingin bersedekah saat miskin, padahal sedekah terbaik adalah saat sehat. Atau, kekayaan dapat membuat seseorang menjadi sombong.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-‘Alaq Ayat 6:

كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ

Artinya: Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.

Kedua, sebelum datang masa tua dan pikun, Masa tua seringkali diiringi dengan kondisi pikun, di mana seseorang tidak lagi mampu membedakan hal-hal sederhana seperti gula merah dan garam. 

Selain itu, orang di usia senja bisa menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung. Kita diajarkan untuk berlindung dari keburukan masa tua, karena saat itu kemampuan beramal bisa sangat terbatas, bahkan dalam mengendalikan diri. 

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyuruh kita memanfaatkan masa muda sebelum datang masa tua. Oleh karena itu, rajinlah ke masjid, rajinlah qiyamullail, dan rajinlah mengerjakan amalan saleh sebelum Anda jatuh sakit atau tua.

Ketiga, sebelum kematian tiba-tiba: Kematian dapat datang secara mendadak tanpa sebab, seperti musibah yang tiba-tiba terjadi. Kita harus senantiasa mempersiapkan diri untuk kematian dan berdoa agar dimatikan dalam kondisi khusnul khatimah. 

Baca Juga: Tafsir Surah Al hujurat Ayat 13 Sesi 2

Menghadapi Fitnah Besar: Dajjal dan Hari Kiamat 

Kita juga diperintahkan untuk beramal sebelum datangnya Dajjal. Fitnah Dajjal sangat besar dan merupakan ujian keimanan bagi orang yang benar-benar beriman. Dajjal disifatkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dengan tulisan “kafir” di keningnya yang bisa dibaca oleh semua orang beriman, bahkan yang buta huruf sekalipun. 

Dajjal memiliki kemampuan luar biasa seperti membelah seseorang menjadi dua lalu menghidupkannya kembali, menurunkan hujan, dan menumbuhkan tanaman. Ini adalah fitnah yang sangat besar yang akan menipu banyak orang untuk mengakuinya sebagai Tuhan. 

Di zaman sekarang pun sudah banyak “Dajjal-Dajjal kecil” atau penipu yang mengaku sakti, bisa menggandakan uang, atau memiliki karamah di luar kemampuan manusia, yang telah menyesatkan banyak orang.

Oleh karena itu, pentingnya belajar akidah dan tauhid agar terhindar dari kesyirikan dan tipuan. Orang yang beriman kepada Allah dan tidak mencampuradukkan keimanannya dengan kesyirikan akan merasakan keamanan dalam hidupnya dan mendapatkan petunjuk.

Sebaliknya, orang yang tidak belajar akidah akan mudah ketakutan oleh hal-hal seperti suara burung, menganggap keramat pohon atau kuburan tertentu, dan dipermainkan setan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.