spot_img

Ketika Dunia Menguasai Hati Manusia!

mim.or – Ketika dunia menguasai hati manusia, orientasi dan tujuan hidup perlahan bergeser dari mencari ridha Allah menuju pengejaran materi, popularitas, dan kekuasaan. Dunia yang sejatinya hanya sarana berubah menjadi tujuan utama.

Ukuran keberhasilan tidak lagi ditimbang dengan ketakwaan dan akhlak, melainkan dengan harta, jabatan, dan pengakuan sosial. Pada titik ini, hati kehilangan kepekaan terhadap nilai-nilai akhirat.

Peringatan Terhadap Perbudakan Materi (Hamba Dinar dan Dirham)

Rasulullah memberikan peringatan keras bahwa orang yang menjadi “hamba dinar dan dirham” adalah orang yang celaka.

Ciri utama dari penghambaan ini adalah ketika seluruh fokus waktu, kebahagiaan, dan kesedihan seseorang hanya dihabiskan untuk mengejar harta serta gaya hidup mewah, hingga melalaikan persiapan untuk akhirat.

Baca Juga: Menjadi Hamba dan Khalifah: Bekal Menuju Akhirat

Orang seperti ini hanya akan merasa ridha jika mendapatkan bagian dunia dan akan murka jika tidak mendapatkannya, sebuah sifat yang juga identik dengan orang munafik. Dalam Surat An-Nisa Ayat 145, Allah berfirman:

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Filosofi Hidup sebagai Pengembara

Seorang Muslim dinasihati untuk hidup di dunia seakan-akan ia adalah seorang asing atau sekadar pengembara yang sedang lewat.

Seorang pengembara tidak akan membangun istana atau merasa terikat secara emosional pada tempat persinggahannya, melainkan hanya membawa perbekalan yang cukup untuk sampai ke tujuan utamanya, yaitu kampung akhirat.

Hal ini menekankan bahwa dunia hanyalah tempat singgah yang hina dan tidak memiliki nilai lebih tinggi dari bangkai binatang di sisi Allah. Dalam surah Surat Muhammad Ayat 36, Allah mengingatkan:

إِنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِن تُؤْمِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْـَٔلْكُمْ أَمْوَٰلَكُمْ

Artinya: Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.

Keseimbangan antara Ikhtiar, Tawakal, dan Bahaya Fitnah Dunia.

Meskipun Islam mewajibkan umatnya untuk bekerja dan mencari rezeki seperti para Nabi terdahulu, dunia harus tetap berada di tangan dan tidak boleh masuk ke dalam hati.

Dunia diibaratkan seperti air yang bermanfaat jika digunakan sesuai takaran. Namun bisa menjadi fitnah yang menghancurkan (seperti tsunami) jika berlebihan.

Selain itu, kita harus memahami bahwa Allah terkadang menghalangi seseorang dari kekayaan dunia justru karena rasa cinta-Nya, demi melindungi iman hamba tersebut dari kerusakan, sebagaimana dokter melarang makanan tertentu bagi pasiennya.

Sebagai perumpamaan, kehidupan dunia ini ibarat air laut bagi seorang pelaut. Air tersebut sangat diperlukan agar kapal bisa berlayar menuju tujuan (akhirat).

Namun, jika pelaut tersebut membiarkan air masuk ke dalam lambung kapalnya (hati), maka air yang tadinya bermanfaat itu justru akan menenggelamkan dirinya ke dasar laut.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.