spot_img

Khutbah Jum’at: Memahami Tanda Akhir Zaman (Edisi 112, 20 Syawal 1447 H)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Memahami Tanda Akhir Zaman’ (Edisi 112, 20 Syawal 1447 H).

‘MEMAHAMI TANDA AKHIR ZAMAN’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kita bersyukur pada Allah Ta’ala atas kesempatan berharga di hari mulia ini, kesempatan untuk bersujud kepada Allah. Kesempatan untuk merawat kembali ketakwaan kita pada Allah Ta’ala.

Maka, kami ingatkan kembali diri kami dan jamaah sekalian, bahwa tidak kekayaan paling berharga melebihi ketakwaan pada Allah. Takwa pada Allah sajalah satu-satunya bekal paling berguna untuk kitab bawa pulang ke Negeri Akhirat, kampung halaman kita yang sesungguhnya.

Jamaah Jum’at yang berbahagia!

Dalam kehidupan kita hari ini, salah satu fenomena yang semakin sering kita jumpai: banyak orang sangat tertarik membicarakan tanda-tanda kiamat dan berbagai fitnah akhir zaman.

Setiap ada peristiwa besar, langsung dikaitkan dengan hadits. Setiap ada tokoh, langsung dicocokkan dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam riwayat.

Padahal, jika kita kembali kepada bimbingan para ulama dan kaidah yang benar dalam memahami nash, kita akan dapati bahwa Islam mengajarkan sikap yang sangat seimbang dan tenang dalam menghadapi perkara ini.

Sebagaimana dijelaskan dalam teks yang kita jadikan rujukan hari ini , ada beberapa kaidah penting yang harus kita pegang.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pertama, kita harus memahami bahwa hari kiamat adalah perkara ghaib. Artinya, ia berada di luar jangkauan akal manusia. Kita hanya mengetahui sebatas apa yang Allah dan Rasul-Nya kabarkan.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا

“Sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya.” (QS. Thaha: 15).

Artinya, kita wajib yakin bahwa kiamat pasti terjadi.

Allah juga berfirman:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ

“Hari kiamat itu sudah dekat.” (QS. Al-Qamar: 1).

Namun sekaligus Allah tegaskan:

قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي

“Katakanlah: ilmu tentang kapan terjadinya hanya di sisi Rabbku.” (QS. Al-A’raf: 187).

Dari sini kita belajar satu prinsip penting: kita beriman kepada kiamat, tetapi kita tidak boleh sibuk menebak-nebak kapan waktunya. Inilah bentuk pemurnian akidah (tashfiyah): kita percaya sesuai dalil, tanpa menambah-nambah dengan spekulasi.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Kaidah kedua yang sangat penting adalah: kita wajib mengimani semua hadits tentang peristiwa fitnah dan tanda-tanda kiamat, tetapi tidak perlu memaksakan mencocokkannya dengan kejadian yang sedang terjadi pada hari ini.

Bahasa sederhananya: tidak semua peristiwa hari ini harus kita “cocok-cocokkan” dengan hadits, alias “cocokologi”. Mengapa? Karena jika kita terlalu memaksakan, kita bisa terjatuh pada berbicara tanpa ilmu. Dan ini sangat berbahaya.

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36).

Para ulama terdahulu—para sahabat dan generasi salaf—mereka beriman kepada semua berita tentang fitnah Akhir Zaman, tetapi mereka tidak sibuk menebak-nebak atau memastikan dan mengatakan: “Pasti inilah yang dimaksud”.

Mereka menjaga diri dari prasangka yang tidak berdasar, apalagi atas nama agama.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Realita hari ini menunjukkan, ketika kaidah ini dilanggar, dampaknya sangat berbahaya. Ada orang yang terlalu bersemangat menafsirkan tanda kiamat, tanda akhir zaman,  lalu membangun kesimpulan sendiri. Bahkan sampai berujung pada kegaduhan, perpecahan, bahkan tindakan yang melanggar syariat.

Padahal agama ini tidak dibangun di atas dugaan, tetapi di atas ilmu.

Namun demikian, Islam juga tidak melarang kita untuk memiliki “perkiraan” secara umum. Bahkan para sahabat pun pernah menduga sesuatu terkait tanda kiamat.

Dalam hadits riwayat Muslim, Nabi ﷺ bersabda:

إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ فَأَنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ

“Jika Dajjal keluar sementara aku masih di tengah kalian, maka aku yang akan menghadapinya.” (HR. Muslim).

Artinya, para sahabat pernah merasa mungkin saja Dajjal sudah dekat kemunculannya.

Namun perhatikan, itu hanya sebatas dugaan, bukan kepastian.

Karena itu, jamaah sekalian, para ulama memberikan batasan dan panduan penting, yaitu:

Pertama, tetap dalam batas dugaan, bukan keyakinan pasti. Karena itu, jika ia hanya dugaan dan asumsi, tidak boleh dipaksakan.

Kedua, tidak berusaha “mewujudkan” tanda-tanda itu dengan tindakan kita. Seperti sebagian kelompok yang terlalu kemaruk-berlebihan tentang “Imam Mahdi”, dimana semua ideologinya dibangun di atas “penantian atas kehadiran Imam Mahdi”, yang kemudian dijadikan landasan untuk membuat keyakinan-keyakinan baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Ketiga, tidak membuat kita lalai dari kewajiban sehari-hari sebagai seorang muslim.

Nah, poin ketiga ini sangat penting!

Jangan sampai kita sibuk membahas akhir zaman, tetapi melupakan shalat.
Jangan sampai kita sibuk membahas Dajjal, tetapi lupa memperbaiki akhlak.
Jangan sampai kita sibuk membaca tanda-tanda kiamat, tetapi lalai dari taubat.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Inilah pelajaran besar untuk kita: tujuan utama kita bukan menebak kapan kiamat, tetapi mempersiapkan diri menghadapinya. Karena sesungguhnya, bagi setiap kita, “kiamat kecil” itu adalah kematian. Dan kematian bisa datang kapan saja.

Maka yang paling penting bukan: kapan kiamat terjadi, Tetapi: bagaimana kondisi kita saat menghadapinya. Apakah kita dalam keadaan taat? Atau justru dalam keadaan bermaksiat?

Di sinilah kita perlu banyak bermuhasabah.

Mari kita renungkan dalam hati kita masing-masing: jika hari ini adalah hari terakhir kita hidup di dunia, apa yang akan kita sesali? Kurangnya shalat? Kurangnya sedekah?
Kurangnya taubat?

Maka mulai hari ini, mari kita fokus memperbaiki itu semua.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Karena itu, kita harus memahami bahwa sikap yang benar terhadap tanda-tanda kiamat adalah: beriman tanpa berlebihan, dan fokus pada amal.

Sekarang, apa yang harus kita lakukan agar kita siap menghadapi akhir hidup kita?

Rasulullah ﷺ memberikan kaidah yang sangat tegas:

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya, yang paling menentukan adalah bagaimana kita mengakhiri hidup kita. Maka, seseorang bisa terlihat seperti ahli surga di mata manusia, tetapi akhirnya masuk neraka. Dan sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh merasa aman dengan amal kita.

Maka, semoga Allah Ta’ala menjaga iman dan tauhid kita menjalani akhir zaman ini hingga berjumpa dengan Allah dalam keadaan husnul khatimah.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sekali lagi saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian untuk bertakwa kepada Allah. Ketahuilah, istiqamah di atas amal saleh adalah bekal terbesar menuju husnul khatimah.

Banyak orang ingin akhir yang baik, tetapi tidak semua orang mau menempuh jalannya. Padahal akhir yang baik biasanya lahir dari kebiasaan baik yang dijaga terus-menerus.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dalam khutbah pertama, kita telah mengetahui bahwa sebelum Hari Kiamat nanti terjadi, sesungguhnya setiap kita akan menghadapi kiamatnya sendiri yang bernama kematian.

Dan impian tertinggi kita sebagai seorang muslim adalah meraih kematian yang berujung dengan husnul khatimah.

Agar kita mendapatkan husnul khatimah, ada beberapa langkah sederhana namun sangat penting untuk kita konsisten menjalaninya:

Pertama, perbanyak taubat setiap hari. Jangan menunda. Karena kita tidak tahu kapan ajal datang.

Allah berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا

“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah.” (QS. An-Nur: 31).

Kedua, jaga amal wajib dengan serius: menjaga tauhid dan menjauhi kesyirikan, menjaga shalat, dan ibadah-ibadah wajib lainnya.

Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan mimpi dan obsesi besar, sibuk bicara soal pembebasan Palestina misalnya, tapi tauhid tidak dijaga, syirik dikerjakan, shalat diabaikan.

Ketiga, perbanyak doa agar diberi akhir yang baik.

Di antara doa Nabi ﷺ:

«اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi).

Keempat, gunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Karena waktu terus berjalan, dan tidak akan pernah kembali.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ 

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ  

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.