Persoalan Wali adalah persoalan yang sering kita dapatkan dan dengar dalam kehidupan kita.

Diceritakan oleh Ust. Ikhwan Abdul Jalil hafidzahullah dimana ia mendapatkan kisah ini dari gurunya , bahwa ada seorang syaikh yang dianggap wali dan kepergok oleh muridnya sedang melakukan suatu kemaksiatan dengan pembantu rumah tangganya, kemudian muridnya mengatakan wahai syaikh mengapa engkau melakukan hal ini lalu syaikh yang dianggap wali tersebut mengatakan engkau memandang dengan mata lahiriah mu sebenarnya yang aku lakukan adalah sedang menempel kapal yang bocor dilautan .

Imam Ath Thahawiyah rahimahullah mengatakan :

وَلَا نُفَضِّلُ أَحَدًا مِنَ الْأَوْلِيَاءِ عَلَى أَحَدٍ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ، وَنَقُولُ: نَبِيٌّ وَاحِدٌ

أَفْضَلُ مِنْ جَمِيعِ الْأَوْلِيَاءِ

Kita tidak mengutamakan salah seorangpun di antara para wali Allah di atas seorangdari para Nabi ‘Alaihimus Sallam. Bahkan kita mengatakan bahwa seorang saja dari para Nabi itu lebih utama dibanding seluruh para wali.

وَنُؤْمِنُ بِمَا جَاءَ مِنْ كَرَامَاتِهِم، وَصَحَّ عَنِ الثِّقَاتِ مِنْ رِوَايَاتِهِم

Kita mengimani adanya karomah-karomahmereka dan segala riwayat tentang mereka yang dinukil dari para perawi yang tepercaya.

Nabi Adalah hamba Allah yang tepilih yang diberikan wahyu oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak boleh seseorang mengutamakan wali dari pada nabi sedangkan Wali adalah bukan seorang Nabi sebagaimana dalam Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus : 62 – 64).

Maka siapa saja yang beriman dan bertakwa kepada Allah mereka itulah wali – wali Allah, tingkat kewalian adalah bagaimana tingkat keimanan seseorang dan semakin tinggi keimanan seseorang maka semakin tinggi pula derajat kewaliannya disisi Allah subahanahu wa ta’ala .

Dalam hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda:

رُبَّ أَشْعَثَ أَغَبْرَ مَدْفُوعٍ بِالَأبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِلَأبَرَّهُ

Boleh jadi, orang yang kusut rambutnya, berdebu (pakaiannya), ditolak di pintu-pintu, seandainya dia bersumpah atas nama Allah Subhanahu wa ta’ala, sungguh Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengabulkannya.”(HR. Muslim).

Sebagian ulama memberikan definisi Karomah adalah perkara yang luar biasa yang Allah berikan pada seorang wali diatara wali – wali Allah.

Karomah hanya bisa terjadi kepada hamba – hamba Allah yang sholeh adapun jika seseorang itu sakti dan hebat sedangkan bukan orang yang sholeh maka ini bukan karomah melaikan sihir.

Perbedaan wali dan bukan wali ( dukun ) adalah seorang wali tidak memamerkan kewaliannya atau kelebihan ilmu yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adapun jika kelebihan yang ia miliki itu Nampak ia berusaha menutupinya sedangkan bukan wali (Dukun) adalah mereka suka memamerkan kehebatan ilmunya kepada seseorang bahkan, ia jadikan sebagai bahan tontonan dari kehebatan yang ia miliki.

Salah satu ciri seseorang yang mendapatkan karomah adalah dia semakin taat tatkala ia mendapatkan karomah sedangkan yang bukan karomah adalah dia semakin kufur dan ingkar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Suatu ketika ada seseorang yang datang kepada Imam Syafii rahimahullah ia berkata “ ya imam berkata Al Laits jika engkau melihat orang yang dapat berjalan diatas air jangan engkau tertipu dengannya sampai engkau mengukurnya dengan Al –Qur’an dan sunnah”. Lalu Imam Syafii mengatakan: “apa yang dikatakan oleh Al Laits itu singkat kemudian Imam Syafii menambahkan, “ jika engkau melihat seseorang berjalan diatas air dan terbang diatas udara maka janganlah kalian tertipu dengannya sampai kalian melihat pengamalan Al-Qur’an dan sunnahnya karna sesungguhnya syaitan itu terbang antara timur dan barat.

Di dalam beberapa ayat Al-Qur’an Allah Subhanahu wa ta’ala menghinakan manusia yang bekerjasama dengan Jin dan Syaitan yang bertujuan untuk menyesatkan manusia di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golonganmu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatku dan memberi peringatan kepadamu tentang pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.” Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Anam : 130).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Al-Dzariyat : 56).

“Dan (ingatlah) ketika Kami kirimkan serombongan jin kepadamu untuk mendengarkan Al-Qur’an. Tatkala mereka telah hadir semua, mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaum mereka (untuk) memberi peringatan.” (QS.Al-Ahqaf :29).

Dalam ayat berikut ini menjelaskan tentang sekelompok keberadaan jin muslim dan keberadaan jin kafir, seperti pada ayat, “Dan orang-orang kafir berkata, “Ya Tuhan kami, tunjukkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, (yaitu) sebagian dari jin dan manusia, agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang terhina.” (QS. Fushilat: 29);

“Allah berfirman, “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu.” Setiap kali suatu umat masuk (ke dalam neraka), mereka mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya dengan penuh kehinaan, berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka (golongan pengikut) berkenaan dengan orang-orang yang masuk terdahulu (golongan pemimpin), “Ya Tuhan kami, merekalah yang telah menyesatkan kami. Sebab itu, berikanlah kepada mereka siksaan neraka yang berlipat ganda.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf : 38).

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan dari jenis manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.” (QS: Al-An’am : 112).

jin membantu manusia untuk menyesatkan manusia dan kaum muslimin dan diantara kesenangan yang didapatkan oleh jin adalah kekufuran manusia kepada Allah Subhanahu wa ta’ala karna demikianlah tugas para jin untuk membuat kufur manusia kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

Di hari ketika mereka semua (jin dan manusia) dikumpulkan, (dikatakan kepada para jin) : ‘wahai para jin! Kalian telah banyak menyesatkan manusia’. Lalu berkatalah wali-wali mereka dari kalangan manusia: ‘Wahai Rabb kami, sebagian kami telah mendapat kesenangan dari sebagian lainnya‘” (QS. Al An’am: 128).

Berikut beberapa dalil ancaman bagi yang mendatangi dukun dan peramal sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda :

Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari beberapa istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Disebutkan dalam hadits:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan sesungguhnya sebagian di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa di kalangan bangsa jin, maka para jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. (QS. Jin : 6).

Pembelaan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Sulaiman Alaihissalam kepada orang yahudi dan syaitan yang mengatakan Nabi Sulaiman berbuat sihir. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

”Dan mereka (orang-orang Yahudi) mengikuti apa yang dibaca oleh seta-setan pada masa kerajaan Sulaiman (untuk masyarakat dan mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (dan tidak mengerjakan sihir), hanya syaithan – syaithan  itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu). Oleh sebab itu, janganlah kau kafir (dan jangan kau menyalahgunakan pelajaran ini).” (Akan tetapi), mereka (menyalahgunakan hal itu dan) hanya mempelajari dari kedua malaikat itu apa dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka (ahli sihir) tidak akan dapat mendatangkan mudarat dengan sihir itu bagi seorang pun kecuali dengan izin Allah. Mereka (hanya) mempelajari sesuatu yang dapat mendatangkan mudarat bagi (diri) mereka sendiri dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka meyakini bahwa barang siapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, ia tidak akan mendapatkan keuntungan di akhirat, dan amat jeleklah perbuatan mereka menjual diri dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah :102).

Sorang wali Allah tidak mencampuradukan antara keimanan mereka dengan kedzaliman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” ( Al-An’am : 82 ).

Para ulama mengatakan karomah yang paling besar yang diberikan Allah kepada hambanya adalah Istiqamah di atas jalan Allah ditengah banyaknya fitnah. Wallahu A’lam Bisshowab.

 

————————————————————————————————-

REKAP TA’LIM “DIMAS KANJENG

Antara Karomah, Mu’jizat, dan Istidraj

 Ustadz Harman Tajang. Lc., M.H.I dan Ust. Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc.

@Masjid Jannatul Firdaus

Jumat, 6 Muharram 1438 H

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.