mim.or.id – Berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu perintah Allah dan jalan Menuju Keberkahan dan Surga bahkan disandingkan langsung dengan perintah untuk mentauhidkan-Nya.
Ini menunjukkan betapa fundamentalnya posisi birrul walidain (berbakti kepada orang tua) dalam ajaran Islam. Sebagaimana dijelaskan, ada tiga hal yang Allah sandarkan dalam Al-Qur’an: taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, serta bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada kedua orang tua.
Prioritas Utama: Ibu Tercinta
Ketika Nabi Muhammad ditanya siapa yang paling berhak untuk diperlakukan dengan baik, beliau menjawab “Ibumu” sebanyak tiga kali, baru kemudian “Bapakmu”. Prioritas ini tidak lain karena pengorbanan luar biasa seorang ibu yang mengandung dengan kondisi lemah bertambah lemah dan menyusui bayinya selama dua tahun penuh.
Allah bahkan memerintahkan untuk menyempurnakan susuan selama dua tahun, dan jika ingin menghentikannya, harus melalui musyawarah dan kesepakatan antara suami dan istri. Prinsip musyawarah ini juga menjadi rahasia sukses dalam rumah tangga untuk masalah-masalah lainnya.
Baca Juga: Keikhlasan: Benteng Kokoh Pelindung Diri dari Godaan Setan
Pengorbanan Orang Tua dan Tanggung Jawab Anak
Bagi anak-anak, terutama yang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren, perlu diingat bahwa kepergian mereka dilepas dengan linangan air mata dan hati yang perih oleh orang tua. Ini bukanlah tindakan membuang, melainkan investasi akhirat dari orang tua yang menginginkan anak-anak mereka menjadi “kerabat-kerabat Allah” dan benteng dari api neraka.
Oleh karena itu, kesabaran dan kesungguhan dalam belajar adalah bentuk bakti. Jika tidak sungguh-sungguh, lebih baik pulang dan berbakti secara langsung di rumah. Rasulullah bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim, no. 2699).
Puncak Bakti: Merawat Orang Tua di Usia Senja
Baca Juga: Menjauhkan Diri dari Kemunafikan: Tunaikan Amalan ini!
Berbakti kepada orang tua saat mereka masih produktif adalah mulia, namun pahalanya jauh lebih besar ketika merawat mereka yang sudah rentan, tidak berdaya, atau sakit-sakitan. Merawat orang tua yang harus dimandikan, dibantu shalat, disuapi, bahkan dibersihkan kotorannya, adalah puncak bakti yang menuntut kesabaran luar biasa dari seorang anak.
Meski secara fitrah terasa membebani, ingatlah bahwa di dalamnya terdapat pahala yang sangat besar di sisi Allah. Jangan sampai ada sedikitpun perasaan terbebani, apalagi meluapkan kekesalan. Kematian ibu bahkan dianggap sebagai tertutupnya salah satu pintu surga bagi anak yang berbakti.



