mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Dunia Hanya Singgah…’ (Edisi 114, 6 Dzulqa’dah 1447 H).
Untuk selengkapnya:

“DUNIA HANYA SINGGAH…“
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kita bersyukur pada Allah Ta’ala atas kesempatan berharga di hari mulia ini, kesempatan untuk bersujud kepada Allah. Kesempatan untuk merawat kembali ketakwaan kita pada Allah Ta’ala.
Maka, kami ingatkan kembali diri kami dan jamaah sekalian, bahwa tidak kekayaan paling berharga melebihi ketakwaan pada Allah. Takwa pada Allah sajalah satu-satunya bekal paling berguna untuk kitab bawa pulang ke Negeri Akhirat, kampung halaman kita yang sesungguhnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Aku wasiatkan kepada diriku dan kepada kalian semua untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Karena hanya dengan takwa, hati menjadi hidup, langkah menjadi lurus, dan kehidupan kita mendapatkan arah yang benar.
Jamaah sekalian,
Di tengah hiruk-pikuk dunia hari ini yang semakin tak terkira, marilah kita merenung lebih dalam tentang hakikat kehidupan yang sedang kita jalani ini…
Dalam sebuah ungkapan yang sarat hikmah disebutkan:
اَلدُّنْيَا دَارُ مَمَرٍّ وَالْآخِرَةُ دَارُ مَقَرٍّ
“Dunia adalah tempat persinggahan, sedangkan akhirat adalah tempat menetap.”.
Ungkapan ini bukan sekadar kalimat motivasi, tetapi merupakan ringkasan dari seluruh pandangan Islam tentang kehidupan. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan hanya jembatan yang harus dilalui. Namun, betapa sering kita memperlakukan jembatan ini seolah-olah rumah tinggal yang kekal, kita hiasi, kita banggakan, bahkan kita pertaruhkan agama demi memperindahnya.
Allah ﷻ telah mengingatkan dengan peringatan yang sangat tegas:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kalian, dan jangan pula penipu (setan) memperdayakan kalian tentang Allah.” (QS. Fathir: 5).
Ayat ini menyingkap satu penyakit besar dalam hati manusia: tertipu oleh dunia. Bukan karena dunia itu indah semata, tetapi karena hati yang tidak terlatih untuk mengingat akhirat.
Akhirnya kita selalu menjadikan dunia sebagai ukuran segala sesuatu—bahagia diukur dengan harta, mulia diukur dengan jabatan, sukses diukur dengan kemewahan.
Kaum Muslimin yang berbahagia!
Hakikat mujahadah terhadap dunia bukanlah dengan meninggalkan dunia secara fisik, melainkan menanggalkan ketergantungan hati terhadapnya.
Seorang mukmin boleh kaya, boleh memiliki usaha, boleh hidup layak, tetapi hatinya tidak bergantung kepada itu semua. Dunia berada di tangannya, bukan di dalam hatinya.
Rasulullah ﷺ menggambarkan rendahnya nilai dunia dengan perumpamaan yang sangat menggugah hati. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِالسُّوقِ، وَالنَّاسُ كَنَفَتَيْهِ، فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ، فَتَنَاوَلَهُ، فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ، ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هٰذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ، وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ، فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: “فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هٰذَا عَلَيْكُمْ”.
“Rasulullah ﷺ pernah melewati pasar, sementara orang-orang mengelilinginya. Lalu beliau melihat bangkai anak kambing yang telinganya terpotong. Beliau memegang telinganya lalu bersabda: ‘Siapa di antara kalian yang ingin memiliki ini dengan satu dirham?’
Mereka menjawab: ‘Kami tidak ingin memilikinya sama sekali.’
Beliau bersabda: ‘Apakah kalian ingin itu menjadi milik kalian?’
Mereka berkata: ‘Demi Allah, jika ia hidup saja sudah cacat, apalagi dalam keadaan mati.’
Maka beliau bersabda: ‘Demi Allah, dunia lebih hina di sisi Allah daripada ini di sisi kalian.’”
Hadits ini seharusnya mengguncang cara pandang kita. Sesuatu yang begitu kita kejar siang dan malam ternyata di sisi Allah lebih hina dari bangkai yang tidak bernilai.
Namun, mengapa kita tetap mengejarnya tanpa batas?
Kenapa kita rela mengorbankan apa saja untuk memilikinya?
Kenapa kita sampai hati menjatuhkan orang lain untuk merebutnya secara zhaalim?
Semua itu, karena hati kita belum benar-benar memahami tujuan penciptaan. Allah ﷻ berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ * مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ * إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan tidak pula menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang memiliki kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56–58).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…
Ayat ini menegaskan bahwa orientasi hidup seorang mukmin adalah ibadah, bukan sekadar mengumpulkan dunia. Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan.
Namun realitas hari ini menunjukkan sesuatu yang menyedihkan…
Katanya kita menginginkan akhirat, tetapi waktu, tenaga, dan pikiran kita habis untuk dunia. Kita mengaku mencintai Allah, tetapi yang paling kita khawatirkan adalah kehilangan harta, bukan kehilangan iman. Dahulu orang-orang memberikan dunia waktu yang tersisa dari akhirat mereka, sedangkan sekarang manusia memberikan akhirat sisa-sisa waktu dari waktu dunia mereka yang tersisa.
Marilah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada hati kita…
Untuk apa sebenarnya kita hidup? Ke mana semua ini akan berakhir?
Jika hari ini kita dipanggil oleh Allah, apakah kita siap meninggalkan semua yang kita cintai?
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…
Rasulullah ﷺ memberikan solusi yang sangat jelas:
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ، جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina.”.
Inilah kebahagiaan yang sejati: hati yang kaya, bukan sekadar harta yang banyak.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah…
Sesungguhnya inti dari kehidupan ini bukanlah berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi berapa banyak yang kita bawa menuju akhirat.
Dunia ini akan kita tinggalkan, suka atau tidak.
Salah satu gambaran paling menyentuh tentang sikap Nabi ﷺ terhadap dunia adalah kisah sebuah peristiwa sederhana, namun sarat makna yang diceritakan oleh Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
نَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى حَصِيرٍ، فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً، فَقَالَ: “مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا“.
Artinya:
“Rasulullah ﷺ pernah tidur di atas tikar, lalu bangun dan terlihat bekas pada lambung beliau. Kami berkata: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami buatkan untukmu alas yang lebih empuk?’ Maka beliau bersabda: ‘Apa hubunganku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya.’” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad – hadits shahih).
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Perhatikan… Rasulullah ﷺ bukannya tidak mampu hidup mewah. Beliau bisa, bahkan sangat bisa, jika beliau mau. Tapi beliau memilih hidup sederhana, karena beliau tahu hakikat dunia.
Dunia ini bukan tempat tinggal…tapi tempat singgah. Bukan tujuan… tapi perjalanan.
Seperti seorang musafir yang lelah di tengah jalan; ia berhenti sejenak di bawah pohon, berteduh dari terik matahari. Tapi apakah ia akan membangun rumah di sana? Tidak. Ia akan segera melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhirnya. Begitulah kehidupan kita.
Sering kali kita terbalik…yang sementara kita kejar mati-matian, yang kekal justru kita abaikan.
Padahal Nabi ﷺ telah memberi petunjuk yang jelas: bahwa dunia ini hanya persinggahan singkat, dan akhirat adalah tempat tinggal yang sesungguhnya.
Bukan berarti kita meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi jangan sampai dunia memenuhi hati kita.
Gunakan dunia di tangan kita, tapi jangan biarkan ia masuk ke dalam hati kita.
Karena siapa yang sibuk dengan dunia semata, ia akan lelah… dan tidak sampai. Namun siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan, maka dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memahami hakikat dunia,
dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk kehidupan yang abadi.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam sisa usia yang masih Allah berikan untuk kita hari ini, marilah kita memperbaiki orientasi hidup kita kembali:
- Jadikan akhirat sebagai tujuan utama
- Gunakan dunia sebagai sarana menuju ridha Allah
- Perbanyak sedekah dan amal saleh
- Kurangi ketergantungan hati kepada manusia dan harta
Karena sesungguhnya kebahagiaan bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada hubungan kita dengan Allah.
Marilah kita lanjutkan hidup kita ini dengan kembali menguatkan satu pesan penting, yaitu: jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Rahmat Allah selalu luas terbentang bagi siapapun yang ingin kembali kepada Allah, bagi siapapun yang ingin menjemput Rahmat itu dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Karena itu, Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87).
Ayat ini sangat tegas mengingatkan kita semua, bahwa putus asa adalah sifat yang bertentangan dengan iman. Putus asa dari Rahmat Allah adalah sifat orang-orang kafir yang selalu menjauh dari Allah. Maka setiap kali hati kita mulai gelap, segera kembalilah kepada Allah.
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Mari kita jadikan hidup ini penuh dengan amal shalih, kebaikan dan Kebajikan. Perbanyak istighfar. Perbanyak shalat dan doa. Jaga lisan dari keluhan yang berlebihan. Tanamkan optimisme yang bersumber dari iman.
Dan yang paling penting, ajarkan keluarga kita untuk tidak mudah putus asa. Karena generasi yang kehilangan harapan adalah generasi yang mudah terseret dalam maksiat dan penyimpangan.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



