Seni Bersyukur dan Menghadapi Hakikat Kematian

mim.or.id – Setiap manusia senantiasa diliputi oleh nikmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya, sehingga mustahil bagi siapa pun untuk mampu menghitung nikmat-nikmat tersebut secara rinci.

Sebagai bentuk pengabdian, seorang Muslim berkewajiban untuk mensyukuri nikmat tersebut agar tidak terjerumus ke dalam sifat kufur dan kesombongan.

Tiga Pilar Utama dalam Mensyukuri Nikmat

Pertama, adalah mensyukuri dengan lisan (asyukru bilisan), yaitu dengan senantiasa membasahi lidah dengan pujian kepada Allah dan dzikir.

Mengucapkan “Alhamdulillah” saat mendapatkan nikmat berfungsi untuk mengembalikan segala keutamaan kepada Allah sekaligus meruntuhkan sifat ujub dan sombong dalam hati.

Kedua, syukur harus dilakukan dengan keyakinan hati bahwa segala daya dan upaya hanyalah karena perkenan Allah.

Ketiga, syukur diwujudkan melalui peningkatan amalan saleh, seperti bersegera memenuhi seruan adzan dan memakmurkan masjid.

Kemampuan seseorang untuk melangkahkan kaki ke masjid merupakan bentuk taufik dan hidayah yang sangat besar, karena banyak orang yang kuat secara fisik namun merasa berat untuk beribadah.

Baca Juga: Dihadapan Wisudawan PQ Putra, Direktur MIM: Jangan Pernah Tinggalkan Al-Qur’an

Dunia sebagai Ujian dan Teladan Nabi Sulaiman

Segala kelebihan yang diberikan Allah, baik berupa harta, pangkat, maupun jabatan, pada hakikatnya adalah ujian (fitnah) untuk melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur.

Allah memberikan contoh nyata melalui Nabi Sulaiman Alaihissalam yang diberikan kekuasaan luar biasa, mulai dari pasukan jin, manusia, hingga kemampuan memerintah angin.

Meskipun memiliki segalanya, Nabi Sulaiman tidak sedikit pun menjadi sombong.

Beliau justru berdoa agar tetap diberi petunjuk untuk bersyukur dan mengakui bahwa semua kelebihan itu adalah karunia dari Tuhannya untuk mengujinya.

Pelajaran penting bagi kita adalah jangan sampai diperbudak oleh dunia, karena kehidupan dunia hanyalah senda gurau dan kesenangan yang menipu.

Misteri Kematian dan Urgensi Persiapan Diri

Satu hal yang pasti namun sering dilupakan adalah kematian yang bisa datang kapan saja tanpa rahasia. Umur umat Nabi Muhammad secara umum berkisar antara 60 hingga 70 tahun, dan sangat sedikit yang melampaui batasan itu.

Baca Juga: Turut Hadir dalam Wisuda Santri PQ, Kesra Makassar: MIM Sumber Inspirasi!

Kematian tidak memandang status kesehatan, usia, maupun kekayaan seseorang. Ada orang sehat yang mati tiba-tiba, sementara ada orang sakit yang terus bertahan hidup.

Kematian adalah rahasia Allah di mana tidak ada satu pun jiwa yang tahu kapan dan di mana ajalnya akan menjemput.

Oleh karena itu, fokus utama seorang mukmin bukanlah mempertanyakan kapan kematian itu datang, melainkan apa yang telah dipersiapkan untuk menghadap Allah.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.