“Aku benar-benar telah menzhalimi diriku sendiri!”

Inilah kalimat yang sedikit menggambarkan tentang keadaanku. Bahkan mungkin itulah ungkapan yang paling utuh untuk itu. Karena Allah telah menggunakan ungkapan itu ketika menggambarkan tentang para pelaku maksiat. Aku sangat kecanduan dengan ruang-ruang chatting di dunia maya. Kegiatan seperti ini menempati perhatian terbesar syahwatku. Apalagi kalau sudah ngobrol tentang apa yang diharamkan oleh Allah, entah mengapa aku merasakan kenikmatan yang aneh…Aku tidak tahu mengapa?

Suatu hari, aku berkenalan dengan seorang gadis Amerika. Usianya 20 tahun, sudah menikah dan mempunyai seorang anak yang gagah…Aku berkenalan dengannya secara tidak disengaja…

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Namaku Muhammad,” jawabku.

Begitu aku mengucapkan kalimat itu, ia langsung meluapkan kegembiraannya dan berkata kepadaku: “Kalau begitu engkau adalah seorang muslim? Engkau benar seorang muslim?! Aku benar-benar tidak percaya…Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam! Tolong, saya harap kepadamu untuk tidak membiarkan saya seperti yang mereka lakukan…Aku pun ribuan pertanyaan yang ingin aku tanyakan…”

Dalam hatiku aku mengatakan: “Duhai alangkah kasihannya gadis ini! Ia ingin mencari tahu tentang Islam dari orang yang justru sangat jauh darinya…Mudah-mudahan Allah memaafkanku!”

Tapi saat itu, aku benar-benar merasa untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memperhatikan urusan agamaku!

Untuk pertama kalinya aku hidup untuk suatu tujuan…Aku merasakan sebuah perasaan yang aneh…

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku meninggalkan syahwatku demi sesuatu yang mulia…hingga sekarang aku tidak tahu apa sesuatu itu…aku tidak tahu apapun tentang sesuatu itu selain namanya: Islam…Dalam hati aku katakan: “Mungkin ia akan bertanya dan aku akan menjawabnya…” Meskipun aku benar-benar putus asa terhadap kemampuanku untuk menjawabnya…

Dan benar saja, ia kemudian bertanya: “Apa itu Islam?”

Maka aku mengatakan: “Minta tolong, beri aku waktu satu menit..”

Aku pun segera mengunjungi salah satu situs Islam dan berusaha mengumpulkan semua jawaban pertanyaannya…hingga aku berhasil menjawab hampir semua pertanyaannya…

Ia lalu bertanya padaku: “Siapa itu ‘Aisyah?”

“’Aisyah??” ujarku. Hmm, aku tidak mengetahuinya…Aku pun segera mencarinya di berbagai situs Islam…Ketika aku mencarinya, aku merasa begitu semangat dan memiliki sebuah keinginan yang sangat kuat untuk membantunya…

“Saudariku, berikan waktu kepadaku beberapa hari, aku akan mengirimkan sebuah buku atau semacamnya yang mengajarkan tentang Islam kepadamu…,” ujarku padanya.

Tidak terbayangkan betapa besar kebahagiaanku mengucapkan kata “saudariku” untuk pertama kalinya dalam hidupku…Aku memanggil seorang pemudi dengan sebutan “Saudariku”…

Ya Allah! Untuk pertama kalianya aku merasakan kesucian hatiku…hingga air mataku menetes…Malam itu aku tidak tidur…Aku terus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Sister tersebut, seperti: apakah jilbab itu wajib, dan yang lainnya…

Aku pergi ke sebuah toko buku untuk membeli sebuah buku. Sebelum berangkat aku baru sadar bahwa aku hanya punya sedikit uang…”Apa yang dapat kulakukan?”…Aku merasa kematian berlomba denganku untuk mendatanginya, dan aku harus lebih cepat darinya sebelum ia mati dan masuk neraka…

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa seperti ini…Aku takjub dengan diriku sendiri…Aku pergi menemui seorang kawan kongkow-kongkowku yang sangat kaya. Aku meminjam sejumlah uang darinya…Aku sendiri berniat untuk tidak akan mengembalikannya, tapi di kemudian hari saat aku kembali ke jalan Allah, aku pun mengembalikannya karena aku mengetahui kewajiban mengembalikan hutang…

Alhamdulillah…aku akhirnya membeli 2 buah buku yang telah kubaca sebelumnya…Aku memang cukup lancar berbahasa Inggris. Entah mengapa, aku merasa betapa agama ini begitu agungnya…Aku juga membelikan sebuah busana muslimah seperti yang dikenakan oleh saudariku, karena aku tahu Sister itu pasti kesulitan menemukan pakaian muslimah seperti itu di negerinya. Aku juga membelikan album murattal Syaikh al-Ghamidi dan al-‘Ajmai untuknya…Segera setelah itu aku mengirimkannya dengan pos kilat tercepat agar dapat sampai dalam waktu secepat mungkin…

Benar saja, semua kiriman itu akhirnya sampai padanya…Ia membaca kedua buku itu dan di kemudian hari mengatakan padaku: “Inilah yang selama ini aku inginkan. Apa yang dapat aku lakukan agar aku dapat masuk Islam?”

Saat itu, tak tergambarkan lagi bagaimana perasaanku. Aku menangis dan menangis tersedu-sedu…Air mataku menetes…Ia bertanya padaku: “Mengapa engkau menangis?” Saat itu ia memang mendengarku karena aku sedang berbicara via mikrofon dengannya…Aku menjawab seadanya: “Karena hari lahirku sama dengan hari lahirmu (ia tidak paham maknanya)…” Tapi aku kemudian menuntunnya untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat dan mandi…

Jangan membayangkan bahwa hanya ia saja yang mengikutiku mengucapkan: Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah…Aku merasa bahwa aku sendiri pun ikut mengulangi kalimat itu untuk pertama kalinya…Aku tidak ingat lagi kapan aku mengucapkannya sebelum itu…Ia kemudian bertanya padaku: “Apa maknanya?”

Aku pun menyampaikan padanya bahwa maknanya adalah tidak ada tuhan lain yang berhak disembah selain Allah di alam semesta ini, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku menjelaskan kalimat itu, tapi anehnya aku sendiri tidak mengetahui makna kalimat ini…aku hanya yakin bahwa kalimat ini memiliki makna-makna yang sangat agung…

Ia kemudian mengatakan: “Muhammad, ucapkanlah La ilaha illallah!” lalu ia tertawa…Dan aku menangis tersedu-sedu karena begitu bahagia…

Lalu aku mengatakan: “Ucapkanlah, wahai sister: Muhammad Rasulullah!” Maka ia pun mengucapkannya…kemudian ia tertawa penuh bahagia. Ia kemudian mengatakan: “Muhammad, sekarang aku telah menemukan hidupku…Dahulu aku begitu hancur dan hatiku rapuh. Aku bahkan telah berusaha bunuh diri sebanyak 5 kali, namun suamiku berhasil menyelamatkanku…Namun sekarang aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang penuh, dan aku merasa telah menemukan diriku dan telah menemukan kebahagiaanku…

Aku pun mengatakan padanya: “Kalau begitu malam ini engkau telah dilahirkan kembali…”

“Benar sekali…,” ujarnya.

“Aku pun demikian,” jawabku. Lalu aku pun mengisahkan padanya kisah hidupku, bagaimana sebelumnya aku hanya sekedar muslim dari segi nama saja…Dan sekarang pun aku merasa seperti dilahirkan kembali. “Sekarang, aku sudah paham ucapanmu bahwa kelahiranku sama dengan kelahiranmu,” ujarnya. “Kalau begitu ulangi dan ucapkanlah La ilaha illah, wahai brother…,” sambungnya.

Aku mengatakan padanya: “Ya, La ilaha illallahu Rabbul ‘alamin.” Dan aku kembali tertawa dan merasa bahwa aku kembali masuk ke dalam Islam. Aku pun pergi mandi dan sepakat untuk “berjumpa” lagi 30 menit kemudian. Aku mendengarkan adzan shalat Subuh…Aku berdiri dan berwudhu…Aku masih mengingat cara wudhu yang pernah kudapatkan di sekolah. Kemudian aku masuk bersama imam…kedua mataku menangis. Aku merasakan kelezatan yang lain yang jauh lebih nikmat daripada semua kenikmatan yang pernah kurasakan bersama syahwatku…Yah, kelezatan iman…ini adalah kelezatan yang aneh…

Aku pun kembali “menemuinya”, lalu ia pun menyampaikan padaku tentang siapa itu ‘Aisyah. Dan aku terus belajar darinya tentang ‘Aisyah dan Nabi Muhammad…

Bayangkanlah bagaimana aku belajar agama dari orang yang sebelumnya masuk Islam karena aku, dan umur keislamannya baru beberapa saat saja. Ada sesuatu yang lain yang membuat air mataku mengalir. Dan aku dapati sekarang ia telah mengganti nick name-nya menjadi ‘Aisyah.

Dua hari kemudian, aku dikejutkan oleh suaminya yang juga masuk Islam. Kemudian mereka memberi nama anak mereka dengan “Muhammad”. Aku menangis keras…Aku tak henti memuji Allah…Duhai, aku benar-benar belum percaya bahwa aku telah menjadi sebab keislaman 3 jiwa yang kelak akan datang menjadi timbangan kebaikanku pada hari kiamat…meskipun aku tidak punya andil dan kebaikan apapun dalam Islam…

Sejak saat itu, aku terus belajar tentang Islam dan aku menemukan perpustakaan saudariku yang menikah sepekan sebelum aku “masuk Islam”…

Dan aku terus membaca dan membaca…

Aku terus belajar, dan mendapati diriku menjadi semakin baik. Aku merasakan kenikmatan shalat dan ibadah. Aku telah meninggakan semua syahwatku dan semua kawan-kawan yang rusak, di kampung halamanku dan juga di seluruh dunia. Setiap waktu aku terus mengulangi Asyhadu alla ilaha illallah wa anna Muhammadarrasulullah. Aku menangis dan menangis…

Ibuku sangat gembira dengan itu semua. Ia mengatakan: “Memang benar, semua ada waktunya…”

“Benar, ibu…,” ujarku.

Kini aku berubah, dari mencari-cari kemaksiatan menjadi mencari siapa saja yang menginginkan Islam dan ingin mengenal sesuatu tentangnya…Bayangkan, aku dikejutkan dengan banyaknya orang yang ingin mengenal Islam…Dan setiap kali aku mengenal seseorang, maka aku segera mengirimkan kepada mereka 2 buku yang sama dan 1 eksemplar al-Qur’an al-Karim…hingga akhirnya ada 3 orang lagi yang masuk Islam melaluiku: 2 orang dari Amerika dan 1 orang dari Inggris…Aku sangat gembira dengan itu semua

Adalah Ummu Ahmad –wanita muda yang baru masuk Islam itu-selalu membantuku untuk berbicara dengan mereka, hingga akhirnya ia sendiri berhasil meyakinkan saudarinya untuk masuk Islam…walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

 

***

Alih bahasa:
Muhammad Ihsan Zainuddin
Pembina http://KuliahIslamOnline.com
Sumber:  al-Mausu’ah al-Kubra li al-Qashash al-Mu’atstsirah li al-Fatayat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.