mim.or.id – Sebuah kisah rahmat kepada binatang menuju Surga dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah menyampaikan sebuah ceritra tentang pentingnya kasih sayang dan rahmat, bahkan kepada seekor binatang.
Kehausan di Tengah Perjalanan
Dikisahkan bahwa seorang lelaki sedang berjalan di sebuah jalan dan merasakan haus yang sangat (istda Alaihi lafaz). Ia kemudian mendapati sebuah sumur.Â
Lelaki tersebut turun ke sumur itu yang kemungkinan tidak terlalu dalam atau tidak memiliki timba untuk minum, memuaskan dahaganya. Setelah ia keluar dari sumur tersebut, ia melihat pemandangan yang menyentuh hati.
Baca Juga: Sinergi Kebaikan: BMM Salurkan Bantuan Pembangunan Masjid MIM
Ia mendapati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya, menjilat-jilat tanah yang basah di sekitar sumur, menunjukkan bahwa anjing tersebut sangat kehausan.
Empati dan Tindakan Luar Biasa
Lelaki itu kemudian berkata dalam hati bahwa anjing ini telah merasakan kehausan yang sama persis seperti yang ia rasakan sebelumnya.
Tergerak oleh empati ini, ia memutuskan untuk turun kembali ke sumur. Karena tidak membawa wadah, ia mengisi air ke dalam khuf-nya. Khuf adalah sepatu yang terbuat dari kulit, biasa digunakan oleh orang yang bepergian (safar), yang membungkus kaki.
Setelah mengisi khuf tersebut dengan air, ia menggunakan cara yang sulit: ia membawa khuf berisi air itu dengan mulutnya sambil berusaha naik dari sumur. Begitu ia berada di atas, ia memberikan air itu kepada anjing tersebut.
Pahala dan Pengampunan Dosa
Atas perbuatan sederhana namun penuh ketulusan dan kesulitan ini, Allah berterima kasih kepadanya (Fasya karallahu lah). Salah satu nama Allah adalah asy-Syakur, yang berarti Maha Berterima Kasih, di mana Allah membalas amalan yang sederhana dengan pahala yang luar biasa.
Karena perbuatannya itu, dosa lelaki tersebut diampunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan ia dimasukkan ke dalam surga. Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah apakah berbuat baik kepada hewan juga mendatangkan pahala, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab:
Baca Juga: Sedekah Melampaui Harta: Tiga Peluang Kebaikan
“Pada Setiap yang bernyawa yang memiliki jiwa (fikulli kabidin raghthbin), berbuat baik kepadanya ada pahala di dalamnya”.
Kisah ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menjadi rahmatal lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi hewan.
Bahkan dalam kondisi terpaksa membunuh, seperti menyembelih, Nabi mengajarkan cara-cara yang penuh rahmat, seperti menenangkan sembelihan dan menggunakan pisau yang tajam agar hewan tidak tersiksa. Hewan tidak boleh disiksa, diikat, atau dibunuh dengan cara yang menyakitkan (seperti dibakar atau dipukul).



