Khutbah Jum’at: Tiada yang Abadi (Edisi 129, 23 Safar 1448 H)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at dengan tema ‘Tiada yang Abadi’ (Edisi 129, 23 Safar 1448 H).

Naskah selengkapnya:

TIADA YANG ABADI

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal yang tidak akan rusak, kekayaan yang tidak akan hilang, dan cahaya yang akan menemani seorang hamba ketika seluruh cahaya dunia telah padam.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Kehidupan dunia yang sedang kita jalani bukanlah tempat tinggal yang abadi. Dunia bukanlah tempat pembalasan yang sempurna. Dunia adalah tempat ujian, tempat manusia berganti-ganti antara kelapangan dan kesempitan, antara kesehatan dan sakit, antara pertemuan dan perpisahan, antara tawa dan tangisan.

Tidak ada satu pun keadaan dunia yang terus bertahan. Orang yang hari ini berada di atas, besok mungkin berada di bawah. Orang yang hari ini sehat, esok mungkin terbaring sakit. Orang yang hari ini dikelilingi keluarga, pada suatu saat akan berpisah dengan mereka. Rumah yang dibangun bertahun-tahun akan ditinggalkan. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah akan diwariskan. Jabatan yang diperebutkan pada akhirnya akan diserahkan kepada orang lain.

Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27).

Inilah hakikat yang sering kita ketahui, tetapi mudah kita lupakan: tiada yang abadi selain Allah. Apa pun yang kita cintai di dunia akan berubah, berkurang, rusak, atau meninggalkan kita. Bahkan tubuh yang setiap hari kita rawat, suatu saat akan melemah dan kembali menjadi tanah.

Namun, saudara-saudaraku,

Dunia tidak diciptakan tanpa tujuan. Dunia diciptakan sebagai tempat ujian. Allah Ta’ala berfirman:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35).

Perhatikanlah ayat ini. Allah tidak hanya menguji manusia dengan keburukan, tetapi juga dengan kebaikan. Kemiskinan adalah ujian, tetapi kekayaan juga ujian. Penyakit adalah ujian, tetapi kesehatan pun ujian. Kesedihan adalah ujian, tetapi kegembiraan juga ujian. Tidak dikenal adalah ujian, tetapi popularitas dan kedudukan juga merupakan ujian.

Orang miskin diuji: apakah ia bersabar, tetap menjaga kehormatan, tetap bekerja dengan cara yang halal, dan tidak berburuk sangka kepada Allah?

Orang kaya diuji: apakah ia bersyukur, menunaikan zakat, membantu orang yang membutuhkan, tidak sombong, dan tidak menganggap kekayaannya sebagai hasil kecerdasannya semata?

Orang sakit diuji dengan kesabaran. Orang sehat diuji dengan penggunaan waktu dan kekuatannya. Orang yang mengalami kesulitan diuji agar tidak berputus asa. Orang yang mendapatkan kemudahan diuji agar tidak lalai dan terlena.

Oleh karena itu, kelapangan rezeki bukanlah bukti pasti bahwa seseorang dimuliakan Allah. Demikian pula kesempitan rezeki bukanlah bukti bahwa seseorang dihinakan Allah.

Allah Ta’ala mengingatkan:

﴿فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۝ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ۝ كَلَّا﴾

Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17).

Kata “Kalla”, sekali-kali tidak, membantah ukuran manusia yang keliru. Kekayaan tidak selalu berarti kemuliaan. Kemiskinan tidak selalu berarti kehinaan. Kemuliaan yang sebenarnya terletak pada ketakwaan, ketaatan, dan keselamatan hati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi, aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian berlomba-lomba memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba memperebutkannya, sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (Hadis sahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dunia menjadi berbahaya bukan karena ia berada di tangan, tetapi ketika ia menguasai hati. Harta yang berada di tangan dapat digunakan untuk bersedekah, menolong keluarga, membangun masjid, membantu pendidikan, dan meringankan kesulitan kaum muslimin. Namun ketika harta masuk ke dalam hati, manusia mulai mengukur segala sesuatu dengan keuntungan materi.

Ia memilih teman karena kekayaan. Ia menghormati orang karena jabatan. Ia merendahkan orang miskin. Ia berani meninggalkan salat karena pekerjaan. Ia menipu dalam perdagangan. Ia mengambil hak orang lain. Ia mengorbankan kejujuran demi keuntungan yang hanya dinikmati sebentar.

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memahami keseimbangan ini. Abu Bakar dan Utsman radhiyallahu ‘anhuma dikenal sebagai pedagang yang memiliki harta. Akan tetapi, harta tidak memperbudak hati mereka. Ketika agama membutuhkan, mereka berada di barisan terdepan dalam berinfak.

Pada sisi yang lain, banyak sahabat hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Namun kemiskinan tidak merendahkan kehormatan mereka. Hati mereka kaya dengan iman, keyakinan, dan pengharapan kepada Allah.

Mereka bukanlah orang-orang yang meninggalkan usaha dengan alasan zuhud. Mereka juga bukan orang-orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Mereka bekerja, berdagang, bertani, dan mencari rezeki, tetapi hati mereka tetap bergantung kepada Allah.

Zuhud bukan berarti tidak memiliki apa-apa. Zuhud adalah tidak menjadikan sesuatu yang fana sebagai tujuan tertinggi kehidupan. Zuhud adalah ketika kehilangan dunia tidak menghancurkan iman kita, dan ketika mendapatkan dunia tidak membuat kita melupakan Allah.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Kita hidup pada masa ketika manusia sering dinilai dari apa yang ditampakkannya. Rumah yang besar, kendaraan yang mahal, pakaian yang bermerek, jumlah pengikut di media sosial, dan gaya hidup yang terlihat mewah sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan.

Akibatnya, sebagian orang memaksakan diri agar tampak kaya meskipun hidup dalam utang. Sebagian merasa rendah diri karena membandingkan kehidupannya dengan potongan kebahagiaan orang lain yang ditampilkan di layar. Sebagian anak muda mengira bahwa nilai dirinya bergantung pada jumlah perhatian yang ia dapatkan di dunia digital.

Padahal semua itu hanya menampilkan beberapa detik kehidupan seseorang. Di balik senyum mungkin ada kegelisahan. Di balik kemewahan mungkin ada utang. Di balik popularitas mungkin ada kesepian. Di balik pujian manusia mungkin terdapat hati yang jauh dari Allah.

Janganlah kita tertipu oleh penampilan dunia. Allah tidak melihat bentuk tubuh dan banyaknya harta kita. Allah melihat hati dan amal perbuatan kita.

Marilah kita merenung sejenak…

Berapa banyak perkara dunia yang dahulu sangat kita inginkan, tetapi setelah mendapatkannya ternyata tidak memberikan ketenangan?

Berapa banyak perselisihan terjadi karena sesuatu yang beberapa tahun kemudian tidak lagi berarti?

Berapa banyak orang mengorbankan keluarga, kesehatan, ibadah, dan kejujurannya demi mengejar sesuatu yang akan ia tinggalkan ketika mati?

Tidak salah mencari kehidupan yang layak. Tidak salah memiliki rumah yang nyaman, kendaraan yang baik, usaha yang maju, atau kedudukan yang tinggi. Yang berbahaya adalah ketika semua itu membuat kita lalai dari salat, mengabaikan keluarga, menzalimi orang lain, dan melupakan akhirat.

Dunia tidak tercela pada zatnya. Dunia menjadi tercela ketika melalaikan kita dari Allah, memutus persaudaraan, merusak akhlak, dan menjadikan manusia lupa bahwa ia akan kembali kepada Rabb-nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Jadilah engkau di dunia seakan-akan seorang yang asing atau seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Al-Bukhari).

Seorang musafir memanfaatkan bekalnya, tetapi tidak membangun seluruh cita-citanya di tempat persinggahan. Ia tahu bahwa perjalanan masih panjang. Ia beristirahat, tetapi tidak lupa tujuan. Ia menggunakan apa yang diperlukan, tetapi tidak membawa beban yang akan menyulitkannya.

Demikianlah seharusnya seorang mukmin memandang dunia. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan lupakan akhirat. Sayangilah keluarga, tetapi ingatlah bahwa suatu hari akan berpisah. Gunakanlah harta, tetapi jangan diperbudak olehnya. Raihlah cita-cita, tetapi jangan menjadikan keberhasilan dunia sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan.

Apa yang ada di sisi kita akan habis. Apa yang ada di sisi Allah akan kekal.

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ

Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.” (QS. An-Nahl: 96).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita kembali mengingat bahwa rezeki berada di tangan Allah. Apa yang Allah tetapkan untuk kita tidak akan tertukar. Apa yang telah ditakdirkan menimpa kita tidak akan meleset, dan apa yang tidak ditakdirkan untuk kita tidak akan mengenai kita.

Namun, keyakinan terhadap takdir tidak berarti meninggalkan usaha. Tawakal bukanlah kemalasan. Tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ﴾

Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian. Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kalian dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15).

Ayat ini menggabungkan antara usaha dan iman. Kita diperintahkan berjalan, bekerja, dan mencari rezeki. Namun kita juga diingatkan bahwa rezeki itu milik Allah dan bahwa kita akan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan cara mendapatkannya.

Karena itu, bekerjalah, tetapi carilah yang halal. Berdaganglah, tetapi jangan menipu. Menjabatlah, tetapi jangan berkhianat. Gunakanlah teknologi, tetapi jangan menyebarkan keburukan. Didiklah anak-anak kita agar memiliki keterampilan hidup, tetapi jangan lupa mendidik iman, salat, kejujuran, dan rasa takut kepada Allah.

Apabila rezeki sedang terasa sempit, jangan berputus asa. Bisa jadi kesempitan itu menjadi pintu kedekatan kepada Allah, sekolah kesabaran, dan sebab diangkatnya derajat.

Apabila rezeki sedang dilapangkan, jangan terlena. Bersyukurlah dengan ketaatan, sedekah, kerendahan hati, dan kepedulian kepada sesama.

Orang beriman berada dalam kebaikan selama ia menunaikan kewajibannya. Ketika diberi nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa kesulitan, ia bersabar. Ketika berbuat dosa, ia segera bertobat. Ketika diberi kesempatan, ia menggunakannya untuk beramal.

Semoga Allah menjadikan dunia berada di tangan kita, bukan menguasai hati kita. Semoga Allah menjadikan setiap nikmat sebagai jalan menuju ketaatan, dan setiap musibah sebagai sebab bertambahnya kesabaran.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ajarkanlah kepada keluarga kita bahwa harga diri tidak terletak pada banyaknya harta. Nilai seorang manusia terletak pada agama, kejujuran, amanah, ilmu, dan akhlaknya.

Katakanlah kepada anak-anak kita: jangan malu hidup sederhana selama rezeki diperoleh dengan halal. Jangan iri kepada kemewahan orang lain. Jangan mengorbankan kehormatan demi pengakuan manusia. Jangan menjual agama demi kenikmatan yang singkat.

Sebab semua yang kita lihat akan berlalu.

Masa muda akan berubah menjadi tua. Kekuatan akan menjadi kelemahan. Pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Kehidupan akan berakhir dengan kematian. Setelah itu, manusia tidak lagi ditanya tentang merek pakaiannya, bentuk kendaraannya, atau luas rumahnya. Ia akan ditanya tentang iman, salat, amanah, harta, umur, dan amal perbuatannya.

Maka berjalanlah di dunia dengan langkah orang yang sadar. Berusahalah seperti orang yang bertanggung jawab. Bersandarlah kepada Allah seperti orang yang yakin. Persiapkanlah akhirat seperti orang yang mengetahui bahwa kematian dapat datang kapan saja.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.

Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, berikanlah kekuatan dan perlindungan kepada para pekerja yang mencari nafkah di bawah terik matahari. Jagalah para petani, nelayan, pedagang kecil, pengemudi, petugas kebersihan, pekerja bangunan, dan seluruh hamba-Mu yang bekerja keras untuk keluarganya.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.