mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at terbaru dengan tema ‘Dunia Akan Binasa’ (Edisi 134, 29 Rabiul Awal 1448 H).
Naskah selengkapnya:

‘DUNIA AKAN BINASA‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh jamaah agar senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa adalah menjalankan perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya, membenarkan berita-Nya, serta mempersiapkan diri untuk hari ketika seluruh manusia kembali kepada-Nya.
Sesungguhnya salah satu sebab manusia menjadi lalai adalah karena terlalu lama memandang dunia seolah-olah dunia ini akan tetap ada. Kita melihat matahari terbit setiap pagi, bumi tetap terhampar, rumah masih berdiri, keluarga masih berkumpul, pekerjaan masih berjalan, sehingga perlahan-lahan hati merasa bahwa semua ini akan terus berlangsung.
Padahal Al-Qur’an mengajarkan kepada kita satu kenyataan yang tidak dapat dihindari: dunia ini akan binasa. Bukan hanya manusia yang akan mati. Bukan hanya generasi yang akan berganti. Alam yang tampak kokoh di hadapan kita pun memiliki batas yang telah ditetapkan oleh Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di atas bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” QS. Ar-Rahman: 26–27.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Renungkanlah ayat yang singkat tetapi sangat dalam ini. Allah tidak mengatakan bahwa sebagian yang ada di bumi akan binasa. Allah mengatakan:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ—semua yang berada di atasnya akan lenyap.
Manusia yang kuat akan melemah. Yang muda akan menua apabila Allah memberinya umur. Bangunan yang megah akan lapuk. Kekayaan akan berpindah tangan. Kekuasaan akan berakhir. Kota-kota yang ramai suatu saat berubah. Bahkan gunung, laut dan bumi yang tampak begitu besar tidaklah kekal.
Yang kekal hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah kenyataan yang seharusnya meluruskan cara kita memandang dunia. Kita boleh mencintai keluarga, tetapi kita mengetahui bahwa pertemuan di dunia memiliki batas. Kita boleh bekerja dan mencari rezeki, tetapi kita mengetahui bahwa harta tidak dapat mempertahankan kehidupan selamanya. Kita boleh membangun rumah yang nyaman, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa tempat tinggal dunia bukan tempat tinggal terakhir.
Belakangan ini, jamaah sekalian, berbagai kejadian alam di negeri kita kembali mengingatkan betapa rapuhnya kehidupan…
Kita mendengar gempa bumi di sejumlah wilayah, kebakaran hutan dan lahan pada musim kering, aktivitas gunung berapi termasuk Anak Krakatau, kekeringan yang berkaitan dengan El Niño, serta pembicaraan mengenai potensi gempa besar pada zona megathrust. Kita tidak perlu menjadikan seluruh informasi itu sebagai alasan untuk hidup dalam ketakutan. Namun seorang mukmin juga tidak membiarkannya berlalu tanpa pelajaran.
Ketika tanah berguncang, manusia yang biasanya merasa kokoh tiba-tiba mencari tempat aman. Ketika api menjalar, harta yang dikumpulkan selama bertahun-tahun dapat terancam dalam waktu singkat. Ketika hujan berkurang, manusia kembali menyadari bahwa setetes air pun merupakan nikmat Allah. Ketika gunung menunjukkan aktivitasnya, kita melihat bahwa kekuatan manusia sangat terbatas di hadapan kekuasaan Sang Pencipta.
Semua itu mengajarkan satu hal: dunia bukan tempat yang dapat dijadikan sandaran mutlak.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, kita pun harus bersikap adil ketika melihat bencana. Jangan mudah mengatakan bahwa suatu bencana pasti merupakan azab bagi korban tertentu. Kita tidak memiliki wahyu yang memungkinkan kita menentukan hal semacam itu. Bagi seorang mukmin, musibah dapat menjadi ujian, penghapus dosa, peninggi derajat, dan sebab bertambahnya kesabaran. Sementara bagi orang yang menyaksikannya, musibah dapat menjadi peringatan agar ia tidak semakin tenggelam dalam kelalaian.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” QS. Al-Anbiya’: 35.
Tidak hanya kesusahan yang merupakan ujian. Kesenangan pun ujian. Gempa adalah ujian, tetapi rumah yang aman juga ujian. Kekeringan adalah ujian, tetapi air yang melimpah pun ujian. Kemiskinan adalah ujian, tetapi kekayaan juga ujian. Sakit adalah ujian, tetapi kesehatan yang panjang pun ujian. Pertanyaannya bukan semata-mata apakah hidup kita sedang susah atau sedang nyaman, tetapi bagaimana keadaan iman kita ketika menghadapi keduanya.
Ada manusia yang ketika musibah datang langsung mengingat Allah, tetapi ketika keadaan kembali tenang ia kembali melupakan-Nya. Ada pula yang justru ketika memperoleh nikmat semakin dekat kepada Allah, semakin bersyukur, semakin ringan bersedekah dan semakin baik kepada sesama. Inilah ujian kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan Hari Kiamat adalah sesuatu yang sangat dahsyat. Pada hari ketika kamu melihatnya, setiap perempuan yang menyusui akan melupakan anak yang disusuinya, setiap perempuan yang hamil akan menggugurkan kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan seperti mabuk, padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah sangat keras.” QS. Al-Hajj: 1–2.
Jamaah sekalian, jika guncangan kecil di dunia membuat manusia berlari meninggalkan rumah, maka guncangan Hari Kiamat adalah sesuatu yang tidak dapat dibandingkan dengannya. Pada hari itu bukan satu kota yang terguncang. Bukan satu pulau yang berubah. Tatanan alam yang kita kenal akan berakhir.
Allah menggambarkan keadaan bumi pada hari itu:
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya, dan manusia bertanya: apa yang terjadi pada bumi ini?” QS. Az-Zalzalah: 1–3.
Allah juga berfirman:
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ
“Apabila matahari digulung, apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” QS. At-Takwir: 1–3.
Gunung yang hari ini tampak sangat kokoh ternyata suatu hari akan berjalan dan dihancurkan. Laut yang hari ini memiliki batas akan berubah. Matahari yang setiap pagi menjadi penanda waktu kehidupan manusia pun akan mengalami apa yang Allah kehendaki. Alam semesta bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Seluruhnya adalah ciptaan. Seluruhnya tunduk kepada Allah. Seluruhnya memiliki awal dan seluruhnya akan sampai pada akhir yang telah ditentukan-Nya.
Maka sangat mengherankan apabila manusia menggantungkan seluruh harapan kepada sesuatu yang akan binasa.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Dunia sering menipu bukan karena dunia mengatakan dirinya kekal, tetapi karena hati manusia terlalu mudah memperlakukannya seolah-olah kekal. Kita mengetahui bahwa harta dapat hilang, tetapi hidup seakan-akan harta adalah sumber keamanan terbesar. Kita tahu badan akan melemah, tetapi menghabiskan masa muda seolah-olah kesehatan tidak akan pernah berubah. Kita mengetahui kematian pasti datang, tetapi menunda taubat seolah-olah waktu berada dalam kekuasaan kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba dalam banyaknya harta dan anak.” QS. Al-Hadid: 20.
Ayat ini bukan larangan untuk bekerja dan memiliki harta. Islam tidak mengajarkan kemalasan. Seorang Muslim diperintahkan mencari rezeki yang halal, menafkahi keluarga, membangun kehidupan dan memberi manfaat kepada masyarakat. Tetapi Al-Qur’an memperingatkan agar semua itu tidak berubah menjadi tujuan akhir.
Dunia adalah sarana, bukan tujuan.
Harta adalah amanah, bukan identitas.
Jabatan adalah tanggung jawab, bukan kemuliaan mutlak.
Rumah adalah tempat tinggal sementara, bukan tempat kembali untuk selamanya.
Karena itu Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat ringkas kepada Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” HR. Al-Bukhari.
Seorang musafir dapat menikmati tempat persinggahan, tetapi ia tidak membangun seluruh harapannya di sana. Ia mengetahui ada perjalanan yang harus dilanjutkan. Demikianlah seorang mukmin memandang dunia. Ia bekerja, tetapi pekerjaan tidak membuatnya meninggalkan shalat. Ia mencari harta, tetapi harta tidak membuatnya mengambil yang haram. Ia mencintai keluarga, tetapi kecintaan itu membawanya untuk membimbing keluarga menuju Allah.
Kesadaran bahwa dunia akan binasa juga seharusnya melahirkan zuhud yang benar. Zuhud bukan berarti meninggalkan seluruh kenikmatan dunia atau mengharamkan apa yang Allah halalkan. Zuhud adalah ketika dunia tidak menguasai hati. Seseorang dapat memiliki harta banyak tetapi tetap ringan mengeluarkannya untuk kebaikan karena ia tahu harta hanyalah titipan. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sedikit harta tetapi hatinya habis mengejar dunia.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Pada akhirnya kita akan meninggalkan dunia ini. Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Si Mayit itu akan diikuti oleh tiga perkara. Dua akan kembali dan (hanya) satu yang tetap bersamanya: keluarga, harta dan amalnya mengikutinya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” Muttafaq ‘alaih.
Betapa indah apabila hadis ini benar-benar kita renungkan.
Selama hidup, kita menghabiskan banyak waktu untuk sesuatu yang pada akhirnya akan kembali meninggalkan kita. Kita bekerja bertahun-tahun membangun rumah. Kita menabung untuk membeli kendaraan. Kita memikirkan bagaimana menjaga harta dan meningkatkan penghasilan. Semua itu boleh dan dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan halal dan niat yang benar.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting: amal yang akan tetap tinggal bersama kita.
Shalat yang dijaga akan tinggal bersama kita.
Sedekah yang ikhlas akan tinggal bersama kita.
Bakti kepada orang tua akan tinggal bersama kita.
Kebaikan kepada pasangan dan anak-anak akan tinggal bersama kita.
Hak manusia yang kita jaga akan tinggal dalam catatan kita.
Begitu pula kezaliman, ghibah, harta haram, dosa tersembunyi dan hak manusia yang belum kita selesaikan, semuanya tidak hilang hanya karena kita telah meninggalkan dunia.
Karena itu Allah berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” QS. Al-Baqarah: 197.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Ketika dunia pasti akan binasa, manusia yang cerdas bukanlah manusia yang meninggalkan dunia sama sekali. Manusia yang cerdas adalah yang menggunakan dunia untuk membeli kebahagiaan akhirat. Ia menggunakan hartanya untuk sedekah. Ia menggunakan ilmunya untuk memberi manfaat. Ia menggunakan kedudukannya untuk menegakkan keadilan. Ia menggunakan kesehatannya untuk beribadah. Ia menggunakan waktunya untuk amal saleh.
Bahkan musibah yang terjadi di tengah masyarakat menjadi kesempatan untuk menambah bekal akhirat. Ketika saudara kita tertimpa gempa, kebakaran, kekeringan atau bencana lainnya, iman tidak mengajarkan kita sekadar menjadi penonton. Di balik angka korban terdapat manusia yang merasakan kehilangan. Ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal, ada anak yang merasakan ketakutan, ada orang tua yang memikirkan kehidupan keluarganya, dan ada relawan yang bekerja membantu mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.” Muttafaq ‘alaih.
Maka bantulah sesuai kemampuan. Jangan meremehkan sedekah yang kecil. Jangan meremehkan doa yang tulus. Jangan meremehkan tenaga yang diberikan untuk membantu sesama. Boleh jadi sesuatu yang kecil di mata kita justru menjadi berat di timbangan Allah.
Jamaah sekalian, sekali lagi ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap jiwa akan merasakan kematian.” QS. Ali ‘Imran: 185.
Tidak ada manusia yang dapat menghindarinya. Tetapi ada perbedaan besar antara orang yang kematian mendatanginya dalam keadaan lalai dengan orang yang mempersiapkannya dengan iman dan amal saleh.
Maka sebelum dunia ini binasa bagi kita melalui datangnya kematian, marilah memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki. Jika ada shalat yang lalai, perbaikilah. Jika ada dosa tersembunyi, tinggalkanlah. Jika ada harta yang bukan hak kita, kembalikanlah. Jika ada utang yang mampu dibayar, selesaikanlah. Jika ada orang tua yang pernah kita sakiti, bahagiakanlah selagi masih ada kesempatan. Jika ada manusia yang pernah kita zalimi, mintalah maaf dan kembalikan haknya sebelum datang hari ketika penyelesaiannya bukan lagi dengan uang, tetapi dengan pahala.
Dunia akan binasa. Tetapi amal yang dilakukan karena Allah tidak akan sia-sia.
Dunia akan berakhir. Tetapi akhirat tidak akan berakhir.
Dunia akan meninggalkan kita. Maka jangan sampai ketika kita meninggalkannya, kita tidak membawa sesuatu yang dapat menyelamatkan di hadapan Allah.
Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang tidak tertipu dunia, tangan yang ringan beramal, lisan yang banyak berdzikir, dan akhir kehidupan yang baik.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, kembali saya berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya dunia yang sedang kita tempati ini mempunyai batas. Kehidupan manusia mempunyai batas. Kekuatan mempunyai batas. Kenikmatan mempunyai batas. Bahkan bumi dan langit yang menjadi tempat berlangsungnya kehidupan ini pun berada di bawah ketetapan Allah dan akan sampai pada akhir yang telah ditentukan-Nya.
Maka jangan letakkan seluruh kebahagiaan pada sesuatu yang pasti binasa. Jangan gantungkan ketenangan hati sepenuhnya kepada harta, kesehatan, pekerjaan atau manusia. Semua itu nikmat Allah yang wajib disyukuri, tetapi semuanya dapat berubah. Sandaran hati seorang mukmin adalah Allah, karena hanya Allah yang tidak pernah binasa.
Berbagai perubahan yang kita lihat pada alam seharusnya semakin menguatkan kesadaran tersebut. Tanah dapat bergerak, gunung dapat berubah, hutan dapat terbakar, musim dapat berganti. Tetapi tugas seorang mukmin bukan hidup dalam ketakutan. Tugas kita adalah mengambil pelajaran, melakukan ikhtiar, menolong sesama, dan mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.
Kesadaran akan kefanaan dunia juga seharusnya membuat kita menilai kembali apa yang selama ini dianggap penting. Berapa banyak tenaga yang digunakan untuk mengejar dunia, dan berapa banyak tenaga yang disediakan untuk akhirat.
Allah berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” QS. Asy-Syu‘ara’: 88–89.
Inilah yang harus kita persiapkan: hati yang selamat, tauhid yang bersih, taubat yang tulus, shalat yang dijaga, amal yang ikhlas, dan hubungan dengan manusia yang tidak dipenuhi kezaliman.
Saudara-saudaraku, dunia akan binasa, tetapi rahmat Allah tidak pernah habis.
Karena itu kesadaran tentang kehancuran dunia bukan alasan untuk berputus asa. Justru selama kita masih hidup, pintu taubat masih terbuka. Selama kita masih dapat bernapas, masih ada kesempatan menambah amal. Selama orang tua masih hidup, masih ada kesempatan berbakti. Selama tangan masih mampu bergerak, masih ada kesempatan bersedekah. Selama lisan masih mampu berbicara, masih ada kesempatan berdzikir, meminta maaf dan mengucapkan kata-kata yang baik.
Maka jangan menunda kebaikan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa lama kesempatan itu masih diberikan.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.
Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.
Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



