Kisah ini akan menunjukkan kepada kita betapa dakwah melalui surat-surat elektronik (email) mempunyai pengaruh yang hebat…Kita tidak boleh meremehkan sebaris kalimat kebaikan pun yang kita tuliskan, meskipun kelihatannya sedikit.

Berikut ini adalah kisahnya –sebagaimana dituturkan oleh pelakunya sendiri-:

Aku adalah seorang gadis dari Qatar. Usiaku memasuki 22 tahun…

Aku adalah seorang gadis yang larut dalam gemerlap dan keindahan dunia. Aku tidak pernah peduli dengan apa yang telah kulakukan pada hari-hariku yang lalu, yang kelihatannya berlalu dengan begitu cepat…

Hingga akhirnya, Allah menakdirkan beberapa surat elektronik sampai kepadaku…

Ya Allah, betapa nasehat-nasehatnya menghidupkan hati dan perasaanku. Ia membangunkanku dari kelalaianku hingga hatiku sendiri pun mulai menyalahkanku atas semua yang telah aku lakukan di masa yang lalu…

Aku bertanya kepada diriku sendiri: “Apakah semua yang kau lakukan itu telah memberikan kebahagiaan untukmu?” Dan jawabnya adalah: tidak sama sekali. Aku tidak pernah menemukan kebahagiaan dan ketenangan sedikit pun di dunia ini dari semua kenikmatan materi itu…apalagi untuk kehidupan akhiratku…

Jika kalian bertanya tentang bagaimana hidupku dahulu sebelum Allah memberikan hidayah kepadaku:

Maka biasanya aku akan bangun setelah matahari terbit. Lalu dengan tergesa-gesa, aku akan pergi ke kampus agar tidak ketinggalan kuliah supaya aku selalu menjadi mahasiswi yang berprestasi…

Sesekali aku bangun untuk shalat subuh…Namun yang lebih sering –sayang sekali- aku tidak mengerjakan shalat subuh agar tidak ketinggalan kuliah di kampus.

Lalu setelah itu apa?

Setelah itu, aku akan pulang ke rumah dalam keadaan yang sangat letih dan lelah. Aku akan masuk tidur atau malah masuk ke dunia maya untuk menghabiskan waktuku melakukan hal-hal yang tidak diridhai Allah…ngobrol ke sana ke mari tentang urusan dunia dan lain sebagainya…Obrolan itu akan terus berlanjut hingga adzan Ashar dikumandangkan, dan aku tetap larut dalam kelalaian mengingat Allah dan melaksanakan shalat…

Pada kesempatan lain, aku akan pergi ke mall. Dan tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana aku membuang-buang waktuku di sana…

Jika aku keluar, aku mengenakan pakaian terindah yang kumiliki. Tentu tidak lupa dengan parfum yang semerbak dan memakai berbagai aksesoris dan perhiasan emas yang kumiliki. Setelah itu, aku akan pulang ke rumah dan tidur…

Begitulah, dan begitu banyak shalat yang terluputkan –semoga Allah mengampuni semua dosaku yang lalu-. Semua itu bukan karena aku mempunyai niat yang buruk, tapi semata-mata karena sebuah kelalaian yang sangat parah yang juga dialami oleh banyak gadis sepertiku…

Ini semua disebabkan kurang nasehat dan pengarahan yang ditujukan kepada kami…Karena itu, dalam kesempatan ini, aku juga menyampaikan pesan kepada para akhawat yang telah lebih dahulu mendapatkan hidayah Allah: di mana peran kalian untuk menyelamatkan saudari-saudari kalian dan menggenggam tangan mereka menuju jalan hidayah?

Aku ingat betul hari ketika aku menerima hadiah berupa 2 buku kecil dari salah satu situs Islam. Kandungan kedua buku itu ditujukan kepada setiap muslimah. Isinya singkat, tapi yang aku ingat betul adalah bagaimana ia menegaskan bahwa keimanan dan rasa malu adalah 2 hal yang saling berkaitan. Aku juga tidak mungkin lupa nasehat-nasehat kedua buku itu tentang bagaimana seharusnya busana muslimah yang benar, dan bahwa betapa banyaknya muslimah yang tertipu hingga mengganggap “jilbab gaul” sebagai jilbab yang syar’i, padahal sama sekali tidak sesuai dengan aturan Islam. Yah, itu adalah “jilbab” yang harus dijilbabi lagi agar tidak menjadi perhiasan…

Aku betul-betul larut membaca kedua buku itu. Entah mengapa aku tiba-tiba merasa hatiku begitu sesak…entah kenapa…Namun yang pasti aku terus saja larut membaca semua buku yang dihadiahkan kepadaku itu. Aku benar-benar terpengaruh dengan isinya. Aku pun mulai berpikir lebih dalam, mengulang kembali kenangan tentang apa yang dahulu pernah aku lakukan…Aku pun mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri:

Apakah semua kuliah dan kesuksesan akademisku itu akan berguna untukku di akhirat?

Bagaimana mungkin aku meninggalkan shalat hanya agar aku tidak ketinggalan mata kuliahku?

Bagaimana bisa aku menghabiskan usiaku hanya untuk kesia-siaan dan hal yang tidak bermanfaat?

Apa yang akan aku dapatkan?

Akan seperti apa perjalananku di dunia dan akhirat kelak?

Adzab dan siksa Allah!!

Maka sejak saat itu, aku memutuskan untuk meninggalkan semua yang pernah aku lakukan di masa lalu…

Aku benar-benar mulai semua kekeliruanku dahulu. Aku berusaha menjauhinya dan mulai menjaga shalat-shalatku tepat pada waktunya. Aku tidak mau lagi menunda shalat manapun, meski aku harus kehilangan kuliah-kuliahku atau apapun yang melalaikanku dari shalat…

Aku kemudian berjanji pada diriku sendiri untuk meniti jalan yang benar dan meninggalkan semua godaan dunia, serta selalu berjaga-jaga dengan usiaku dan tahun-tahun yang berlalu tanpa manfaat sama sekali…

Dan sekarang alhamdulillah, aku telah mengerjakan semua shalat 5 waktu, menjaga bacaan al-Qur’an…menjauhi semua yang dapat melalaikanku. Aku sudah meninggalkan lagu-lagu dan tidak lagi pergi ke mall-mall. Aku telah meninggalkan “busana muslimah gaul”ku dan mengenakan busana yang benar-benar menutupi tubuh dengan semua hiasannya, seperti yang diinginkan oleh Allah; tidak seperti yang diinginkan oleh para perancang mode…

Aku sungguh-sungguh berterima kasih atas semua-semua surat-surat dakwah elektronik yang telah mengubah kehidupan begitu banyak jiwa yang lemah…Dan ini bukan hanya kisah seorang saja, namun juga kisah banyak pemudi yang kukirimi surat-surat dan buku-buku itu; mereka benar-benar berubah…jazakumullah khairan…

 Salam hormatku,

Aisyah – Qatar

Alih Bahasa:
Muhammad Ihsan Zainuddin
Pembina https://kuliahislamonline.com
Sumber: Qashash Mu’atstsirah Jiddan Lil Fatayat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.