mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at dengan tema ‘Kemerdekaan Sejati’ (Edisi 130, 1 Rabiul Awal 1448 H).
Naskah selengkapnya:

‘KEMERDEKAAN SEJATI‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab ketakwaan bukan hanya bekal menuju akhirat, tetapi juga sumber kekuatan untuk menjalani kehidupan dunia yang penuh perubahan. Orang yang bertakwa tidak berarti orang yang hidupnya selalu mudah, tetapi ia memiliki pegangan ketika keadaan menjadi sulit, memiliki arah ketika banyak jalan membingungkan, dan memiliki tempat kembali ketika berbagai sandaran dunia mulai rapuh.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Ketika kita mendengar kata kemerdekaan, biasanya pikiran kita tertuju kepada sebuah bangsa yang bebas dari penjajahan, kepada tanah air yang tidak lagi berada di bawah kekuasaan bangsa lain, serta kepada rakyat yang memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri. Kemerdekaan semacam itu adalah nikmat yang sangat besar, yang harus disyukuri dan dijaga.
Namun Islam mengajarkan kepada kita bahwa ada bentuk penjajahan yang lebih halus daripada penjajahan terhadap tanah dan wilayah, yaitu ketika hati manusia dikuasai oleh terlalu banyak “tuan dan Tuhan”.
Tubuhnya memang bebas, tetapi hatinya ditarik ke berbagai arah. Ia ingin taat kepada Allah, tetapi pada saat yang sama ia takut kepada manusia. Ia ingin hidup sederhana, tetapi gengsi menuntutnya tampil lebih tinggi daripada kemampuannya. Ia ingin jujur, tetapi ketakutan kehilangan penghasilan mendorongnya untuk berkompromi. Ia ingin tenang, tetapi kehidupannya terus diukur dengan apa yang dimiliki orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang keadaan ini:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Allah membuat perumpamaan seorang laki-laki yang dimiliki oleh beberapa orang yang berselisih, dan seorang laki-laki yang menjadi milik penuh seorang saja. Apakah keduanya sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 29).
Perhatikanlah perumpamaan ini…
Bayangkan seorang budak yang memiliki banyak tuan, sementara setiap tuannya memiliki keinginan yang berbeda. Yang satu menyuruhnya pergi ke kanan, yang lain menyuruhnya ke kiri. Yang satu menuntut pekerjaan ini, yang lain menghendaki pekerjaan yang berbeda. Betapa lelah kehidupannya, karena ia tidak pernah mempunyai satu arah yang jelas.
Kemudian bandingkan dengan seorang yang hanya memiliki satu tuan. Ia mengetahui kepada siapa ia harus taat, mengetahui apa yang harus dikerjakan, dan tidak tercerai-berai oleh banyak tuntutan.
Demikian pula keadaan hati manusia.
Apabila Allah menjadi satu-satunya Rabb yang kita sembah dan kepada-Nya hati kita bersandar, kehidupan pasti akan memiliki arah yang jelas. Namun ketika hati mulai memberikan bagian penghambaan kepada dunia, manusia, hawa nafsu, gengsi, ketakutan, dan pujian orang lain, hati akan mengalami kelelahan yang tidak pernah selesai.
Ada orang yang sejak pagi sampai malam hidup memikirkan apa kata orang.
Ketika membeli rumah, ia memikirkan apakah rumah itu akan membuat orang lain kagum.
Ketika membeli kendaraan, ia memikirkan bagaimana pandangan tetangga.
Ketika memilih pakaian, ia memikirkan bagaimana orang menilainya.
Ketika mengunggah sesuatu di media sosial, ia menunggu pujian, jumlah suka, komentar, dan pengakuan.
Akhirnya hidupnya tidak lagi ditentukan oleh apa yang Allah sukai, tetapi oleh apa yang manusia sukai.
Inilah salah satu bentuk penjajahan modern yang sering tidak kita sadari.
Dahulu manusia mungkin dijajah dengan senjata, tetapi hari ini seseorang bisa dijajah oleh layar kecil di tangannya. Ia melihat kehidupan orang lain setiap hari, kemudian membandingkannya dengan kehidupannya sendiri. Rumah orang lain terlihat lebih bagus, kendaraan orang lain terlihat lebih mewah, perjalanan orang lain terlihat lebih menyenangkan, keluarga orang lain terlihat lebih bahagia. Ia pun mulai merasa hidupnya kurang, padahal boleh jadi Allah telah memberinya begitu banyak nikmat.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Allah berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23).
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia dapat diperbudak oleh sesuatu yang berada di dalam dirinya sendiri, yaitu hawa nafsunya.
Ia tidak menyembah patung, tetapi setiap keinginannya harus dipenuhi. Ia tidak bersujud kepada benda, tetapi ketika hawa nafsu mengajaknya kepada dosa, ia selalu menurutinya. Ketika ingin membeli sesuatu, ia harus memilikinya meskipun tidak benar-benar membutuhkannya. Ketika marah, ia harus melampiaskannya. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, ia merasa hidup tidak adil.
Padahal salah satu bentuk kemerdekaan terbesar adalah ketika seseorang mampu berkata kepada dirinya sendiri, “Tidak semua yang aku inginkan harus aku miliki, tidak semua yang aku sukai harus aku ikuti, dan tidak semua yang membuatku senang berarti baik di sisi Allah.”
Orang yang tidak mampu menolak hawa nafsunya sebenarnya belum sepenuhnya merdeka.
Ia mungkin dapat pergi ke mana saja, tetapi tidak mampu meninggalkan dosa.
Ia mungkin memiliki banyak uang, tetapi tidak mampu berkata cukup.
Ia mungkin memiliki kebebasan berbicara, tetapi tidak mampu menahan lisannya.
Ia mungkin mempunyai berbagai pilihan hidup, tetapi tidak mampu memilih apa yang diridhai Allah apabila bertentangan dengan kesenangan dirinya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita hidup pada masa ketika tekanan kehidupan semakin beragam. Persaingan kerja semakin terasa, tuntutan ekonomi semakin besar, biaya hidup terus menjadi pembicaraan keluarga, sementara dunia digital terus memperlihatkan kehidupan yang seolah-olah semuanya serba mudah dan indah.
Akibatnya, sebagian orang memaksakan kehidupan yang sebenarnya tidak mampu ia tanggung. Ada yang membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. Ada yang berutang demi mempertahankan gaya hidup. Ada yang bekerja terus-menerus sampai keluarga hampir tidak mendapat waktunya, bukan seluruhnya karena kebutuhan, tetapi karena merasa harus terus mengejar standar kehidupan yang dibuat oleh manusia.
Di sinilah iman mengajarkan kemerdekaan.
Seorang mukmin belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara kehormatan dan gengsi, antara ikhtiar dan kerakusan, serta antara mencari kehidupan yang layak dan menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.
Allah tidak melarang kita memiliki harta. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kerajaan yang besar. Para sahabat juga ada yang memiliki kekayaan. Yang dilarang adalah ketika harta yang semestinya berada di tangan mulai mengambil alih hati.
Kemerdekaan bukan berarti menjadi miskin, melainkan tidak menjadi budak kekayaan.
Kemerdekaan bukan berarti meninggalkan pekerjaan, melainkan tidak menjual agama demi pekerjaan.
Kemerdekaan bukan berarti tidak peduli terhadap manusia, melainkan tidak menjadikan penilaian manusia lebih tinggi daripada penilaian Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan hanyalah dalam perkara yang baik.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini mengajarkan keberanian jiwa.
Seorang Muslim menghormati orang tua, menaati pemimpin dalam perkara yang baik, menjalankan kewajiban pekerjaan, serta menjaga hubungan dengan manusia. Namun ketika manusia memintanya melakukan sesuatu yang Allah haramkan, ia mengetahui batasnya. Ia tidak kasar, tidak sombong, tidak membuat kerusuhan, tetapi dengan tenang ia memahami bahwa ketaatan kepada makhluk tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah.
Inilah kemerdekaan yang lahir dari tauhid.
Ketika hati hanya memiliki satu Rabb, manusia menjadi lebih sulit diperbudak oleh ancaman dunia.
Jika seseorang mengetahui bahwa rezekinya berasal dari Allah, ia tidak mudah menjual prinsip demi sedikit keuntungan.
Jika seseorang mengetahui bahwa kemuliaan berasal dari Allah, ia tidak harus mengemis pujian manusia.
Jika seseorang mengetahui bahwa masa depan berada dalam ilmu Allah, ia tidak perlu menghancurkan dirinya dengan kecemasan yang berlebihan terhadap sesuatu yang belum terjadi.
Ini bukan berarti seorang Muslim menjadi pasif. Justru orang yang benar-benar bertawakal akan bekerja dengan sungguh-sungguh karena ia mengetahui bahwa Allah memerintahkan ikhtiar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi).
Perhatikanlah gambaran burung dalam hadits ini. Ia tidak tinggal diam di sarangnya. Pada pagi hari ia keluar dalam keadaan perut kosong, mengepakkan sayapnya, mencari makanan, menempuh perjalanan, lalu pada sore hari Allah mengembalikannya dalam keadaan kenyang.
Tawakal bukan berhenti bergerak, melainkan bergerak sambil mengetahui kepada siapa hati bersandar.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Dalam kehidupan yang terasa semakin berat, boleh jadi salah satu hal yang paling kita butuhkan bukan hanya tambahan penghasilan, tetapi juga pembebasan hati.
Kita membutuhkan hati yang tidak panik setiap kali keadaan berubah, karena ia mengenal Allah.
Kita membutuhkan hati yang mampu hidup sederhana tanpa merasa hina, karena ukuran kemuliaannya bukan pandangan manusia.
Kita membutuhkan hati yang mampu berkata cukup ketika dunia mengatakan tambah terus.
Kita membutuhkan hati yang mampu menolak yang haram meskipun sedang membutuhkan, karena ia yakin Allah tidak pernah memerintahkan kita mencari rezeki dengan cara yang membuat-Nya murka.
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak “tuan” yang sedang menguasai hati kita?
Apakah kita terlalu takut kehilangan penghasilan sampai berani meninggalkan kewajiban?
Apakah kita terlalu takut kepada penilaian manusia sehingga tidak berani hidup sesuai kemampuan?
Apakah kita terlalu mencintai kenyamanan sehingga ibadah selalu menjadi urusan yang dikerjakan apabila ada waktu tersisa?
Apakah kita terlalu banyak melihat kehidupan orang lain sehingga lupa mensyukuri kehidupan yang Allah berikan kepada kita?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak untuk membuat kita putus asa, tetapi agar kita mulai membersihkan hati.
Sebab selama hati memiliki terlalu banyak tuan, manusia akan selalu lelah.
Hari ini ia berusaha menyenangkan satu pihak, besok pihak yang lain. Hari ini ia mengejar satu keinginan, setelah mendapatkannya muncul keinginan berikutnya. Hari ini ia mengejar pengakuan manusia, tetapi ketika pujian datang, ia takut pujian itu hilang.
Hanya ketika hati kembali kepada Allah, manusia menemukan tempat berhenti.
Allah berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah mencukupi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36).
Maka kemerdekaan sejati bukanlah ketika manusia tidak menjadi hamba siapa pun, sebab manusia tetaplah hamba. Pertanyaannya adalah: hamba siapa?
Jika kita tidak menjadi hamba Allah, hati sangat mungkin menjadi hamba dunia, hamba hawa nafsu, hamba ketakutan, hamba penilaian manusia, atau hamba keinginan yang tidak pernah selesai.
Namun ketika seseorang menjadi hamba Allah dengan sebenar-benarnya, justru di situlah ia menjadi manusia yang merdeka.
Ia tidak perlu tunduk kepada yang haram untuk mendapatkan dunia.
Ia tidak perlu berpura-pura demi diterima manusia.
Ia tidak perlu memiliki semua yang dimiliki orang lain untuk merasa berharga.
Ia tahu siapa dirinya, ia tahu untuk apa hidupnya, dan ia tahu ke mana pada akhirnya ia akan kembali.
Semoga Allah memerdekakan hati kita dari segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya, menjadikan dunia berada di tangan kita tanpa menguasai hati kita, serta menjadikan kalimat tauhid benar-benar hidup dalam cara kita bekerja, mencari rezeki, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah sekali lagi kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika pada hari ini kita ingin membawa pulang satu pesan dari khutbah ini, maka ingatlah bahwa kemerdekaan terbesar seorang manusia bukan ketika ia bebas melakukan apa saja yang dikehendaki, melainkan ketika ia mampu membebaskan dirinya dari penghambaan kepada selain Allah.
Hawa nafsu akan selalu mempunyai permintaan baru. Dunia akan selalu menawarkan sesuatu yang lebih tinggi. Manusia akan selalu memiliki penilaian yang berbeda-beda. Jika seluruhnya kita jadikan sebagai ukuran kebahagiaan, hidup kita tidak akan pernah selesai mengejar sesuatu.
Karena itu, jangan terlalu lelah mengejar kehidupan orang lain. Bangunlah kehidupan kita sendiri dengan apa yang Allah halalkan dan sesuai kemampuan yang Allah berikan.
Jika penghasilan kita sederhana, jangan merasa hina selama berasal dari jalan yang halal. Jika rumah kita tidak semewah orang lain, jangan merasa rendah selama di dalamnya ada shalat, kasih sayang, dan rezeki yang baik. Jika kita tidak dikenal banyak manusia, jangan merasa tidak berarti selama Allah mengetahui amal kita.
Saudara-saudaraku,
Di tengah hidup yang sulit, kita memang membutuhkan pekerjaan, penghasilan yang cukup, kebijakan yang adil, serta masyarakat yang saling membantu. Akan tetapi, di samping seluruh itu, kita juga membutuhkan hati yang merdeka, sebab orang yang hidupnya sederhana tetapi hatinya merdeka bisa merasakan ketenangan, sedangkan orang yang memiliki banyak hal tetapi diperbudak ketakutan akan terus merasa kekurangan.
Maka teruslah bekerja dan berikhtiar, tetapi jangan biarkan pekerjaan menjadi tuan bagi hati. Carilah rezeki, tetapi jangan mencari rezeki dengan menggadaikan agama. Gunakan dunia sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah, bukan menjadikan ibadah sebagai sesuatu yang dikorbankan demi dunia.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.
Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, berikanlah kekuatan dan perlindungan kepada para pekerja yang mencari nafkah di bawah terik matahari. Jagalah para petani, nelayan, pedagang kecil, pengemudi, petugas kebersihan, pekerja bangunan, dan seluruh hamba-Mu yang bekerja keras untuk keluarganya.
Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.
Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



