بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan”. (QS. Al-Jasiyah: 15).

Siapa yang mengerjakan amalan sholeh maka itu untuk dirinya sendiri, jadi setiap kesholehan, ketaatan, ibadah yang kita kejakan sedikitpun tidak akan memberikan manfaat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Ketika Allah menyebutkan tujuan diciptakannya manusia Allah tidak meminta mereka itu memberikan sedikitpun rezeki atau memberikan makan, Allah maha kaya, dan jika manusia kafir sedikitpun tidak memberikan mudharat kepada Allah maka sungguh mengherankan jika ada orang yang diajak untuk melakukan kebaikan kemudian marah padahal kita mengajak dia untuk melakukan kebaikan karena kebaikan itu untuk dirinya sendiri, siapa yang mengerjakan kebaikan amalan sholeh maka itu untuk dirinya sendiri. Allah tidak butuh kita karena dialah Allah Subhanahu wata’ala yang maha pemberi rezeki, Allah maha kuasa untuk menghukum hambanya namun Subhanallah Allah memberikan tangguh kepada hambanya yang melakukan perbuatan dosa, ada doa yang indah yang biasa kita dengarkan:

Ya Allah perlakukan kami dengan yang layak untukmu, jangan perlakukan kami dengan yang layak untuk kami terima”.

Ya Allah perlakukan kami dengan yang layak untukmu

Doa ini menunjukkan keluasan rahmat Allah dan ampunannya, andaikan Allah Subhanhau wata’ala dalam Al-Qur’an menghukum manusia dengan apa yang mereka kerjakan maka tidak ada satupun yang berhak hidup dipermukaan bumi ini, andaikan kita berbuat maksiat kemudian langsung dihukum oleh Allah maka tidak ada yang berhak untuk tinggal dipermukaan bumi ini karena kita semua pendosa, jika ada yang melihat kita sebagai orang yang sholeh dan mereka memuji kita maka ini adalah kelembutan Allah menutupi aib- aib kita padahal setiap manusia mengetahui kondisi dan keadaan dirinya, sebuah ungkapan yang indah:”Andaikan kalian tahu tentang diri saya kalian akan menaburkan pasir diatas kepala saya dan kalian tidak mau menyampaikan salam kepada saya“.

Jangan perlakukan kami dengan yang layak untuk kami terima

Jika berbicara dengan kelayakan yang diterima dari amalan yang kita kerjakan maka kita tidak pantas lagi makan rezekinya Allah, kita tidak pantas untuk hidup dibuminya Allah, tidak lagi pantas untuk mendapatkan kemurahan dari Allah tetapi Allah Subhanahu wata’ala maha luas rahmatnya.

Begitu banyak amalan yang Allah perintahkan kepada hambanya karena Allah tahu manusia memiliki sifat cepat bosan sampai dalam ibadah sebagaimana kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَيَحْيَى بْنُ جَعْدَةَ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ الرَّسُولِ قَالَ ذَكَرُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَوْلاَةً لِبَنِى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ إِنَّهَا قَامَتِ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ. قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَكِنِّى أَنَا أَنَامُ وَأُصَلِّى وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ فَمَنِ اقْتَدَى بِى فَهُوَ مِنِّى وَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ثُمَّ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى بِدْعَةٍ فَقَدْ ضَلَّ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّةٍ فَقَدِ اهْتَدَى »

Dari Mujahid, ia berkata, aku dan Yahya bin Ja’dah pernah menemui salah seorang Anshor yang merupakan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, para sahabat Rasul membicarakan bekas budak milik Bani ‘Abdul Muthollib. Ia berkata bahwa ia biasa shalat malam (tanpa tidur) dan biasa berpuasa (setiap hari tanpa ada waktu luang untuk tidak puasa). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:”Akan tetapi aku tidur dan aku shalat malam. Aku pun puasa, namun ada waktu bagiku untuk tidak berpuasa. Siapa yang mencontohiku, maka ia termasuk golonganku. Siapa yang benci terhadap ajaranku, maka ia bukan termasuk golonganku. Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bid’ah, maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk“. (HR. Ahmad 5: 409).

Siapa yang bosannya itu diatas sunnah maka dia telah mendapatkan petunjuk dan yang berada diatas selain jalan itu maka dia telah tersesat. Terkadang kita lagi semangat – semangatnya melaksanakan sholat bahkan tidak ada yang luput 12 rakaat dari sholat sunnah yang mengiringi sholat wajib ditambah dengan qiamullail 11 rakaat, sholat dhuha 2 rakaat bahkan lebih dari itu kemudian tiba – tiba futur lemah semangatnya sehingga semangatnya hanya bisa minimal tidak meninggalkan yang wajib ditambah dengan ibadah muakkadah akan tetapi ini masih berada diatas sunnah karena tidak meninggalkan sama sekali karena iman itu bertambah dan berkurang dan Allah Subhanahu wata’ala tahu bahwasanya hamba – hambanya itu terkdang bosan maka Allah menjadikan ibadah itu bemacam – macam dan berbeda – beda.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS. Al-Isyirah: 07).

Nabi dalam perjalanan isra dan mi’raj yang awalnya disyariatkan 50 kali sholat sehari semalam jika perintah ini langsung diterima oleh Nabi maka bagaimana kondisi dan keadaan kita, jadi kita sholat dan setelah sholat kita dzikir yang merupakan ibadah yang lain diikuti dengan bertasbih sambil menghitungnya keluar dari masjid kita membaca doa merupakan ibadah, masuk masjid mendahulukan kaki kanan merupakan ibadah, berjumpa dengan saudara kita kemudian memberikan salam itu ibadah, bermuka manis kepadanya itu adalah ibadah, melihat duri dijalan lalu mengangkatnya itu ibadah ketika sampai dirumah kita memberi salam kepada keluarga, menyapa mereka dan membahagiakan mereka itu adalah ibadah.

Jadi kita berpindah dari suatu ibadah kepada ibadah yang lain dan semuanya disiapkan pahala disisi Allah Subhanahu wata’ala. Apapun yang kita lakukan sekecil apapun Allah maha tahu dan Allah tidak akan menyia-nyiakannya dan menyimpannya dengan rapi disisinya dan dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 05 Muharram 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.