mim.or.id – Setiap muslim tentu merindukan kedudukan yang mulia di sisi Allah sebagai Ibadurrahman hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah.
Penyandaran kata “hamba” (‘ibad) kepada nama Allah Ar-Rahman oleh para ulama disebut sebagai idhafatut tasyrif, sebuah bentuk penyandaran mulia yang menunjukkan betapa tingginya kehormatan hamba-hamba tersebut di hadapan Sang Pencipta.
Kemuliaan ini tidak didapatkan dengan klaim semata, melainkan dibuktikan melalui karakter dan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Keindahan Sikap dan Ketundukan Jiwa: Berjalan dengan Tawadu’ di Atas Bumi
Karakter utama seorang Ibadurrahman terpancar pertama kali dari cara mereka membawa diri dan melangkah di tengah masyarakat.
Allah menegaskan bahwa mereka berjalan di muka bumi secara haunan, yakni dengan penuh ketenangan (sakinah), kewibawaan (waqar), serta rasa ketundukan yang jauh dari kesombongan (takabbur).
Baca Juga: Momen Istimewa!, Syekh Pakar Al-Qur’an Kunjungi Markaz Imam Malik
Cara berjalan seseorang pada hakikatnya merupakan cermin dari kondisi batin dan jiwanya. Ketika seseorang menyadari asal penciptaannya dari tanah (adam min turab), tidak ada lagi alasan baginya untuk membusungkan dada atau merasa lebih tinggi dari sesama manusia.
Kemuliaan nasab, kelimpahan harta, maupun tingginya jabatan tidak boleh menjadi alasan untuk memandang rendah orang lain, sebab tolok ukur sejati kemuliaan di sisi Allah hanyalah ketakwaan.
Sebagaimana nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya, Islam menuntun agar manusia bersikap pertengahan saat berjalan dan merendahkan suara saat berbicara.
Ibadurrahman juga senantiasa memelihara batinnya dari berbuat maksiat atau menyebarkan kerusakan di atas bumi, sebab mereka menyadari sepenuhnya bahwa tanah yang mereka pijak kelak menjadi tempat mereka kembali kepada Allah.
Keluhuran Akhlak Sosial: Membalas Kejahilan dengan Kesantunan dan Menerapkan At-Taghaful
Ujian karakter seorang hamba tidak hanya terlihat saat ia beribadah secara pribadi, tetapi juga ketika berinteraksi dengan sesama, khususnya saat berhadapan dengan orang-orang yang bertindak tidak santun.
Apabila disapa atau diganggu oleh orang-orang bodoh, Ibadurrahman tidak akan membalas kejahilan tersebut dengan kejahilan yang serupa.
Mereka memilih untuk meredam kedengkian dan membalas keburukan dengan perkataan yang mulia dan membawa kedamaian (qalu salama).
Meskipun hukum Islam membolehkan seseorang membalas keburukan dengan balasan seimbang, mengedepankan sikap memaafkan (‘afwu) dan perdamaian (islah) jauh lebih dicintai serta dijanjikan pahala yang sangat besar di sisi Allah.
Baca Juga: Meningkatkan Derajat Hidup Bersama Al-Qur’an
Dalam membangun hubungan sosial dan rumah tangga, Ibadurrahman senantiasa mempraktikkan sikap at-taghafulyakni sikap bijak untuk tidak membesar-besarkan atau berpura-pura tidak tahu atas kesalahan kecil orang lain.
Keseimbangan Hidup: Kebersihan Jiwa dalam Malam dan Keseimbangan Berinfak
Kesalehan seorang Ibadurrahman memadukan kedalaman hubungan spiritual dengan Allah (hablum minallah) dan kearifan dalam mengelola urusan duniawi (hablum minannas).
Di sunyinya malam, saat kebanyakan manusia terlelap dalam tidur, mereka melangkah bangun untuk bersujud dan bermunajat kepada Rabb mereka (yabituna lirabbihim sujjadan wa qiyama).
Namun, meskipun malam-malam mereka dihiasi dengan sujud dan rukuk, mereka tidak pernah merasa ujub atau merasa paling suci.
Hati mereka justru senantiasa berada di antara rasa cemas dan berharap (khauf wa raja’), seraya memohon perlindungan dari azab neraka Jahanam (Rabbanasrif ‘anna ‘adzaba jahannam).
Keseimbangan ini juga terpancar kuat dalam gaya hidup dan kedermawanan harta mereka.
Saat berinfak dan memberikan nafkah, Ibadurrahman selalu mengambil posisi pertengahan (baina dzalika qawama): tidak berlebih-lebihan (israf) hingga menghamburkan harta secara boros, dan tidak pula kikir (bakhil) hingga menyengsarakan diri maupun keluarga.
Kedermawanan mereka lahir dari ketulusan hati untuk memberi dari apa yang mereka miliki serta melapangkan rezeki bagi sesama tanpa keterpaksaan.



