mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at terbaru dengan tema ‘Berubahlah’ (Edisi 133, 22 Rabiul Awal 1448 H).
Naskah selengkapnya:

‘BERUBAHLAH‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan sebenar-benar ketakwaan. Ikutilah perintah-Nya, jauhilah larangan-Nya, berpeganglah kepada Kitab-Nya, dan jangan sampai kita tercerai-berai dari agama yang telah Allah turunkan.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Kita hidup di tengah dunia yang terus berubah. Wajah kota berubah, teknologi berubah, cara manusia bekerja berubah, cara orang berkomunikasi pun berubah. Anak-anak kita tumbuh dalam suasana yang sangat berbeda dengan masa kecil kita. Sesuatu yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari, hari ini selesai dalam beberapa detik. Informasi datang hampir tanpa jeda. Keinginan manusia juga berubah begitu cepat. Rumah diperbarui, kendaraan diganti, perangkat di tangan terus diperbarui, bahkan penampilan pun kita usahakan agar selalu mengikuti zaman.
Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting: di tengah begitu banyak perubahan di luar diri kita, sudahkah ada perubahan yang berarti di dalam diri kita?.
Jangan-jangan umur bertambah, tetapi kedekatan kepada Allah tidak bertambah. Pengalaman hidup semakin panjang, tetapi kesabaran tidak semakin luas. Penghasilan bertambah, tetapi syukur tidak ikut bertambah. Rumah semakin nyaman, tetapi suasana ibadah di dalamnya semakin sepi. Telepon di tangan semakin canggih, tetapi mushaf semakin jarang disentuh. Kita tahu begitu banyak tentang kehidupan orang lain melalui layar, tetapi semakin sedikit waktu yang kita sisihkan untuk memeriksa keadaan hati sendiri.
Islam mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan manusia berjalan mengikuti sunnatullah. Ada ketetapan-ketetapan Allah yang berlaku dalam kehidupan umat manusia; berulang dari zaman ke zaman dan tidak berubah hanya karena manusia menginginkan hasil yang berbeda. Allah berfirman:
فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّةَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
“Maka mereka tidak menunggu kecuali ketetapan yang telah berlaku terhadap orang-orang terdahulu. Engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah, dan tidak pula akan mendapati penyimpangan pada sunnatullah.” (QS. Fathir: 43)
Di antara sunnatullah yang paling penting untuk kita pahami adalah sunnatullah tentang perubahan.
Allah tidak mengajarkan kepada kita untuk duduk diam menunggu keadaan membaik sambil terus mempertahankan kebiasaan yang buruk. Allah tidak mengajarkan sebuah umat meminta kemuliaan sementara sebab-sebab kehinaan terus dipelihara. Allah tidak mengajarkan sebuah keluarga memohon ketenteraman sementara hak-hak Allah dan hak sesama anggota keluarga terus diabaikan.
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11).
Ayat ini sering kita dengar. Namun terkadang kita membacanya hanya ketika berbicara tentang Pembangunan fisik-materil, kemajuan ekonomi, pendidikan, atau perubahan sosial.
Padahal maknanya jauh lebih dalam. Perubahan yang pertama-tama diminta dari seorang mukmin adalah perubahan di dalam jiwa: dari kekufuran menuju iman, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari bid‘ah menuju Sunnah, dari kelalaian menuju kesadaran, dari kufur nikmat menuju syukur kepada Allah.
Karena itu, ketika keadaan hidup terasa berat, jangan hanya sibuk melihat ke luar. Ada saatnya kita perlu berhenti dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: bagaimana hubungan kita dengan Allah? Bagaimana shalat kita? Bagaimana rezeki yang masuk ke rumah kita? Bagaimana hubungan kita dengan orang tua? Bagaimana cara kita memperlakukan pasangan dan anak-anak? Apa yang kita lihat ketika sendirian? Apa yang kita tulis ketika berada di balik layar? Apa yang kita lakukan ketika tidak ada seorang pun yang mengetahui selain Allah?
Sebab perubahan memiliki dua arah. Manusia bisa berubah dari buruk menjadi baik, tetapi manusia juga bisa berubah dari baik menjadi buruk. Karena itu Allah mengingatkan:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Yang demikian itu karena Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Anfal: 53).
Betapa banyak manusia yang ketika hidupnya masih sempit begitu dekat dengan Allah. Ketika usahanya kecil, ia rajin ke masjid dan mudah bersyukur. Ketika belum memiliki kedudukan, tutur katanya lembut dan mudah menerima nasihat. Namun setelah Allah lapangkan rezekinya, ia mulai terlalu sibuk. Setelah namanya dikenal, teguran terasa seperti penghinaan. Setelah memiliki kekuasaan, orang-orang yang dahulu berjalan bersamanya mulai tidak dianggap.
Nikmat tidak selalu hilang dengan datangnya kemiskinan. Kadang nikmat itu masih terlihat secara lahir, tetapi keberkahannya telah dicabut. Rumahnya besar, tetapi penghuninya tidak tenteram. Hartanya banyak, tetapi kegelisahannya tidak pernah selesai. Orang mengenalnya, tetapi ia tidak merasakan kedamaian dalam dirinya. Anak-anaknya memiliki fasilitas yang lengkap, tetapi hubungan mereka semakin jauh. Karena itu nikmat bukan hanya soal memiliki, tetapi soal keberkahan Allah pada apa yang kita miliki.
Sebaliknya, Allah juga memperlihatkan bagaimana perubahan dari dalam dapat menjadi sebab datangnya rahmat. Lihatlah kaum Nabi Yunus ‘alaihissalam. Ketika mereka berubah, kembali beriman dan tunduk kepada Allah, azab yang hampir menimpa mereka Allah angkat. Allah berfirman:
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ
“Mengapa tidak ada penduduk suatu negeri yang beriman sehingga imannya bermanfaat kepadanya, selain kaum Yunus? Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu.” (QS. Yunus: 98).
Kisah ini memberi harapan kepada siapa saja yang merasa hidupnya sudah terlalu jauh. Selama pintu taubat belum ditutup, seseorang tidak pernah terlambat untuk pulang kepada Allah. Ada orang yang bertahun-tahun jauh dari shalat, kemudian Allah hidupkan hatinya. Ada orang yang lama bergelimang dalam dosa, lalu suatu hari ia benar-benar merasa lelah dengan dosanya sendiri dan memilih kembali.
Ada orang yang bertahun-tahun keras kepada orang tuanya, lalu Allah lembutkan hatinya sehingga ia datang meminta maaf. Tidak ada manusia yang terlalu jauh jika Allah memberinya hidayah dan ia bersedia menjawab panggilan itu.
Sejarah generasi pertama Islam pun memperlihatkan perubahan yang luar biasa. Para Muhajirin dan Anshar bukan sejak awal merupakan masyarakat yang menguasai dunia. Mereka pernah sedikit jumlahnya, lemah, terancam, dan hidup dalam ketakutan. Tetapi iman mengubah mereka. Allah mengingatkan:
وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan ingatlah ketika kalian masih sedikit lagi tertindas di bumi, kalian takut orang-orang akan menculik kalian. Lalu Allah memberi kalian tempat menetap, menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya, dan memberi kalian rezeki dari yang baik-baik agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Anfal: 26).
Kemuliaan mereka bukan dimulai dari banyaknya harta, bukan dari kemegahan bangunan, bukan pula dari kecanggihan perlengkapan. Perubahan itu bermula ketika hati-hati mereka tunduk kepada Allah, ketika tauhid menggantikan kesyirikan, ketika Sunnah menggantikan tradisi jahiliah, ketika persaudaraan menggantikan fanatisme, ketika ketaatan kepada Allah lebih dicintai daripada hawa nafsu.
Karena itu Allah menghubungkan iman dan takwa dengan datangnya keberkahan. Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami bukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-A‘raf: 96).
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Melalui ayat ini kita diajarkan satu sunnatullah yang tidak boleh kita abaikan, yaitu bahwa: iman, takwa, ketaatan, dan syukur adalah sebab datangnya kebaikan dan keberkahan, sebagaimana dosa, kedurhakaan, serta kufur nikmat dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan.
Karena itu kita juga diperintahkan membaca sejarah umat yang telah berlalu. Ada bangsa yang memiliki kekuatan, kemakmuran, air yang melimpah, dan tanah yang subur, tetapi semua itu tidak membuat mereka kebal dari akibat dosa. Allah berfirman:
أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ
“Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan? Kami telah meneguhkan kedudukan mereka di bumi dengan kekuatan yang belum Kami berikan kepada kalian, Kami curahkan hujan yang lebat kepada mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka. Kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS. Al-An‘am: 6).
Sunnatullah itu bukan hanya mengenai bangsa dan masyarakat. Ia juga berlaku pada pribadi. Al-Qur’an menceritakan pemilik dua kebun yang dibuat silau oleh keberhasilannya sendiri. Ia masuk ke kebunnya dalam keadaan menzalimi dirinya, merasa hartanya tidak akan pernah lenyap, bahkan keraguan terhadap terjadinya hari akhir mulai tumbuh dalam dirinya.
Tetapi pada akhirnya keadaan itu berubah. Allah berfirman:
وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا وَلَمْ تَكُنْ لَهُ فِئَةٌ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا
“Dan harta kekayaannya dibinasakan. Lalu ia membolak-balikkan kedua telapak tangannya karena menyesali apa yang telah dibelanjakannya untuk kebun itu, sementara kebun itu roboh bersama para-paranya. Dia berkata, ‘Aduhai, sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku.’ Dan tidak ada kelompok yang dapat menolongnya selain Allah, dan dia pun tidak mampu membela dirinya sendiri.” (QS. Al-Kahfi: 42–43).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Di sinilah kita seharusnya berhenti sejenak dan melihat diri sendiri. Tidak perlu menunggu memiliki dua kebun seperti orang dalam kisah itu untuk menjadi sombong. Kadang sebuah kenaikan jabatan cukup membuat seseorang berubah. Sedikit kenaikan penghasilan membuat gaya hidup berubah dan syukur berkurang. Sedikit pujian membuat hati sulit menerima koreksi. Sedikit pengetahuan agama bahkan bisa membuat seseorang merasa lebih baik daripada saudaranya.
Demikian pula kemaksiatan. Awalnya mungkin hanya dilakukan diam-diam dan hati masih gelisah. Jika tidak segera dihentikan, dosa yang berulang dapat menjadi kebiasaan. Kebiasaan kemudian dicari pembenarannya. Yang dahulu membuat malu akhirnya diceritakan dengan bangga. Yang dahulu dilakukan sembunyi-sembunyi akhirnya dipamerkan. Itulah sebabnya seorang mukmin jangan pernah merasa aman dari perubahan hati.
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tentang masyarakat yang melihat kemungkaran tetapi membiarkannya padahal mampu melakukan perubahan. Beliau bersabda:
مَا مِنْ رَجُلٍ يَكُونُ فِي قَوْمٍ يَعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا عَلَيْهِ، فَلَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا أَصَابَهُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَمُوتُوا
“Tidaklah seseorang berada di tengah suatu kaum yang di tengah mereka dilakukan berbagai kemaksiatan, sedangkan mereka mampu mengubahnya namun tidak mengubahnya, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka azab sebelum mereka meninggal.” (HR. Abu Dawud)
Maka, berubahlah sebelum keadaan memaksa kita berubah.
Jika ada shalat yang masih sering terlambat, mulailah memperbaikinya. Jika penghasilan bercampur dengan yang syubhat atau haram, jangan menunggu hati menjadi keras. Jika bertahun-tahun hubungan dengan orang tua terasa dingin, jangan menunggu salah satu dari mereka pergi sehingga yang tersisa hanya penyesalan.
Jika rumah tangga semakin renggang karena masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, jangan tunggu sampai keretakan itu sulit diperbaiki. Jika ada dosa yang telah bertahun-tahun kita sembunyikan, jangan berkata, “Nanti.” Bisa jadi kata “nanti” itulah yang selama ini membuat kita tidak pernah benar-benar berubah.
Allah mengulangi peringatan-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra‘d: 11).
Semoga Allah memperlihatkan kepada kita kekurangan diri kita, memberikan keberanian untuk memperbaikinya, dan tidak menjadikan kita orang yang pandai melihat kesalahan orang lain tetapi buta terhadap kekurangan sendiri.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita kembali berwasiat kepada diri kita untuk bertakwa kepada Allah. Tidak ada seorang pun di antara kita yang tahu berapa lama kesempatan memperbaiki diri masih tersedia.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Perubahan tidak selalu terjadi dalam satu malam. Ada perubahan yang harus diperjuangkan lama. Ada orang yang ingin memperbaiki shalatnya, tetapi pada awalnya masih terasa berat. Ada orang yang ingin membiasakan membaca Al-Qur’an, tetapi beberapa halaman saja sudah terasa panjang. Ada orang yang ingin menahan lisannya, tetapi berkali-kali masih terpeleset. Ada pula yang telah lama ingin bangun malam, tetapi selimut terasa begitu berat menjelang akhir malam.
Jangan berhenti hanya karena ketaatan belum terasa nikmat. Rasa nikmat dalam ibadah sering kali datang setelah seseorang bersungguh-sungguh menjalaninya.
Diriwayatkan pula dari seorang tabi‘in, Tsabit al-Bunani rahimahullah, bahwa ia berkata:
كَابَدْتُ قِيَامَ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً وَتَنَعَّمْتُ بِهِ عِشْرِينَ سَنَةً أُخْرَى
“Aku bersusah payah melaksanakan shalat malam selama dua puluh tahun, kemudian aku menikmati kelezatannya selama dua puluh tahun berikutnya.”.
Ungkapan ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Tidak semua kebaikan terasa ringan pada awal perjalanan. Orang yang sudah lama jauh dari Al-Qur’an mungkin harus memaksa dirinya untuk kembali membaca. Orang yang terbiasa tidur setelah Subuh perlu berjuang mengubah kebiasaan. Orang yang terbiasa melihat yang haram perlu berkali-kali menundukkan pandangan. Orang yang telah lama dikuasai amarah perlu belajar menahan kata-katanya. Tetapi setiap kali ia melawan hawa nafsunya karena Allah, ia sedang berjalan menuju perubahan.
Dan Allah tidak menyia-nyiakan langkah seorang hamba yang datang kepada-Nya. Dalam hadis qudsi Allah Ta‘ala berfirman:
وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
“Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan bersegera.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Tidak perlu memulai dengan sesuatu yang sangat besar. Lihat satu kekurangan yang paling membutuhkan perbaikan, kemudian bersungguh-sungguhlah. Jika itu shalat, perbaiki shalat. Jika itu hubungan dengan orang tua, perbaiki hubungan itu. Jika itu rezeki, bersihkan rezeki. Jika itu pandangan, jaga pandangan. Jika itu dosa rahasia, tutuplah pintunya. Jika itu kebiasaan buruk di dalam rumah, mulailah mengubahnya. Tetapi jangan menunda.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.
Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.
Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



