mim.or.id – Di era modern ini, sering kali kita menyaksikan menurunnya adab atau etika seorang murid terhadap gurunya. Untuk itu penting memahami adab penuntut ilmu dan kunci keberkahan belajar.
Dahulukan Adad Baru Ilmu
Banyak penuntut ilmu yang lebih mengutamakan penguasaan materi daripada menanamkan adab, sehingga tanpa sadar mereka memiliki watak yang keras, gemar mendebat, dan tidak lagi santun kepada para pengajarnya.
Padahal, para ulama terdahulu telah mengingatkan bahwa adab adalah fondasi sebelum ilmu. Sebagaimana dikatakan oleh Yusuf bin Al-Husain, “Belajarlah adab sebelum mempelajari suatu ilmu”, karena dengan adab, pemahaman terhadap ilmu akan menjadi lebih mudah.
Pentingnya mendahulukan adab bahkan ditegaskan oleh Ibnu Mubarak yang berkata, “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun”.
Ini menunjukkan bahwa adab bukanlah sekadar pelengkap, melainkan prasyarat utama agar ilmu yang dipelajari membawa berkah dan tidak sia-sia.
Baca Juga: Mengenal Wali-Wali Allah: Ciri, Syarat, dan Keutamaannya
Menuntut Ilmu, Belajar Secara Langsung (Talaqqi)
Salah satu adab terpenting dalam menuntut ilmu adalah dengan belajar secara langsung dari seorang guru (talaqqi), bukan hanya otodidak melalui buku. Belajar langsung dari ahlinya memiliki berbagai keutamaan yang tidak didapatkan dari membaca sendiri.
Pertama, jalan dalam memahami ilmu menjadi lebih terarah dan terbimbing. Kedua, pemahaman menjadi lebih cepat, karena guru dapat menjelaskan istilah-istilah sulit yang mungkin membingungkan saat membaca buku.
Ketiga, terjalin hubungan antara murid dan guru, di mana murid dapat belajar dari pengalaman panjang seorang pengajar. Dan yang terpenting, yang keempat, murid dapat mempelajari akhlak dan adab secara langsung dari teladan gurunya.
Bagaimana Cara Berinteraksi dengan Guru?
Baca Juga: Memahami Tiga Rukun Ibadah dalam Islam
Selain itu, adab juga tecermin dari cara kita berinteraksi dan bersikap kepada guru. Berikut adalah beberapa adab yang perlu diperhatikan:
Pertama, Menghormati dengan Panggilan yang Santun: Memanggil guru dengan sebutan yang mulia seperti “Pak Guru” atau “Ustaz” adalah bentuk penghormatan. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua.
Sebaiknya, hindari memanggil guru hanya dengan namanya, apalagi dengan kata ganti “kamu” atau “anta”. Kedua, Menjaga Sikap di Hadapannya: Seorang murid hendaknya tidak berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempatnya, dan tidak memulai pembicaraan sebelum diizinkan, kecuali jika guru bertanya terlebih dahulu.
Ketiga, Menghindari Perdebatan: Termasuk adab yang baik adalah tidak membantah perkataan guru dan tidak banyak bertanya hingga membuatnya jenuh.
Menjaga Cara Berbicara: Jangan memanggil guru dari kejauhan. Ketika mengabarkan atau mengutip perkataan guru, seperti “Imam Malik berkata…”, maka penyebutan nama diperbolehkan karena bukan dalam konteks memanggil secara langsung.
Dengan memuliakan guru dan menjaga adab, kita berharap Allah SWT akan mengaruniakan kita akhlak yang mulia dan ilmu yang bermanfaat.



