mim.or.id – Istigfar merupakan salah satu kalimat thayyibah yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan harian seorang Muslim.
Melalui amalan ini, seorang hamba senantiasa menyadari keterbatasannya dan menggantungkan harapan ampunan hanya kepada Allah.
Makna dan Hakikat Istigfar
Secara bahasa dan istilah, istigfar memiliki makna utama yaitu memohon ampunan kepada Allah.
Makna ampunan itu sendiri mencakup usaha seorang hamba untuk berlindung kepada Allah dari dampak dosa-dosa yang telah diperbuat, sekaligus memohon agar Allah menutupi aib-aibnya.
Dalam Al-Qur’an, kata istigfar banyak sekali ditemui dan terkadang disebut sebagai bagian dari ujian bagi manusia.
Baca Juga: Gemilang di Kolam, Santri MIM Sabet Emas ANS CUP 2026
Selain itu, kata istigfar sering diiringi dengan kata at-tauba (tobat), yaitu kondisi ketika seorang hamba meninggalkan perbuatan dosa, baik yang bersumber dari dalam hati maupun yang dilakukan oleh anggota tubuhnya.
Keutamaan Istigfar dan Janji Ampunan Allah
Salah satu keutamaan utama dari beristigfar adalah memperoleh ampunan langsung dari Allah.
Sebanyak apa pun dosa yang pernah dilakukan seseorang, jika ia bertobat dengan sebenar-benarnya tobat, Allah SWT akan membukakan pintu ampunan-Nya karena kasih sayang dan ampunan-Nya sangatlah besar.
Keutamaan ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 110:
وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya: Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Namun demikian, besarnya pengampunan dari Allah SWT hendaknya dimaknai sebagai kabar gembira atas kasih sayang-Nya, dan bukan dijadikan pembenaran atau izin untuk terus-menerus melakukan dosa.
Keteladanan Rasulullah dan Amalan Istigfar Keseharian
Istigfar bukan hanya diperuntukkan bagi orang yang berbuat dosa, melainkan juga merupakan wujud rasa syukur dan sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Baca Juga: Ukir Prestasi, Faheem Raih Juara 1 Tahfidz Juz 30
Rasulullah, manusia pilihan yang dosa-dosanya telah diampuni, tetap memohon ampun dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari Bahkan dalam, Rasulullah terbiasa mendirikan shalat malam hingga kaki beliau pecah-pecah.
Ketika Aisyah bertanya mengapa beliau masih melakukan hal tersebut padahal dosanya yang telah lalu dan akan datang telah diampuni, Rasulullah menjawab:
“Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur.” (HR. Muslim no. 7304).
Oleh karena itu, ulama seperti Al-Hasan menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak istigfar di mana saja berada.
Beliau menyarankan agar lisan senantiasa beristigfar saat berada di rumah, di meja makan, di tempat duduk, hingga di pasar-pasar, karena tidak ada yang tahu pada ucapan istigfar mana ampunan Allah akan diturunkan.
Istigfar adalah fondasi penting dalam kehidupan seorang Muslim yang berfungsi sebagai pembersih jiwa, pelindung dari dampak dosa, serta bukti rasa syukur atas nikmat Allah.
Membiasakan lisan beristigfar dalam setiap aktivitas merupakan bentuk peneladanan terhadap Rasulullah untuk meraih ampunan dan kasih sayang-Nya.



