spot_img

Khutbah Jum’at: Belajar dari Sejarah (Edisi 085, 11 Rabiul Akhir 1447)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Belajar dari Sejarah’ (Edisi 085, 11 Rabiul Akhir 1447).

Untuk selengkpnya:

BELAJAR DARI SEJARAH…

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla, satu-satuNya tuhan yang berhak untuk disembah, yang tidak pernah berhenti melimpahkan karunia dan nikmatNya di sepanjang waktu dan kehidupan kita. Dengan semua kelalaian dan kemaksiatan yang kita lakukan nyaris di setiap waktu. Allah Ta’ala selalu membukakan pintu dan memberikan kesempatan kepada kita untuk bertaubat kepadaNya dan memperbaiki diri.

Shalawat dan salam tak henti-hentinya kita ucapkan untuk kekasih kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menuntunkan kita jalan untuk mengenal Allah Ta’ala.

Jamaah Jum’at yang berbahagia!

Kehidupan dunia ini tidak lebih dari episode-episode sejarah yang terus mengalami pengulangan demi pengulangan. Jalan ceritanya selalu sama, hanya saja tokoh dan pemerannya yang silih berganti. Pola-polanya begitu-begitu saja, rumus-rumusnya tidak ada yang berbeda. Yang zhalim akan hancur. Yang durhaka akan sengsara. Meskipun pada mulanya mereka mungkin tampak berjaya dan bergembira, tapi ujung kisahnya selalu membinasakan.

Itulah yang kemudian disebut sebagai “SunnatuLlah”. Allah Azza wa Jalla mengatakan di dalam al-Qur’an:

قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

Artinya:

“Sungguh telah berlalu berlalu  sebelum kamu: sunnah-sunnah (ketetapan) Allah, maka berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana  akibat (yang ditanggung) orang-orang yang mendustakan (para rasul).”  (Surah Ali Imran: 137).

Ayat ini memberi pesan penting bahwa seorang muslim harus punya jiwa refleksi dan perenungan yang dalam. Seorang muslim tidak boleh terkungkung oleh batas-batas materi saat melihat sesuatu, tapi harus merenungkannya lebih dalam dan lebih jauh.

Ketika kita misalnya menyaksikan kehebatan monumen-monumen peninggalan sejarah, pandangan kita tidak hanya terhenti pada mengagumi bangunan monumen itu, tapi coba renungkan: kira-kira bagaimana nasib para pencetus dan pembangun monumen yang katanya hebat itu sekarang di alam kuburnya?

Ketika kita berdiri kagum menyaksikan bangunan piramid yang ditinggalkan Firaun, kita jangan sekadar kagum pada kecanggihan teknik arsitekturnya. Tapi coba renungkan: bagaimana nasib para Firaun itu sekarang di alam barzakh? Dalam nikmatkah atau sedang diremukkan dalam adzab kubur yang perih?.

Ketika kita belajar tentang peradaban Yunani dan Romawi yang katanya meninggalkan banyak jejak sejarah penting, coba renungkan: kira-kira bagaimana nasib para kaisar, ilmuwan dan filosofnya sekarang ini di alam kuburnya? Dalam bahagiakah atau dengan mencicipi sengsara yang tak terlukiskan?.

Saat kita menatap kagum tembok besar Cina dengan semua peradaban dan sejarah yang meliputinya, sebagai seorang muslim yang beriman pada Akhirat, kita patut bertanya: bagaimana nasib para pencetus dan pelopor peradaban ini di alam kuburnya: dalam kucuran rahmat Allahkah, atau justru mencicipi adzab Allah yang pedih?

 Allah Azza wa Jalla menyuruh kita untuk tidak berhenti hanya pada sekadar kagum dan takjub pada semua itu, pada kisah sejarah umat terdahulu. Karena ada yang jauh lebih penting dari itu. Yaitu merenungkan bagaimana akhir mereka yang mendustakan para Rasul yang diutus Allah kepada mereka:

فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

“…lalu perhatikanlah bagaimana  akibat (yang ditanggung) orang-orang yang mendustakan (para rasul).”

Kaum muslimin yang berbahagia!

Dari sini, Allah Ta’ala mengajar kita satu prinsip hidup yang sangat penting, yaitu bahwa semua pencapaian dan kehebatan dunia ini takkan pernah ada gunanya, jika ia tidak membuat kita semakin dekat kepada Allah, semakin dekat kepada RahmatNya, semakin dekat kepada SurgaNya.

Apa kurangnya pencapaian Firaun yang memerangi Nabi Musa ‘alaihissalam dalam soal keberhasilan pembangunan Mesir? Sebagai seorang kepala negara, Firaun jelas bukan kaleng-kaleng. Ia berhasil mengendalikan Sungai Nil begitu rupa, sehingga Mesir menjelma menjadi sebuah negeri yang sangat subur. Pembangunan infrastrukturnya sangat mengagumkan.

Tapi lihatlah akhirnya kisahnya akibat mendustakan Nabi Musa ‘alaihissalam: berakhir tragis dan meninggalkan kenangan buruk di sepanjang sejarah.

Yang seperti ini-sekali lagi-akan terus berulang dalam sejarah manusia: siapapun yang menjauh dari Allah, mendustakan apa yang dibawa para nabi dan rasul, ujung kisahnya pasti akan penuh derita, kisah hidup Akhirat sudah pasti jauh lebih menderita.

Allah Ta’ala berfirman:

 أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ 

Artinya:

“Belumkah datang kepada mereka berita tentang orang-orang sebelum mereka, (yaitu): kaum Nuh, kaum ‘Aad, kaum Tsamud, kaum Ibrahim, serta  penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah binasa? Telah datang kepada mereka para Rasul (dari) mereka dengan penjelasan yang nyata. Maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”  (Surah al-Taubah: 70).

Jamaah Jum’at yang berbahagia!

Karena itu, dari sejarah yang terus berulang ini, kita belajar bahwa segala pencapaian dunia, segala kesuksesan dunia itu sama sekali tidak ada gunanya jika kita jauh dari Allah, jauh dari dari panduan agama Allah.

Tidak ada gunanya jabatan tinggi menjulang, jika kita jauh dari Allah, jika menjauhi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak ada gunanya bisnis yang berlimpah profit, jika shalat kita hancur, jika maksiat maju terus pantang mundur.

Tidak ada gunanya semua penghargaan dari manusia, jika kelak kita babak-belur diadzab Allah di alam kubur.

Semuanya sama sekali tidak berguna. Bukankah sebelum kita tidak terhitung lagi jumlah manusia yang hidupnya sukses secara duniawi, kaya raya tak terkira, dihormati dan disanjung-sanjung setinggi langit; tapi akhir hayatnya berantakan karena selalu jauh dan jauh dari Allah? Wal ‘iyadzu billah….

Karena itu, Allah Ta’ala mengingatkan kita rumus penting kehidupan ini:

 فَأَمَّا مَنْ طَغَى * وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى * وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ﴾ [النازعات: 37 – 41].

Artinya:

“Maka adapaun orang yang melampaui batas, dan lebih mendahulukan kehidupan dunia, maka Neraka Jahim-lah tempat kembalinya. Dan adapun orang yang takut kepada  kedudukan Tuhannya, dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh Surga-lah tempat kembalinya.”  (Surah al-Nazi’at: 37-41).

Jamaah sekalian, inilah rumus penting yang harus menjadi pegangan hidup kita di dunia ini. Jika ingin sengsara, jalannya sudah jelas. Jika ingin bahagia, jalannya pun sudah sangat jelasnya.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Hari-hari ini, kondisi Gaza semakin mengkhawatirkan. Namun kita tidak bosan-bosannya, menanamkan optimisme dalam jiwa bahwa kemenangan itu semakin dekat, insya Allah. Karena semakin gelap malam adalah pertanda sinar terang pagi semakin dekat.

Jangan pernah lupakan Gaza! Jangan lupakan saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi para Nabi dan Rasul, di bumi al-Quds, yang masih harus melewati hari-hari ujian dalam penjajahan kaum Zionis Yahudi.

Kita tidak boleh lupa, bahwa keberadaan mereka di bumi jihad Palestina itu lebih dari sekadar mempertahankan negara mereka yang bernama Palestina, tapi lebih dari itu, mereka sedang mewakili kita kaum muslimin untuk mempertahankan dan mengembalikan Masjidil Aqsha ke tangan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka salah satu jihad kita umat Islam di negeri ini terhadap Palestina adalah memberikan dukungan dalam berbagai bentuknya untuk saudara-saudara kita para pejuang dan umat Islam di Gaza dan Palestina. Jangan putus berdoa untuk mereka dalam setiap kesempatan yang Allah berikan untuk berdoa.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.