بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Salah satu sifat dan akhlak yang mulia dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau sangat memuliakan tamunya, dan bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh ummatnya untuk memuliakan tamunya, Sebagaimana dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”. (HR al-Bukhâri dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah di datangi seorang tamu namun Rasulullah tidak memiliki persediaan makanan untuk dihidangkan kepada tamunya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi istrinya dan berkata:”Apakah ada makanan”, istrinya berkata:”tidak ada”, kemudian beliau mendatangi istrinya yang lain namun istrinya yang lain pun berkata:”Tidak ada”, lihatlah betapa sederhananya kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat sedih karena tidak ada makanan yang bisa beliau hidangkan untuk tamunya, ia kemudian pergi menemui para sahabatnya lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan kepada para sahabat dengan berkata:”Adakah diantara kalian yang mau menjamu tamuku”, Lalu berkatalah salah seorang sahabat Anshar yang bernama Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu:”Saya wahai Rasulullah”, Lalu diambillah oleh Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu kemudian dibawalah tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kerumahnya untuk dijamu dengan hidangan makanan, namun Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang sangat sederhana beliau hanya memiliki hidangan yang cukup  untuk kebutuhan makan Anaknya, namun Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu berusaha bagaimana ia bisa menyenangkan tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu kemudian berkata kepada istrinya :”Saya membawa tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apakah ada makanan”, istrinya berkata:”Makanan hanya cukup untuk anak kita“, ia kemudian menyuruh istrinya dengan berkata:”Tidurkan anak – anak kita”, Istrinya kemudian menidurkan anaknya, setelah tidur kemudian dihidangkan makanan diatas meja lalu didekatkan makanan itu kepada tamu Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam,  setelah makanan didekatkan kepada tamu Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam ia kemudian  menjauhkan lampu agar telihat gelap, Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu dan istrinya berpura – pura ikut makan bersamanya padahal tidak ada makanan didepan beliau untuk ia nikmati karena jumlah makanan tidak mencukupi, Maka malam itu, puaslah tamu Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam  dengan jamuan makan seorang sahabat tersebut. Padahal, ia, istri dan anak-anaknya harus menahan lapar demi memuliakan tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu menyadari bahwa memuliakan tamu adalah bagian dari ajaran Islam yang mulia dan menjadi salah satu parameter keimanan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala  dan Hari Akhir. ke’esokan harinya beliau berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum melihatnya dan berkata:”Allah Subhanahu wata’ala  takjub dengan apa yang kalian lakukan semalam”.

Allah Subhanahu wata’ala takjub kepadanya disebabkan karena ia sangat memuliakan tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karena itu hendaklah kita sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk senangtiasa memuliakan tamu – tamu kita dan menyenangkan tamu – tamu kita agar kita tergolong orang – orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan hari akhir.

Wallahu A’lam Bish Showab.



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu , 18  Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCIGoaFDkENVOY187i92iRqA

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

PIN BBM : D23784F8

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.