mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Allah Sudah Mengatur Semuanya’ (Edisi 115, 14 Dzulqa’dah 1447 H).
Untuk selengkapnya:

‘ALLAH SUDAH MENGATUR SEMUANYA…‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan yang tidak berhenti pada lisan, tetapi meresap ke dalam hati, memengaruhi cara kita berpikir, dan membimbing setiap langkah kehidupan kita.
Karena ketakwaan itulah yang akan menjadi satu-satunya bekal pulang kita menuju perjalanan panjang dan abadi kita di Akhirat nanti. Allah Ta’ala mengingatkan:
وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
“Dan berbekallah kalian, karena sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kalian kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (Surah al-Baqarah: 187).
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hidup ini seringkali membuat kita merasa lelah. Kita berusaha, kita merencanakan, kita berharap, tetapi tidak sedikit dari apa yang kita inginkan justru berjalan berbeda. Di titik inilah keimanan kita diuji: apakah kita benar-benar percaya bahwa Allah mengatur segalanya dengan sempurna, ataukah kita hanya percaya ketika takdir itu sesuai dengan keinginan kita?
Di antara bekal terbesar seorang mukmin dalam menjalani hidup adalah percaya kepada pengaturan Allah. Percaya bahwa Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan takdir. Percaya bahwa Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita amat terbatas. Percaya bahwa di balik pintu yang tertutup, mungkin Allah sedang menjaga kita dari sesuatu yang membahayakan.
Di balik doa yang belum terkabul, mungkin Allah sedang menyiapkan waktu yang lebih indah. Di balik kehilangan yang menyakitkan, mungkin Allah sedang membersihkan hati kita dari keterikatan yang berlebihan kepada dunia.
Allah Ta’ala berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Dan boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia lebih baik untuk kalian. Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal ia buruk untuk kalian. Dan Allah itu Maha mengetahui, tapi kalian tidak mengetahui.” (Surah al-Baqarah: 216).
Ayat ini bukan sekadar informasi, tetapi bimbingan hidup. Ia mengajarkan bahwa ukuran baik dan buruk dalam pandangan manusia seringkali sempit dan terbatas. Kita menilai sesuatu dari apa yang tampak hari ini, sementara Allah melihat seluruh perjalanan hidup kita—bahkan hingga akhir kehidupan dan akhirat kita.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Perjalanan para nabi adalah cermin nyata tentang bagaimana takdir Allah bekerja di luar logika manusia, namun selalu berujung pada kebaikan.
Seorang ibu rela berlari-lari di antara Shafa dan Marwah, mencari air untuk bayinya, di tengah padang tandus yang tidak menjanjikan kehidupan. Keletihan, kegelisahan, dan ketidakpastian bercampur menjadi satu. Namun dari usaha dan tawakal itu, Allah keluarkan air zamzam yang tidak hanya menyelamatkan satu keluarga, tetapi menjadi sumber kehidupan bagi jutaan manusia hingga hari ini.
Seorang ibu yang lain harus melepaskan bayinya ke aliran sungai demi menyelamatkannya dari kezaliman. Secara kasat mata, itu adalah kehilangan. Namun justru dari aliran itu, Allah mengantarkan bayi tersebut tumbuh di istana musuhnya sendiri, hingga kelak menjadi sebab runtuhnya kezaliman itu.
Begitu pula Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Beliau dilempar ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah, lalu dipenjara. Jika kita hanya melihat satu potongan kisah, semuanya tampak gelap. Tetapi Allah sedang menyusun akhir yang indah. Sumur bukan akhir kisah Yusuf. Perbudakan bukan akhir kisah Yusuf. Penjara bukan akhir kisah Yusuf. Semua itu hanyalah jalan menuju kemuliaan yang Allah siapkan.
Dan Rasulullah ﷺ, manusia terbaik yang pernah berjalan di muka bumi ini, mengalami pengusiran, penghinaan, bahkan ancaman pembunuhan. Namun setiap luka yang beliau alami adalah bagian dari jalan panjang menuju kemuliaan yang Allah janjikan.
Semua ini mengajarkan bahwa takdir Allah tidak selalu mudah dipahami di awal, tetapi tidak pernah salah di akhir.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh mengagumkan urusan hidup seorang mukmin, seluruh urusannya kebaikan belaka dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin. Bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.” (HR. Muslim).
Seorang mukmin hidup di antara dua keadaan: nikmat dan ujian. Namun keduanya sama-sama menjadi jalan kebaikan. Ketika diberi kelapangan, ia bersyukur, dan syukurnya mengangkat derajatnya. Ketika diuji, ia bersabar, dan sabarnya menghapus dosa-dosanya.
Inilah cara pandang yang membedakan seorang mukmin dengan selainnya. Ia tidak melihat peristiwa hanya dari permukaan, tetapi dari iman yang tertanam dalam hatinya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Seringkali kita merasa sempit karena rezeki, gelisah karena masa depan, dan takut terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Padahal Allah telah mengatur semuanya dengan ukuran yang paling tepat.
Allah berfirman:
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ
“Dan andai Allah membentangkan rezki itu kepada hamba-hambaNya, pastilah mereka akan berbuat zhalim di muka bumi.” (Surah al-Syura: 27).
Betapa banyak manusia yang jika diberi kelapangan tanpa batas justru akan melampaui batas. Maka ketika Allah menahan sebagian dari dunia ini dari kita, bisa jadi itu adalah bentuk penjagaan, bukan penghalangan.
Kadang kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan karena Allah tidak mampu memberikannya, tetapi karena Allah mengetahui bahwa hal itu akan merusak kita.
Kadang kita kehilangan sesuatu yang kita cintai, bukan karena Allah tidak sayang kepada kita, tetapi karena Allah ingin menyelamatkan hati kita dari ketergantungan kepada selain-Nya.
Dan kadang kita harus melewati jalan yang panjang dan melelahkan, bukan karena Allah ingin menyulitkan kita, tetapi karena Allah sedang menyiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di sinilah letak keindahan iman kepada takdir. Ia menenangkan hati yang gelisah, meneguhkan jiwa yang rapuh, dan menguatkan langkah yang hampir terhenti.
Orang yang benar-benar yakin kepada Allah tidak akan tenggelam dalam penyesalan masa lalu, dan tidak pula tersiksa oleh kecemasan masa depan. Ia hidup di hari ini dengan penuh kesungguhan, sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Maka tanamkan dalam hati kita: bahwa setiap yang Allah tetapkan pasti memiliki hikmah, meskipun kita belum memahaminya saat ini.
Mari kita memperkuat satu keyakinan besar: bahwa hidup ini berjalan di atas ketentuan Allah yang Maha Bijaksana.
Bukan berarti kita berhenti berusaha. Justru seorang mukmin adalah orang yang paling sungguh-sungguh dalam ikhtiar. Namun setelah semua usaha dilakukan, hatinya tidak bergantung pada usaha itu, tetapi bergantung kepada Allah.
Karena usaha bisa gagal, tetapi takdir Allah tidak pernah salah.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Banyak kegelisahan dalam hidup ini lahir karena kita ingin mengendalikan sesuatu yang sebenarnya bukan wilayah kita. Kita ingin memastikan hasil, padahal tugas kita hanya berusaha. Kita ingin mengetahui masa depan, padahal itu adalah rahasia Allah.
Padahal jika kita merenung, rezeki kita telah ditentukan, ajal kita telah ditetapkan, dan setiap peristiwa dalam hidup kita telah tertulis dengan sangat rinci.
Percaya kepada Allah berarti hati kita yakin bahwa tidak ada yang luput dari ilmu-Nya. Tidak ada doa yang sia-sia di sisi-Nya. Tidak ada kesabaran yang tidak bernilai. Tidak ada musibah yang datang tanpa hikmah. Tidak ada kehilangan yang Allah biarkan tanpa ganti, selama seorang hamba tetap beriman dan berharap kepada-Nya.
Maka apabila rezeki terasa sempit, jangan tempuh jalan haram.
Apabila doa belum terkabul, jangan berhenti berdoa.
Apabila sakit belum sembuh, jangan putus asa dari rahmat Allah.
Apabila manusia mengecewakan, jangan hilang keyakinan kepada Rabb manusia.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Seorang mukmin berjalan di antara dua sayap: usaha dan tawakal. Ia bersungguh-sungguh dalam sebab, tetapi hatinya bersandar kepada Allah. Ia bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaan. Ia menabung, tetapi tidak menganggap tabungan sebagai penjamin hidup. Ia berobat, tetapi tidak meyakini obat sebagai penyembuh mutlak. Ia meminta nasihat manusia, tetapi keputusan hatinya tetap ia gantungkan kepada Allah.
Jangan habiskan umur hanya untuk mencemaskan sesuatu yang sudah Allah jamin. Jangan biarkan jiwa tenggelam dalam penyesalan terhadap masa lalu yang tidak bisa kembali. Jangan rusak hari ini dengan ketakutan terhadap masa depan yang belum tentu terjadi.
Tugas kita adalah taat hari ini. Bertobat hari ini. Memperbaiki hubungan dengan Allah hari ini. Menjaga amanah hari ini. Menyambung silaturahim hari ini. Meminta maaf hari ini. Memperbanyak istighfar hari ini.
Jamaah sekalian,
Sungguh indah hidup orang yang percaya kepada Allah. Dadanya lebih lapang. Langkahnya lebih tenang. Ia tidak mudah hancur oleh kehilangan, karena ia tahu semua milik Allah. Ia tidak sombong ketika diberi, karena ia tahu semua itu titipan Allah. Ia tidak putus asa ketika diuji, karena ia tahu ujian itu sementara, sedangkan pahala kesabaran kekal di sisi Allah.
Maka marilah kita pulang dari khutbah ini dengan hati yang lebih tenang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, tetapi kita tahu Allah Maha Mengetahui. Kita tidak mampu mengatur seluruh jalan hidup, tetapi kita tahu Allah sebaik-baik pengatur. Kita tidak selalu kuat, tetapi kita punya Rabb Yang Mahakuat.
Marilah kita akhiri khutbah ini dengan doa, memohon kepada Allah agar diberikan hati yang tenang dan iman yang kokoh.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



