spot_img

Khutbah Jum’at: Jangan Jadi Manusia Culas! (Edisi 101, 4 Syaban 1447 H)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Jangan Jadi Manusia Culas!’ (Edisi 101, 4 Syaban 1447 H).

Naskah selengkapnya:

JANGAN JADI MANUSIA CULAS!

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di antara penyakit umat yang paling berbahaya namun sering tidak disadari, bahkan dibungkus dengan slogan kebaikan, adalah penyakit muthaffifin — kecurangan yang dilakukan bukan hanya dalam timbangan barang, tetapi dalam timbangan sikap, prinsip, dan manhaj.

Allah Ta’ala membuka Surah al-Muthaffifin dengan ancaman yang sangat keras:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ
الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ
وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

“Celakalah orang-orang yang curang. Yaitu mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, tetapi apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. al-Muthaffifin: 1–3).

Ayat ini, jamaah sekalian, tidak terbatas pada jual beli beras dan gula. Para ulama tafsir menjelaskan: setiap bentuk standar ganda, setiap sikap mengambil hak secara penuh namun menunaikan kewajiban secara setengah-setengah, termasuk dalam makna muthaffifin.

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,

Di antara bentuk muthaffifin yang paling berbahaya adalah para muthaffifin dalam kepemimpinan. Ketika seseorang menuntut ditaati, namun ia sendiri tidak adil. Menuntut loyalitas, namun ia tidak amanah. Menuntut ketaatan, namun ia menyalahgunakan kekuasaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pemimpin yang muthaffif adalah yang mengambil kehormatan jabatan, tetapi mengurangi beban amanahnya. Ia menikmati fasilitas, namun menghindari tanggung jawab. Ia cepat menuntut hak, namun lambat menunaikan kewajiban.

Dan ini bukan hanya pemimpin negara. Ayah di rumah, guru di sekolah, ustadz di mimbar, pengurus masjid, ketua komunitas—semua bisa terjatuh dalam dosa muthaffifin jika standar keadilan hanya berlaku untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Bentuk kedua adalah para muthaffifin dalam muamalah. Bukan hanya mengurangi timbangan, tapi mengurangi kejujuran, mengurangi transparansi, mengurangi amanah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا

“Siapa yang menipu, maka ia bukan bagian dari kami.” (HR. Muslim).

Termasuk kecurangan hari ini adalah:

  • menampilkan citra islami, tapi praktik bisnisnya zalim
  • berbicara halal, tapi akadnya manipulatif.
  • menjual dengan sumpah, tapi menyembunyikan cacat

Lebih berbahaya lagi ketika agama dijadikan alat legitimasi untuk transaksi yang batil. Ini bukan sekadar dosa muamalah, tapi dosa atas nama agama.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Inilah bagian yang paling halus namun paling merusak: para muthaffifin dalam manhaj dan beragama.

Yaitu ketika seseorang mengaku mengikuti Sunnah, tetapi hanya mengambil bagian yang menguntungkan dirinya, dan meninggalkan bagian yang menuntut keadilan, adab, dan kejujuran.

Ia keras dalam masalah bid’ah orang lain, tapi longgar terhadap kezhaliman dirinya.

Ia lantang bicara manhaj salaf, tapi sunyi dari akhlak salaf.

Ia cepat melabeli orang, tapi payah dalam menasihati dengan adab.

Para ulama salaf mengingatkan bahwa Ahlus Sunnah itu dikenal dengan keadilan dan keseimbangan, bukan dengan kezhaliman dan hawa nafsu.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa keadilan adalah ruh syariat. Ketika seseorang membawa dalil namun menggunakannya untuk menekan, membungkam, dan menyingkirkan tanpa hak, maka itu bukan sunnah — itu kezhaliman yang dibungkus dalil.

Fenomena ini muncul ketika manhaj tidak lagi menjadi jalan menuju kebenaran, tetapi berubah menjadi alat kekuasaan dan pengelompokan. Standar keras untuk lawan, standar lunak untuk kawan. Kesalahan kelompok sendiri ditoleransi, kesalahan pihak lain dibesar-besarkan.

Akibatnya bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang-orang yang saling memboikot, saling tidak mengucapkan salam, saling mendiamkan dan tidak berinteraksi, hanya lantaran perbedaan pandangan dalam masalah dan kasus tertentu dalam Islam.

Inilah model muthaffifin dalam timbangan manhaj.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum mendorong kalian untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. al-Ma’idah: 8).

Keadilan, jamaah sekalian, bukan sesuatu yang bisa kita pilih atau tidak. Bersikap adil adalah sebuah kewajiban. Bersikap adil adalah inti dari takwa pada Allah.

Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita termasuk orang yang merasa paling sunnah, tapi ternyata paling muthaffif dalam sikap.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Fenomena muthaffifin yang kita bahas bukan sekadar fenomena sosial, tapi penyakit hati. Penyakit merasa benar, namun enggan dinasihati. Semangat mengoreksi orang lain, tapi enggan diberikan masukan dan diluruskan. Penyakit menimbang orang lain dengan timbangan dosa, namun menimbang diri sendiri dengan timbangan uzur.

Dalam konteks penegakan hukum, fenomena muthaffifin ini berwujud dalam tebang pilih penegakan hukum. Tumpul ke atas, tapi selalu tajam ke bawah. Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang fenomena ini dengan mengatakan:

إِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ

“Yang membinasakan umat sebelum kalian adalah: jika orang terpandang mencuri mereka membiarkannya, tapi jika orang lemah mencuri mereka menegakkan hukuman untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah standar ganda. Inilah muthaffifin. Dan inilah sebab kehancuran umat. Inilah yang merusak tatanan bernegara dan berbangsa.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Karena itu, untuk menghadapi fenomena muthaffifin yang dilaknat oleh Allah ini, kita harus selalu mengingat hal-hal berikut ini:

Pertama, luruskan niat dalam beragama. Jadikan kebenaran sebagai tujuan, bukan kemenangan kelompok dan fanatisme.

Kedua, biasakan menghisab diri sebelum menghisab orang lain.

Ketiga, berlaku adil meski terhadap yang kita benci, dan jujur meski terhadap orang yang kita cintai.

Semoga Allah Ta’ala menjaga hati kita semua dan membersihkannya dari penyakit keculasan seperti para muthaffifin.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Hari ini, marilah kita terus menjadi bagian mereka yang terus bekerja untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Sumatra. Siapkan semua bentuk dukungan yang bis akita berikan. Kita doakan agar Allah mengganti kesedihan mereka dengan ketenangan, kehilangan mereka dengan karunia, dan musibah mereka dengan ampunan dan rahmat.

Hari-hari ini, kita juga tidak bosan-bosannya terus mengingatkan untuk: Jangan pernah lupakan Gaza! Jangan lupakan saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi para Nabi dan Rasul, di bumi al-Quds, meskipun telah terjadi kesepakatan gencatan senjata, tapi perjuangan membebaskan bumi al-Aqsha sama sekali belum selesai! Karena penjajahan kaum Zionis Yahudi masih tetap eksis di sana entah sampai kapan.

Mintalah agar Allah menjaga iman kita, menjaga keluarga kita, menjaga ketenangan negeri kita, dan menjaga seluruh nikmat yang kita genggam hari ini.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.