spot_img

Utuh, Al-Qur’an dan Sunnah Tidak Bisa Dipisahkan!

mim.or.id – Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua yang utuh dan sumber utama ajaran Islam yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Untuk itu, mari memahami hubungannya:

Sirah, Bagian Esensial dari Agama

Mempelajari Sirah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam (sejarah kehidupan Nabi Muhammad S.A.W.) adalah hal yang fundamental bagi setiap Muslim. 

Sirah Rasulullah merupakan juz’un min had satu bagian terpenting yang tidak dapat dipisahkan dari agama ini. Islam tidak mungkin bisa dilepaskan dari Sirah Nabi Muhammad karena beliau adalah sosok yang menyampaikan Islam.

Apabila kita ingin mempelajari Islam, maka mau tidak mau, kita juga harus belajar mengenai siapa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam

Baca Juga: Pentingnya Karakter Kuat Berlandaskan Tauhid!

Pentingnya mengenal Rasul ini termasuk dalam tiga hal paling mendasar yang harus diketahui oleh seorang Muslim (Al-Usul Al-Tsalatsah), yaitu: Ma’rifatullah (mengenal Allah), Ma’rifatur Rasul (mengenal Rasul), dan Ma’rifatuddin atau Ma’rifatul Islam (mengenal Islam).

Sunnah sebagai Penjelasan terhadap Al-Qur’an

Alasan utama mengapa Sirah menjadi penting dipelajari adalah karena ia terkait erat dengan Sunnah, yang berfungsi menjelaskan Al-Qur’an. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman Surat Al-Hijr Ayat 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.


Tujuan diturunkannya Azzikr ini adalah litubayyina linnasi ma nuzzila ilaihim agar Nabi Muhammad dapat menjelaskan kepada umat manusia apa yang diturunkan kepada mereka, yaitu Al-Qur’an.

Oleh karena itu, salah satu fungsi Sunnah adalah menafsirkan dan menjelaskan apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Kita tidak mungkin bisa memahami Al-Qur’an dengan baik tanpa mempelajari Sirah Nabi Muhammad.

Baca Juga: Saatul Usrah: Pelajaran Agung dari Perang Tabuk

Sebagai contoh nyata, kita melaksanakan salat lima kali sehari dan semalam. Ketentuan salat lima waktu ini, termasuk rincian jumlah rakaat (seperti Subuh dua rakaat, Zuhur empat rakaat, dan seterusnya), tidak ada di dalam Al-Qur’an; penjelasan tersebut hanya terdapat dalam Sunnah dari Rasulullah. 

Sirah adalah Aplikasi Praktis Islam

Sirah Nabi adalah at-tathbiq al-’amali merupakan bentuk praktik dan aplikasi nyata dari Islam. Apabila kita ingin melihat bagaimana cara mengamalkan Islam yang benar, kita harus melihat Sirah.

Untuk mengetahui pengamalan Islam yang paling benar, kita harus mempelajari bagaimana Rasulullah dan para sahabat mengamalkan Islam ini. Tidak bisa tidak, orang tidak akan dapat memahami Islam dengan baik tanpa mempelajari Sirah Nabi.

Bahaya Kelompok Ingkar Sunnah

Jika seseorang mencukupkan diri dalam ber-Islam hanya dengan Al-Qur’an dan menolak Sunnah, maka lahir kelompok yang disebut Qur’aniyun. Nama keren Qur’aniyun digunakan agar kesesatan mereka tidak terlalu kentara, padahal nama yang lebih tepat bagi mereka adalah Ingkar Sunnah.

Gerakan Ingkar Sunnah, yang sempat marak di Indonesia (terutama sebelum tahun 90-an), adalah gerakan yang tidak mau menerima Sunnah karena merasa sudah cukup menggunakan Al-Qur’an. 

Gerakan ini sangat berbahaya karena mereka tidak menganggap Sunnah Nab sebagai sumber dalam ber-Islam.

Logika ini tidak tepat, sebab Al-Qur’an dan Sunnah sampai kepada kita melalui jalur sanad yang sama: dari Rasulullah kepada para sahabat, kemudian tabiin, atba tabiin, dan seterusnya. 

Oleh karena itu, jika kita menerima Al-Qur’an melalui jalur ini, maka Sunnah yang sampai melalui jalur yang sama harusnya juga diterima sebagai pegangan dalam ber-Islam.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.