spot_img

Khutbah Jum’at: Sambutlah Dzulhijjah yang Mulia (Edisi 117, 27 Dzulqa’dah 1447 H)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Sambutlah Dzulhijjah yang Mulia’ (Edisi 117, 27 Dzulqa’dah 1447 H).

Untuk selengkapnya:

Sambutlah Dzulhijjah yang Mulia

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan yang tidak berhenti pada lisan, tetapi meresap ke dalam hati, memengaruhi cara kita berpikir, dan membimbing setiap langkah kehidupan kita.

Karena ketakwaan itulah yang akan menjadi satu-satunya bekal pulang kita menuju perjalanan panjang dan abadi kita di Akhirat nanti. Allah Ta’ala mengingatkan:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

Dan berbekallah kalian, karena sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kalian kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.”  (Surah al-Baqarah: 197).

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝٢ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka. Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (Surah at-Thalaq: 2-3).

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Manusia hidup di antara senang dan susah, lapang dan sempit, sehat dan sakit, harapan dan kecemasan. Kadang rumah tangga diuji, pekerjaan diuji, anak-anak diuji, negeri-negeri kaum Muslimin diuji.

Di zaman ini, hati manusia juga sering lelah oleh berita, pertengkaran, komentar, dan hiruk-pikuk dunia digital. Banyak orang tampak sibuk, tetapi hatinya kosong. Banyak yang terhubung dengan manusia, tetapi terputus dari Allah. Banyak yang kuat dalam pendapat, tetapi lemah dalam ibadah.

Maka ketika Allah membukakan untuk kita musim ketaatan, janganlah kita menjadi orang yang lalai.

Di antara musim yang paling agung adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Hari-hari yang Allah muliakan. Hari-hari yang amal saleh di dalamnya sangat dicintai oleh Allah.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan membawa apa pun.”

Hadits ini menunjukkan bahwa Dzulhijjah bukan hanya tentang musim haji bagi yang berangkat ke Tanah Suci, atau musim berkurban bagi yang mampu berkurban.

Dzulhijjah juga musim kembali kepada Allah bagi kita semua. Yang berhaji mendekat kepada Allah dengan ihram, thawaf, sa’i, wukuf, dan manasik. Yang tidak berhaji pun tetap dibukakan pintu amal: shalat, puasa, sedekah, takbir, dzikir, membaca Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua, memperbaiki keluarga, menolong sesama, dan meninggalkan maksiat.

Marilah kita merenung sejenak. Berapa banyak hari berlalu tanpa makna?

Berapa banyak waktu habis untuk layar kecil di tangan kita, tetapi sedikit sekali waktu untuk mushaf?

Berapa banyak jari kita cepat mengetik komentar, tetapi lambat mengangkat tangan untuk berdoa?

Berapa banyak hati kita semangat menggebu karena urusan dunia, tetapi dingin ketika mendengar ayat Allah?

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Menyambut sepuluh hari Dzulhijjah hendaknya dimulai dengan taubat. Sebelum memperindah amal, bersihkan dulu hati. Sebelum menambah ibadah, tinggalkan dosa yang menghalangi keberkahan. Maksiat melemahkan hati, memadamkan cahaya iman, dan menjauhkan seorang hamba dari taufik Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Barang siapa berbuat kejahatan atau menzalimi dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jangan berkata, “Dosa saya terlalu banyak.”

Jangan berkata, “Saya sudah terlalu jauh.”

Pintu Allah tidak pernah sempit bagi hamba yang kembali. Allah tidak memerintahkan istighfar kecuali karena Dia hendak mengampuni.

Maka sambutlah hari-hari mulia ini dengan lisan yang basah oleh istighfar, hati yang menyesal, dan tekad yang jujur untuk berubah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”

Menyambut sepuluh hari Dzulhijjah juga harus dengan ikhlas. Amal yang besar bisa menjadi kecil bila dicampuri riya. Amal yang tampak sederhana bisa menjadi agung bila dikerjakan karena Allah. Ikhlas berarti kita mencari wajah Allah, bukan pujian manusia. Ikhlas berarti kita tetap beramal walau tidak dilihat orang. Ikhlas berarti kita tidak kecewa ketika kebaikan kita tidak disebut, tidak dipuji, dan tidak diviralkan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”

Oleh karena itu, amal pertama yang harus kita jaga adalah yang wajib. Jangan sampai seseorang bersemangat mengejar amalan sunnah, tetapi melalaikan shalat lima waktu. Jangan sampai ia ingin berkurban, tetapi masih memakan harta haram. Jangan sampai ia banyak berbicara tentang keutamaan Dzulhijjah, tetapi menyakiti orang tua, menzalimi pasangan, atau mengabaikan anak-anaknya.

Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Allah berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya.”

Maka jagalah shalat. Shalat tepat waktu, dengan thuma’ninah, dengan hati yang hadir. Jaga pula hak manusia. Bayar utang. Tunaikan amanah. Jaga lisan. Jangan jadikan Dzulhijjah hanya sebagai tema kajian, tetapi jadikan ia sebagai titik perubahan.

Setelah yang wajib dijaga, perbanyaklah amal sunnah. Siapa yang mudah baginya shalat sunnah, perbanyaklah shalat. Siapa yang dimudahkan bersedekah, bersedekahlah. Siapa yang dimudahkan membantu orang lain, bantulah.

Siapa yang dimudahkan membahagiakan orang tua, pasangan, anak, tetangga, dan kerabat, lakukanlah. Sebab amal saleh itu luas. Ibadah bukan hanya di sajadah, tetapi mencakup setiap ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Di antara amalan yang sangat ditekankan pada hari-hari ini adalah memperbanyak dzikir, takbir, tahlil, dan tahmid. Allah Ta’ala berfirman:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah diketahui.”

Sebagian salaf, di antaranya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, menafsirkan “hari-hari yang diketahui” dengan sepuluh hari Dzulhijjah. Maka hidupkanlah rumah kita dengan takbir. Hidupkan kendaraan kita dengan dzikir. Hidupkan lisan kita dengan:

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illallah, wallahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.”

Dzikir membuat hati merasa diawasi Allah. Ketika seseorang ingat bahwa Allah melihatnya, ia malu untuk bermaksiat. Ketika ia tergelincir, ia segera beristighfar. Ketika ia diberi nikmat, ia bersyukur. Ketika ia diuji, ia bersabar. Inilah buah dzikir yang benar: bukan hanya lisan bergerak, tetapi hati hidup dan anggota badan taat.

Jamaah sekalian yang berbahagia,

Bagi yang mampu, disunnahkan pula berpuasa pada hari-hari ini, terutama puasa Arafah  pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang tidak berhaji. Puasa mengajarkan kita menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari marah, dusta, ghibah, dan syahwat yang haram. Bagi yang hendak berkurban, hendaknya ia menyiapkan kurbannya dengan niat yang ikhlas, harta yang halal, dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.

Dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi ﷺ memerintahkan orang yang hendak berkurban untuk tidak memotong rambut dan kukunya ketika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sampai ia menyembelih kurbannya.

Bagi yang Allah pilih untuk berhaji, bergembiralah dengan pilihan Allah. Betapa banyak orang ingin pergi, tetapi belum mampu. Betapa banyak yang rindu melihat Ka’bah, tetapi masih tertahan. Maka luruskan niat, halalkan bekal, jaga lisan, pilih teman yang baik, dan pahami bahwa perjalanan haji bukan sekadar perjalanan badan, tetapi perjalanan hati menuju Rabbul ‘Alamin.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Di hari-hari yang mulia ini, perbanyaklah doa. Doakan diri kita agar istiqamah. Doakan keluarga agar menjadi keluarga yang shalih. Doakan anak-anak agar dijaga dari fitnah zaman. Doakan orang tua, guru-guru, kaum Muslimin, negeri ini, dan saudara-saudara kita yang sedang tertindas.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”

Marilah kita jadikan sepuluh hari Dzulhijjah sebagai musim perbaikan. Perbaiki shalat. Perbaiki niat. Perbaiki keluarga. Perbaiki akhlak. Perbaiki hubungan dengan Al-Qur’an. Perbaiki cara kita menggunakan waktu. Karena hari-hari ini terbatas. Kesempatan tidak selalu kembali. Orang yang cerdas adalah orang yang mengetahui nilai waktunya sebelum waktu itu pergi meninggalkannya.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ringkasnya, sepuluh hari Dzulhijjah adalah hadiah dari Allah bagi hati yang ingin pulang. Sambutlah dengan taubat, bukan dengan kelalaian. Sambutlah dengan ikhlas, bukan dengan pamer amal. Sambutlah dengan menjaga kewajiban, memperbanyak sunnah, berdzikir, bertakbir, berpuasa bagi yang mampu, berkurban bagi yang Allah lapangkan rezekinya, dan berdoa dengan hati yang tunduk.

Jangan biarkan hari-hari terbaik berlalu seperti hari biasa. Jangan biarkan dunia mengambil seluruh perhatian kita. Sesungguhnya umur kita pendek, perjalanan kita panjang, dan bekal terbaik adalah takwa.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan memanjatkan doa kepada Allah Azza wa Jalla:

Ya Allah, sampaikan kami kepada hari-hari mulia Dzulhijjah dalam keadaan sehat, aman, dan lapang. Berilah kami taufik untuk memperbanyak amal saleh di dalamnya. Terimalah taubat kami, puasa kami, shalat kami, sedekah kami, kurban kami, haji saudara-saudara kami, dan seluruh amal kebaikan kami.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, guru-guru kami, keluarga kami, dan seluruh kaum Muslimin. Sayangilah orang tua kami sebagaimana mereka menyayangi kami ketika kecil. Bimbing anak-anak kami agar menjadi penyejuk mata, penjaga shalat, pencinta Al-Qur’an, dan hamba-hamba yang shalih.

Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam. Satukan hati kami di atas kebenaran. Jauhkan kami dari permusuhan, fitnah, perpecahan, dan akhlak yang buruk. Berikan kepada para ulama kami keikhlasan, hikmah, dan penjagaan. Berikan kepada para pemimpin kami hidayah, keadilan, amanah, dan rasa takut kepada-Mu. Jadikan negeri kami negeri yang aman, diberkahi, dan dijauhkan dari bencana, kerusakan, serta kezaliman.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Beri makan yang lapar, sembuhkan yang sakit, lindungi yang lemah, tenangkan yang ketakutan, dan angkatlah penderitaan mereka dengan rahmat-Mu.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ 

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ  

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.