mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘7 Amalan Dahsyat Ramadhan’ (Edisi 105, 2 Ramadhan 1447 H).
Naskah selengkapnya:

‘7 AMALAN DAHSYAT RAMADHAN…’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Alhamdulillah, akhirnya tibalah kita semua di Jum’at pertama di bulan Ramadhan ini…
Allah masih memanjangkan usia kita hingga bertemu kembali dengan bulan yang agung: bulan Ramadhan. Bulan yang Allah jadikan sebagai madrasah taqwa, bulan yang Allah tetapkan sebagai musim panen bagi orang-orang beriman. Ramadhan bukan sekadar “bulan menahan lapar dan dahaga”. Ramadhan adalah bulan menghidupkan iman, memurnikan tauhid, menata ulang arah hidup, dan memperbanyak amal shalih yang ikhlas mengikuti Sunnah Nabi ﷺ.
Allah Ta’ala berfirman tentang Ramadhan:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah: 185).
Maka, orang yang cerdas menyambut Ramadhan bukan yang paling heboh rencana buka puasanya—tetapi yang paling serius mengisi Ramadhan dengan amal yang mendekatkan dirinya kepada Allah.
Dan di antara “amalan-amalan dahsyat” yang diwariskan oleh Nabi ﷺ dan dicontohkan oleh para salaf, ada tujuh amalan besar yang bila dijaga, insya Allah Ramadhan kita berubah menjadi tangga menuju ampunan dan derajat tinggi di sisi Allah.
Amalan pertama: menghidupkan malam dengan qiyam, tarawih, dan witir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barangsiapa berdiri (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 37, Muslim no. 759).
Bahkan Nabi ﷺ memberi kabar gembira bagi yang menjaga tarawih berjamaah hingga imam selesai. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
Artinya: “Sesungguhnya seseorang jika shalat bersama imam sampai imam selesai, ditulis baginya pahala qiyam satu malam.” (HR. Tirmidzi—hasan shahih, juga diriwayatkan Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah).
MasyaAllah… betapa Allah mudahkan jalan pahala bagi kita. Tinggal menjaga komitmen: jangan putus di tengah.Ikuti imam hingga selesai, dan kita dicatat seperti melakukan shalat sepanjang malam.
Dan lihatlah semangat salaf dalam menunaikan Qiyamullail…
Diriwayatkan bahwa istri Habib Abu Muhammad pernah membangunkan suaminya di malam hari dengan kalimat yang menggetarkan:
“قَدْ ذَهَبَ اللَّيْلُ وَبَيْنَ أَيْدِينَا طَرِيقٌ بَعِيدٌ، وَزَادُنَا قَلِيلٌ، وَقَوَافِلُ الصَّالِحِينَ قَدْ سَارَتْ قُدَّامَنَا، وَنَحْنُ قَدْ بَقِينَا.”
“Malam hampir pergi, sementara di depan kita jalan masih jauh. Bekal kita sedikit. Kafilah orang-orang shalih sudah berjalan jauh di depan kita, sedangkan kita masih tertinggal.”
Kalimat ini bukan untuk membuat putus asa, tapi untuk menyadarkan: perjalanan akhirat panjang, sedangkan umur kita pendek. Maka Ramadhan adalah momen mengejar kafilah itu.
Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah berkata:
“إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي اللَّيْلِ فَيَهُولُنِي، فَأُصْبِحُ حِينَ أُصْبِحُ وَمَا قَضَيْتُ مِنْهُ أَرْبِي.”
“Aku masuk ke dalam malam (untuk ibadah) dan malam itu terasa begitu besar, lalu aku masuk pagi, sementara aku belum menunaikan kebutuhan (ibadah)ku darinya.”
Dan Ibn Juraij berkata: ia menemani ‘Atha’ bin Abi Rabah selama delapan belas tahun. Setelah tua dan lemah pun, ‘Atha’ tetap berdiri shalat membaca dua ratus ayat dari surat Al-Baqarah, berdiri tegak tanpa banyak bergerak.
Itu bukan sekadar kisah; itu cermin-bahwa ruh qiyam itu adalah cinta kepada Allah.
Amalan kedua: memperbanyak doa.
Di antara bukti agungnya doa di Ramadhan: Allah menurunkan ayat doa di tengah rangkaian ayat-ayat puasa:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku…” (QS. Al-Baqarah: 186).
Seakan Allah berkata: saat kamu lapar, jangan hanya ingat makanan. Saat kamu lemah, ingat Rabbmu. Doa adalah bukti tauhid: kita mengakui tidak ada tempat bergantung selain Allah.
Nabi ﷺ bersabda:
“الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ”
“Doa itu adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud; dishahihkan sejumlah ulama).
Dan Allah menyebut doa sebagai ibadah dalam firman-Nya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Artinya: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60).
Maka, jamaah sekalian, jangan remehkan doa. Doa ketika berpuasa, doa saat sahur, doa saat berbuka, doa setelah tarawih, doa di sepertiga malam—semuanya ada ladang ibadah yang luar biasa. Bawalah daftar doa: untuk iman kita, untuk anak, untuk keluarga, untuk rezeki yang halal, untuk hati yang istiqamah, untuk negeri yang aman, untuk kematian husnul khatimah.
Amalan ketiga: i’tikaf, khususnya sepuluh akhir.
Dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: “Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 1921, مسلم no. 1171)
I’tikaf bukan sekadar “bermalam di masjid”.
I’tikaf adalah memutus keramaian agar hati kembali utuh bersama Allah.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan hikmahnya dengan sangat indah: bahwa lurusnya hati bergantung pada “berkumpulnya” hati kepada Allah; sementara banyak makan-minum, banyak bergaul, banyak bicara, banyak tidur, membuat hati tercerai-berai; maka Allah syariatkan puasa dan i’tikaf agar hati fokus kepada Allah, menyendiri bersama-Nya, sehingga zikir dan cinta kepada Allah menguasai ruang hati, menggantikan kesibukan yang melalaikan. (Lih: Mukhtashar Zaadil Ma‘aad 2/86–87)
Jamaah rahimakumullah, kalau belum mampu i’tikaf penuh sepuluh hari, jangan tinggalkan sama sekali. Lakukan yang mampu dan memungkinkan bagi Anda: i’tikaf beberapa malam, atau beberapa jam setelah Ashar hingga Isya, atau di akhir pekan—yang penting ruhnya adalah: mendekat kepada Allah, dan menepi dari dunia yang sibuk.
Amalan keempat: kedermawanan dan dekat dengan Al-Qur’an.
Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ… فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Artinya: “Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan paling dermawan ketika Ramadhan saat Jibril menemuinya… Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 6, Muslim no. 2308).
Ramadhan mendidik kita: lapar membuat kita ingat orang lapar; haus membuat kita peka pada yang kekurangan. Maka berkomitmenlah untuk bersedekah di setiap hari Ramadhan, sekecil apapun itu, dengan niat meneladani Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sementara Al-Qur’an dan Ramadhan adalah 2 sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Nabi ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ…
Artinya: “Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat…” (HR. Ahmad no. 6589, sanadnya shahih).
Para salaf mencontohkan kesungguhan mereka dengan al-Qur’an yang membuat kita malu.
Ada yang mengkhatamkan tiap tiga malam, ada yang tujuh, sepuluh. Disebutkan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan dalam sehari. Imam asy-Syafi’i rahimahullah disebut memiliki enam puluh kali khatam di Ramadhan (di luar shalat). Al-Aswad membaca tiap dua malam. Imam Malik bila Ramadhan masuk, meninggalkan majelis hadits dan fokus tilawah mushaf. Sufyan ats-Tsauri pun demikian, dan az-Zuhri memilih sibuk dengan tilawah.
Amalan kelima: umrah di bulan Ramadhan bagi yang Allah mudahkan.
Nabi ﷺ bersabda kepada seorang wanita Anshar:
فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي فِيهِ؛ فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ حَجَّةٌ
Artinya: “Jika datang Ramadhan, berumrahlah; karena umrah di Ramadhan setara (pahalanya) dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1690, Muslim no. 1256).
Namun ingat, jamaah sekalian: ini bagi yang mampu, aman, dan tidak menelantarkan kewajiban. Jangan sampai mengejar umrah tapi meninggalkan hak keluarga, hutang, atau amanah. Bila belum mampu, pintu pahala Ramadhan tetap sangat luas—dengan qiyam, doa, Qur’an, sedekah, dan akhlak mulia.
Amalan keenam: menjaga lisan dan meninggalkan maksiat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari no. 1804).
Ini tamparan keras untuk kita semua. Ini adalah pengingat yang luar biasa untuk kita. Bahwa puasa bukan hanya puasa perut. Puasa juga puasa lisan, puasa mata, puasa telinga, puasa jari-jemari dari mengetik dosa, puasa pikiran dari prasangka dan kebencian.
Ramadhan adalah peluang besar untuk meninggalkan rokok, meninggalkan pergaulan buruk, meninggalkan tontonan haram, meninggalkan begadang di atas maksiat. Siang dan malam bulan Ramadhan mengkondisikan kita untuk lebih dekat kepada Allah, untuk lebih baik dengan meninggalkan kebiasaan buruk dan dosa selama ini.
Maka, hanya manusia bodoh yang melewatkan kesempatan baik ini, wallahul Musta’an…
Amalan ketujuh: memberi makan dan berbagi ifthar.
Allah memuji hamba-hamba-Nya:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا…
Artinya: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. (Seraya berkata): ‘Sesungguhnya kami memberi makan kalian hanya karena mengharap wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih…’” (QS. Al-Insan: 8–12).
Dan Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Artinya: “Barangsiapa memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa, ia mendapat pahala seperti pahala orang itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746; dishahihkan Al-Albani).
Para salaf sangat memuliakan amal ini.
Sampai ada yang berkata, “Sungguh, jika aku mengundang sepuluh sahabatku lalu aku beri mereka makanan yang mereka suka, itu lebih aku cintai daripada memerdekakan sepuluh budak keturunan Ismail.”
Ini bukan meremehkan amalan lain, tetapi menunjukkan: memberi makan itu amal yang besar, karena menghidupkan kasih sayang, menguatkan ukhuwah, dan meringankan beban orang beriman.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…
Inilah tujuh amalan dahsyat di Ramadhan: qiyam, doa, i’tikaf, derma dan Qur’an, umrah bagi yang mampu, meninggalkan dosa lisan dan maksiat, serta memberi makan. Tetapi semua itu harus dibangun di atas fondasi utama: tauhid yang lurus, ikhlas karena Allah, dan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ. Tanpa itu, amal mudah menjadi rutinitas kosong atau sekadar kebanggaan.
Mari kita muhasabah: Ramadhan ini, kita ingin berubah menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah. Jangan tunggu “Ramadhan nanti-nanti”. Jangan tunggu “sepuluh terakhir”. Ambil sejak awal. Karena kita tidak tahu, apakah ini Ramadhan terakhir kita atau bukan.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Di khutbah pertama tadi kita telah mengingat tujuh amalan besar yang membuat Ramadhan kita “hidup”: menghidupkan malam dengan qiyam, memperbanyak doa, merasakan nikmatnya i’tikaf, memperbanyak tilawah dan sedekah, umrah bagi yang mampu, menjaga lisan dan meninggalkan maksiat, serta memberi makan untuk berbuka dan membantu sesama.
Sekarang mari kita kunci semua itu dengan pesan yang sangat penting: bahwa semua kebaikan itu bernilai jika kita menjaga 2 hal mendasar:
Pertama, luruskan niat dan kuatkan ikhlas. Kita shalat tarawih bukan karena “ingin dilihat rajin”, bukan karena “tak enak sama teman”, bukan karena “malu kalau pulang cepat”. Kita berdiri di hadapan Allah karena kita butuh ampunan-Nya. Kita baca Qur’an karena kita ingin Allah berbicara kepada hati kita. Kita sedekah bukan agar dipuji, tetapi agar dosa-dosa kita dipadamkan.
Kedua, jaga ittiba’ kepada Nabi ﷺ. Jangan membuat-buat ritual yang tidak ada tuntunannya. Ramadhan adalah bulan Sunnah, bukan bulan kreativitas ibadah tanpa dalil. Ibadah yang paling indah adalah yang paling sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ.
Jamaah sekalian rahimakumullah…
Jadikan doa sebagai senjata utama Ramadhan. Jangan hanya sibuk meminta dunia. Mintalah hidayah. Mintalah hati yang hidup. Mintalah akhir yang baik. Mintalah ampunan untuk orang tua. Mintalah keselamatan keluarga. Mintalah kebaikan negeri dan kaum muslimin. Dan jangan lupa: doa terbaik adalah doa yang lahir dari hati yang tunduk, bukan hati yang lalai.
Ya Allah, sempurnakan Ramadhan ini untuk kami dalam keadaan iman dan sehat.
Ya Allah, jadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terbaik dalam hidup kami.
Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa kaum muslimin seluruhnya.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Gaza dan di setiap negeri yang tertindas.
Ya Allah, lindungi anak-anak mereka, sembuhkan yang terluka, kuatkan yang lemah, dan berikan kesabaran kepada mereka.
Ya Allah, perbaiki keadaan kaum muslimin dan satukan hati-hati mereka di atas tauhid dan sunnah.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



