بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sahabat Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu pernah diangkat oleh Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu menjadi gubernur di kufah namun tidak lama kemudian beliau ditarik ke madinah dan digantikan dengan sahabat yang lain, mengapa beliau ditarik karena salah seorang penduduk kufah ada yang melaporkan bahwa Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu tidak cakap dan beres ketika menjadi imam memimpin sholat (hal ini merupakan tuduhan dan fitnah yang keji kepada beliau).

Namun ketika beliau telah sampai dimadinah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu kemudian berkata:”Telah sampai berita kepadaku bahwasanya engkau tidak memimpin sholat mereka dengan baik”, Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Tidaklah saya memimpin sholat kecuali seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dimana rakaat pertama saya panjangkan dan rakaat terakhir saya pendekkan sebagaimana yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu kemudian mengutus beberapa utusan untuk mengecek berita fitnah yang sampai kepada beliau.

Perlu diketahui bahwasanya Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu bukan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, akan tetapi sebagai pemimpin khalifah yang memiliki tanggung jawab yang besar beliau kemudian mengutus beberapa utusan untuk mengecek berita yang telah sampai kepada beliau  dan utusan ini mendatangi beberapa masjid, ketika utusan ini sampai ke suatu masjid dan bertanya tentang Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu maka mereka menjawab:”Beliau adalah orang yang baik dan gubernur yang baik”, begitu pula pada masjid yang lain mereka mengatakan Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang baik dan gubernur yang baik.

Namun ternyata ada disuatu tempat bernama bani ‘abs ketika mereka ditanya bagaimana Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu ada salah seorang lelaki disana yang bernama Usamah abi Qatadah yang kunniyahnya Abu Sa’dah ketika ditanya tentang Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu ia kemudian berkata:”Saad itu tidak pernah keluar bersama pasukan untuk berperang dan dia juga tidak membagi ghanimah dengan pembagian yang adil dan dia tidak mampu memutuskan perkara dengan baik“, ternyata orang inilah yang menjadi provokator hingga sampai berita fitnah kepada Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu.

Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu kemudian berdoa:Ya Allah jika memang orang yang menuduh saya dengan tuduhan yang keji seperti itu karena riya dan sum’ah maka panjangkan umurnya, panjangkan kefakirannya dan perjumpakan dia dengan fitnah”. Dengan doanya tersebut Allah Subhanahu wata’ala kemudian mengabulkan doa Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu, sehingga  Usamah abi Qatadah kemudian dipanjangkan umurnya oleh Allah Subhanahu wata’ala kemudian hidup dalam kefakiran dan ketika dia sudah tua renta serta alisnya sudah panjang beruban berwarna putih namun Usamah abi Qatadah masih menggoda para wanita yang sedang berjalan, dan setiap kali beliau ditanya:”Mengapa engkau melakukan hal tersebut?”, ia kemudian menjawab:”Saya adalah orang yang sudah tua dan terkena fitnah dan saya terkena doanya Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu”.

Sahabat Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu adalah salah seorang sahabat yang dikabulkan doanya oleh Allah Subhanahu wata’ala dan ketika ditanya apa rahasia doa beliau sehingga makbul, beliau kemudian berkata:”Perbaiki makananmu dan engkau akan menjadi orang yang mustajab doanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala”, walaupun diakhir kehidupan beliau dalam keadaan  buta sebagaimana disebutkan dalam sirah namun beliau tidak berdoa agar dikembalikan penglihatannya dan ketika ditanya beliau mengatakan:”Saya ridha dengan takdir Allah Subhanahu wata’ala”.

Faedah yang bisa kita dapatkan dari kisah ini adalah:

  1. Hendaklah setiap kita menjauhi fitnah yang suka menceritakan kejelekan dan keburukan saudara kita apatahlagi yang kita ceritakan adalah berupa fitnah yang belum jelas kebenarannya atau suka membuat fitnah dusta atas saudara kita sehingga membuat semua orang benci terhadap saudara kita.
  2. Jangan mudah percaya dengan berita fitnah atas saudara kita akan tetapi hendaklah mengklarifikasi dan tabayyun untuk mengetahui apakah berita tersebut benar atau dusta agar kita tidak termasuk orang – orang yang ikut memfitnah saudara kita karena muda percaya terhadap fitnah yang sampai kepada kita.
  3. Senantiasalah berhati-hati terhadap doa orang yang terfitnah jangan sampai kita termasuk orang yang berbuat fitnah atau ikut dalam menyebarkan fitnah dusta terhadap saudara kita sehingga kita termasuk orang – orang yang di azab oleh Allah Subhanahu wata’ala melalui doa orang yang terdzalimi, karena doa orang yang terdzalimi tidak ada hijab antara doanya dengan Allah Subhanahu wata’ala bahkan sekalipun dia adalah orang non muslim apabila terdzalimi kemudian berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala maka bisa jadi dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.
  4. Bolehnya mendoakan keburukan kepada orang yang membuat fitnah dan menyebarkan fitnah atas diri kita selama kita yakin bahwa apa yang diberitakan atas diri kita kepada orang lain tidak benar dan mengandung kedustaan untuk membuat orang lain benci kepada kita sehingga dengan fitnah tersebut membuat kita terpuruk dan menjadi buruk dimata orang lain. Namun jika kita mampu untuk bersabar dan mendoakan kebaikan untuknya maka itu lebih baik.
Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 10 Jumadil Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.