Khutbah Jum’at: Tiga Penghancur Hidupmu (Edisi 136, 13 Rabiul Akhir 1448 H)

mim.or.id– Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at terbaru dengan tema ‘Tiga Penghancur Hidupmu’ (Edisi 136, 13 Rabiul Akhir 1448 H).

Naska selengkapnya:

TIGA PENGHANCUR HIDUPMU

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Jamaah Jum’at yang berbahagia,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Takwa bukan hanya ketika kita berdiri di masjid, bukan hanya ketika pakaian kita rapi pada hari Jumat, dan bukan pula sekadar ketika ayat-ayat Allah sedang dibacakan. Takwa adalah ketika seseorang membawa rasa takut kepada Allah itu ke dalam rumahnya, ke tempat kerjanya, ke dalam urusan hartanya, ke dalam telepon genggamnya, bahkan ke ruang-ruang yang tidak diketahui oleh seorang pun selain dirinya dan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.”(QS. Ali ‘Imran: 102).

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Kita biasanya membayangkan kehancuran hidup sebagai sesuatu yang datang dari luar: kehilangan pekerjaan, usaha bangkrut, rumah terbakar, penyakit berat, atau musibah yang tiba-tiba datang. Padahal ada kehancuran yang sebenarnya sudah berlangsung jauh di dalam diri kita.

Rumah masih berdiri, pekerjaan masih ada, kendaraan masih terparkir di halaman. Tidurnya tidak tenang, hubungannya dengan keluarga renggang, hidupnya dikejar oleh keinginan-keinginan yang tidak pernah selesai, dan hubungannya dengan Allah semakin jauh.

Ada orang yang dari luar tampak berhasil, tetapi hartanya telah menguasai pikirannya. Ada orang yang dikenal baik, tetapi ketika sendirian ia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Ada pula orang yang rajin beribadah, memiliki ilmu dan kedudukan, tetapi diam-diam hatinya dipenuhi rasa kagum kepada dirinya sendiri. Semua ini bukan penyakit yang selalu terlihat pada wajah. Ia tumbuh di dalam hati, lalu sedikit demi sedikit mengubah cara seseorang memandang hidup.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang tiga perkara yang membinasakan:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang kagum kepada dirinya sendiri.” (HR. al-Bazzar dan al-Thabarany, dan dihasankan oleh al-Albani).

Perhatikanlah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ada 3 hal yang jika kita tidak waspada, maka itu akan menghancurkan kehidupan kita di dunia ini, sebelum nanti di Akhirat kelak.

Penghancur yang pertama adalah شُحٌّ مُطَاعٌ, sifat kikir dan rakus yang ditaati.

Syuhh lebih dalam daripada sekadar tidak suka bersedekah. Di dalamnya ada kecintaan yang berlebihan kepada harta, keinginan untuk terus menambah, rasa berat melepaskan sesuatu yang dimiliki, sekaligus ketamakan kepada apa yang ada di tangan orang lain.

Jika penyakit ini mulai menguasai hati, seseorang tidak lagi melihat uang sebagai amanah dari Allah. Uang berubah menjadi ukuran segala sesuatu. Persaudaraan dinilai dengan uang, kehormatan ditimbang dengan uang, bahkan halal dan haram perlahan-lahan menjadi kabur ketika keuntungan besar sudah berada di depan mata.

Kita melihat pemandangan seperti itu di sekitar kita.

Ketika orang tua masih hidup, anak-anak duduk bersama dengan akrab. Mereka memanggil satu sama lain sebagai saudara. Namun setelah orang tua meninggal dan beberapa bidang tanah mulai dihitung, hubungan yang puluhan tahun terjalin dapat berubah. Batas tanah dipersoalkan, sertifikat diperebutkan, satu sama lain mulai menghitung siapa yang memperoleh bagian lebih banyak.

Percakapan keluarga berpindah ke kantor pengacara. Telepon saudara tidak lagi dijawab. Bahkan terkadang seorang ibu yang telah renta harus menyaksikan anak-anak yang dahulu digendongnya kini tidak lagi saling menyapa hanya karena beberapa meter tanah yang kelak semuanya juga akan mereka tinggalkan.

Di tempat lain, kerakusan mengambil wajah yang berbeda. Ada orang yang sebenarnya telah memperoleh penghasilan, tetapi ia ingin hasil yang lebih cepat. Ia mengetahui sebuah transaksi mengandung penipuan, tetapi keuntungan yang dijanjikan membuat matanya tertutup. Ada yang menjual sesuatu dengan menyembunyikan cacatnya.

Ada yang mengurangi hak pegawainya. Ada yang menggunakan jabatan untuk memperoleh sesuatu yang bukan haknya. Ada yang menjadikan kesulitan orang lain sebagai kesempatan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Pada saat seperti itulah harta tidak lagi menjadi alat di tangan manusia; manusia justru mulai bergerak mengikuti perintah hartanya.

Allah telah menceritakan keadaan yang sangat indah untuk direnungkan dalam kisah para pemilik kebun dalam Surah Al-Qalam. Mereka mewarisi kebun yang subur. Nikmat Allah ada di depan mata mereka. Buah-buahan siap dipetik. Tetapi pada malam hari mereka membuat rencana agar orang miskin tidak memperoleh bagian apa pun.

Allah berfirman:

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ ۝ وَلَا يَسْتَثْنُونَ ۝ فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ ۝ فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

Sesungguhnya Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami telah menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya pada pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan bagian untuk orang miskin. Lalu kebun itu diliputi bencana dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, sehingga jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap.” (QS. Al-Qalam: 17–20).

Mereka bangun pagi dengan perhitungan keuntungan. Mereka berjalan diam-diam agar tidak ada orang miskin mengetahui panen mereka. Tetapi ketika tiba di kebun, yang ada di hadapan mereka bukan hasil panen yang melimpah, melainkan kebun yang telah rusak.

Allah hendak mengajari manusia bahwa keberkahan tidak selalu dapat dihitung dengan angka. Ada harta yang banyak tetapi membuat pemiliknya gelisah. Ada penghasilan yang bertambah tetapi rumah tangga semakin panas. Ada kekayaan yang mengangkat gaya hidup tetapi menjatuhkan agama.

Karena itu Allah berfirman:

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Penghancur yang kedua adalah هَوًى مُتَّبَعٌ, hawa nafsu yang diikuti.

Hawa nafsu selalu menawarkan sesuatu yang terasa menyenangkan di awal. Ia jarang datang dengan memperkenalkan dirinya sebagai kehancuran. Tidak ada orang yang pertama kali berjudi berkata kepada dirinya, “Hari ini aku akan menghancurkan keluargaku.”

Tidak ada orang yang pertama kali melihat sesuatu yang haram membayangkan bahwa kebiasaan itu kelak akan mengikat dirinya. Tidak ada orang yang memulai perselingkuhan dengan membayangkan anak-anaknya menangis ketika keluarganya pecah. Maksiat sering datang melalui sebuah pintu kecil, kemudian pintu itu dibiarkan terbuka, lalu sedikit demi sedikit hati menjadi terbiasa.

Inilah sebabnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan peringatan yang sangat keras:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, serta Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah? Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23).

Hari ini jalan menuju banyak maksiat menjadi sangat pendek.

Dahulu seseorang yang hendak berjudi harus mendatangi tempat tertentu. Sekarang ia dapat melakukannya ketika duduk sendirian di kamar.

Dahulu seseorang harus pergi keluar untuk mencari tontonan yang haram. Sekarang dunia itu dapat masuk ke dalam rumah melalui sebuah layar yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan. Di atas tempat tidur, di ruang kerja, bahkan ketika anggota keluarga yang lain berada hanya beberapa meter darinya, seseorang dapat memasuki dunia lain yang tidak diketahui siapa pun.

Di situlah ujian zaman kita menjadi sangat berat. Telepon genggam pada dasarnya hanyalah alat. Dari benda yang sama seseorang dapat membaca Al-Qur’an, mendengarkan ilmu, mencari nafkah, berbicara dengan orang tuanya, atau menolong orang lain. Tetapi dari benda yang sama pula hawa nafsu dapat memperoleh jalan yang tidak pernah dimiliki generasi sebelumnya. Seseorang dapat berpindah dari satu kemaksiatan kepada kemaksiatan lain hanya dengan gerakan jempol.

Judi daring adalah salah satu gambaran yang sangat nyata. PPATK pada September 2026 menyebut hasil identifikasinya menunjukkan sekitar 12 juta orang terlibat sebagai pemain judi online pada 2026.

Dalam kajian PPATK mengenai dampak sosial judi online, yang dipublikasikan pada 2026, bahkan digambarkan bagaimana jeratan perjudian telah berkaitan dengan konflik keluarga, gangguan sosial, dan berbagai tindak kriminal di sejumlah wilayah penelitian.

Bayangkan bagaimana kehancuran itu sering dimulai. Seseorang memasukkan uang seratus ribu rupiah. Ia kalah. Kemudian ia merasa harus mengembalikannya. Ia memasukkan dua ratus ribu. Kalah lagi. Ia tidak mau menerima kenyataan bahwa uangnya hilang, sehingga jumlah berikutnya semakin besar. Tabungan mulai berkurang.

Uang belanja rumah diambil. Kepada istrinya ia mengatakan ada keperluan lain. Kepada temannya ia mulai meminjam. Setelah itu muncul utang baru untuk menutup utang lama. Di malam hari ia sulit tidur, tetapi bukan karena memikirkan shalat malam; ia menunggu permainan berikutnya dan berharap satu kemenangan akan mengembalikan semuanya.

Begitulah hawa nafsu bekerja apabila terus dituruti. Pada awalnya ia meminta sedikit, kemudian menuntut lebih banyak. Karena itu kemenangan seorang mukmin bukanlah ketika ia mampu memenuhi seluruh keinginannya. Kemenangan justru terjadi ketika ia mampu berkata kepada dirinya sendiri, “Tidak. Allah tidak ridha dengan ini.”

Allah berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Adapun orang yang takut terhadap kedudukan Tuhannya dan menahan jiwa dari hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi‘at: 40–41).

Saudara-saudaraku,

Penghancur yang ketiga adalah إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ, seseorang kagum kepada dirinya sendiri.

Penyakit ini lebih tersembunyi. Orang lain kadang-kadang tidak melihatnya. Bahkan pemiliknya sendiri sering tidak merasa sedang sakit. Ia hanya mulai menyukai pujian. Ia senang bila orang membicarakan keberhasilannya. Ia merasa pendapatnya lebih layak didengar daripada pendapat orang lain.

Ketika memperoleh harta, ia merasa semua itu karena kecerdasannya. Ketika memperoleh kedudukan, ia merasa memang dirinya pantas berada di sana. Ketika memiliki ilmu agama, penyakit itu bahkan bisa berubah menjadi pandangan merendahkan kepada orang lain.

Di sinilah kita harus berhati-hati.

Seseorang mungkin mampu meninggalkan perbuatan maksiat, tetapi justru jatuh pada ujub karena merasa dirinya telah menjadi orang baik. Ketika ia melihat seorang pelaku dosa, bukan belas kasihan yang muncul dalam hatinya, melainkan perasaan, “Aku lebih baik dari dia.”

Ia melihat orang yang belum memahami Sunnah, lalu bukan keinginan membimbing dengan lembut yang muncul, tetapi rasa tinggi di dalam dada. Padahal kita tidak mengetahui bagaimana akhir hidup kita dan bagaimana akhir hidup orang yang sedang kita rendahkan.

Allah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).

Zaman media sosial menjadikan ujian ini semakin halus dan mengerikan.

Manusia sekarang tidak hanya menjalani kehidupan; ia juga dapat menampilkan kehidupan itu setiap hari kepada orang lain. Makanan bisa dipotret, perjalanan bisa ditayangkan, amal dapat diceritakan, bahkan kesalehan dapat berubah menjadi citra yang terus dirawat.

Sekali lagi, tidak setiap unggahan adalah riya dan tidak setiap orang yang berbagi kebaikan sedang mencari pujian. Tetapi seorang mukmin selalu mencurigai kelemahan hatinya sendiri. Ia bertanya: jika tidak ada seorang pun yang melihat, apakah aku masih ingin melakukan amal ini? Jika tidak ada pujian, apakah aku masih bersemangat? Jika orang lain yang mendapatkan perhatian, apakah hatiku tetap lapang?.

Karena itu jangan dengarkan khutbah ini sambil memikirkan siapa orang lain yang cocok dengan isinya. Bawalah semua ini kepada diri sendiri. Tanyakan dalam hati: apakah harta mulai terlalu menguasai pikiranku? Apakah ada keinginan yang terus aku ikuti meskipun aku tahu Allah tidak menyukainya? Apakah aku mulai terlalu senang dengan diriku sendiri?

Semoga Allah memperlihatkan kepada kita aib diri kita sebelum kita sibuk mencari aib orang lain. Semoga Allah lebih menyibukkan kita memperbaiki diri sendiri daripada terlalu banyak melihat kekurangan orang lain.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kembali kita bertakwa kepada Allah. Tiga penyakit yang kita bicarakan pada khutbah pertama bukanlah penyakit yang tidak memiliki obat. Syariat tidak hanya menunjukkan kepada kita jalan-jalan kehancuran, tetapi juga mengajarkan bagaimana menyelamatkan diri darinya.

Obat dari “kekikiran yang ditaati”, kekikiran dan kerakusan yang ditaati, adalah membiasakan diri memberi dan menyadari bahwa apa yang berada di tangan kita sesungguhnya hanyalah titipan. Kita datang ke dunia tanpa membawa harta dan akan meninggalkannya tanpa membawa harta.

Rumah yang puluhan tahun kita kumpulkan uang untuk membangunnya akan ditempati orang lain. Kendaraan yang begitu kita jaga akan berpindah tangan. Saldo yang setiap hari kita lihat tidak akan ikut masuk ke liang kubur.

Yang akan mengikuti dan menemani kita di kehidupan Akhirat hanyalah harta yang kita infakkan di jalan Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Jagalah diri kalian dari api neraka meskipun hanya dengan separuh buah kurma.” (Muttafaq ‘alaih).

Maka latihlah hati dengan memberi. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, sebab orang yang tidak mampu memberi ketika sedikit belum tentu akan mudah memberi ketika banyak.

Adapun obat dari “hawa nafsu yang diikuti” adalah mujahadah, bersungguh-sungguh melawan keinginan diri ketika ia bertentangan dengan perintah Allah. Jika sebuah aplikasi menjadi jalan menuju kemaksiatan, singkirkanlah. Jika suatu pergaulan selalu membawa kita kembali kepada dosa, jauhilah dengan cara yang baik.

Jika pandangan menjadi pintu maksiat, belajarlah memalingkan mata. Jika kita terjerat perjudian atau kecanduan lain, jangan terus menyembunyikannya sampai hidup semakin rusak. Bertaubatlah kepada Allah, putuskan jalannya, dan mintalah bantuan kepada orang yang dapat menolong.

Bukankah Allah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar bagi orang yang berani menahan dirinya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Adapun orang yang takut terhadap kedudukan Tuhannya dan menahan jiwa dari hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi‘at: 40–41).

Sedangkan obat dari “takjub pada diri sendiri” adalah mengenali diri dan mengenali nikmat Allah. Kalau kita memiliki ilmu, siapa yang memberikan kemampuan memahami? Kalau kita memiliki harta, siapa yang memberikan kesehatan sehingga kita dapat bekerja? Kalau kita mempunyai kedudukan, siapa yang membuka jalannya? Kalau kita mampu bangun untuk shalat malam, siapa yang membangunkan hati kita sementara banyak manusia tertidur? Bahkan kemampuan kita mengucapkan istighfar merupakan pertolongan dari Allah.

Karena itu seorang mukmin, semakin bertambah nikmatnya, semestinya semakin bertambah rasa tunduknya. Ketika dipuji, ia takut kalau pujian itu lebih besar daripada kenyataan dirinya. Ketika melihat orang yang bermaksiat, ia memohon keselamatan bagi dirinya dan hidayah bagi saudaranya.

Ia tidak mengetahui, boleh jadi orang yang hari ini masih jauh dari Allah akan menangis dalam taubatnya malam ini, sementara dirinya yang hari ini dipuji manusia belum tentu selamat sampai akhir kehidupan.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Tiga penghancur hidup ini mungkin tidak menghancurkan kita dalam satu malam. Ia bekerja perlahan-lahan. Kerakusan sedikit demi sedikit menghilangkan rasa cukup.

Hawa nafsu sedikit demi sedikit melemahkan rasa takut kepada Allah. Ujub sedikit demi sedikit membuat seseorang sulit menerima nasihat. Dan ketika ketiganya dibiarkan, seseorang mungkin baru menyadari kerusakannya ketika hubungan keluarga telah pecah, utang telah menumpuk, dosa telah menjadi kebiasaan, atau hati sudah tidak lagi tersentuh oleh peringatan.

Dan marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa hanya kepada Allah Azza wa Jalla:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.

Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.