بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berbahagialah yang masih memiliki kedua orang tua atau salah satunya masih hidup berbuat baiklah kepadanya itu merupakan pintu untuk masuk kedalam surga Allah Subhanahu wata’ala adapun yang telah meninggal orang tuanya sesungguhnya berbakti kepadanya tidaklah terputus dengan kematiannya sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Dari Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:”Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah. Orang ini bertanya:”Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara bagiku untuk berbakti kepada orang tuaku setelah mereka meninggal?”, Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

نَعَمْ، الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِيفَاءٌ بِعُهُودِهِمَا مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا

“Ya, menshalatkan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, memenuhi janji mereka setelah mereka meninggal, memuliakan rekan mereka, dan menyambung silaturahmi yang terjalin karena sebab keberadaan mereka”. (HR. Ahmad 16059, Abu Daud 5142, Ibn Majah 3664, dishahihkan oleh al-Hakim 7260 dan disetujui adz-Dzahabi).

Ada beberapa cara berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal, diantaranya adalah:

  1. Perbanyak mendoakan orang tua yang telah meninggal

Doakan mereka dalam setiap sujud kita dalam setiap Qiyamullail dan setiap munajat kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, Dalam hadist Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”. (HR. Muslim no. 1631).

Bahkan boleh jadi bakti kepada kedua orang tua dengan mendoakan mereka setelah meninggal lebih besar pahalanya dibandingkan ketika mereka masih hidup karena ketika kedua orang tua masih hidup mereka masih bisa beribadah, mereka masih bisa bertaubat dari dosa-dosanya adapun ketika mereka telah berpindah ke alam  kubur, mereka tidak mampu lagi menambah kebaikan tidak mampu lagi mengurangi keburukan namun dengan doa anak yang sholeh akan mengangkat derajat orang tua sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan  ketika ada seorang lelaki nanti dihari kiamat melihat pahala yang diberikan sebesar gunung, sebagaimana dalam hadist Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla akan mengangkat derajat seorang hamba yang sholeh didalam surga, hamba itu kemudian bertanya:”Ya Rabbi, darimana derajat ini aku peroleh?” Allah ‘azza wajalla menjawab:”Karena anakmu meminta ampunan kepadaku”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dianggap Shohih oleh al-Bani)

  1. Bersedekah atas namanya atau bagi yang ingin mengumrahkan atau menghajikan dibolehkan akan tetapi dengan syarat kata para ulama ia telah umrah atau menghajikan dirinya sendiri terlebih dahulu baru setelah itu ia kemudian umrah dan haji atas nama orang tuanya.

  1. Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat – kerabat, saudara kedua orang tua

Suatu ketika Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bertemu dengan salah seorang ‘arabi dari pedalaman beliau turun dari kendaraannya kemudian membuka surbannya  dan dikenakan kepada lelaki tersebut bukan hanya itu beliau juga memberikan kendaraannya kepada orang tersebut, orang yang bersama dengan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata:”Wahai Ibnu Umar ia adalah orang yang berasal dari kampung ia telah senang dengan pemberian yang sederhana tadi berupa surban, lalu mengapa anda memberikan kendaraan kepadanya“, beliau kemudian berkata:”Bapak orang ini adalah teman dekat orang tua saya”. Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berbakti kepada ayahnya Umar Radhiyallahu ‘anhu setelah wafatnya dengan berbuat baik kepada orang – orang yang dicintai oleh ayahnya ketika masih hidup.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ

“Bentuk kebaktian kepada orang tua yang paling tinggi, menyambung hubungan dengan orang yang dicintai bapaknya, setelah ayahnya meninggal.” (HR. Muslim no. 2552).

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 15 Rajab 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.