بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Beliau Shallalahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda:”Ayahmu tidak akan memperoleh kesukaran lagi sesudah hari ini.

Kematian merupakan tempat beristirahat bagi orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kata para ulama kematian :”Mempersempit yang luas dan  memperluas yang sempit”,

Mempersempit yang luas yaitu ketika mendapatkan rezeki yang banyak dan melimpah atau bergelimang dengan kemewahan namun selalu mengingat kematian, salah seorang salaf pernah diundang syukuran oleh salah seorang pedagang kaya yang baru saja membangun rumahnya, Ia bertanya:”Apa pendapatmu tentang rumahku”, ia menjawab :”Engkau telah menginginkan rumah yang seperti ini dan engkau telah membangunnya dengan kemewahan, namun sebentar lagi engkau akan mati”.

Persiapkan diri dengan ketaatan kepada Allah, perbanyak mengerjakan amalan sholeh sehingga kita menyambut kematian dengan senyuman. Karena kematian pasti akan mendatangi seorang hamba, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah:“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Jumu’ah: 8). Diantara cara seseorang menghindari kematian adalah berobat ketika sakit.

Jika ada diantara kita galau, gundah gulana maka katakan insyaAllah kematian dekat karena kematian merupakan tempat istrahat bagi orang – orang yang beriman. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita doa:

Ya Allah jadikanlah kehidupan bagiku untuk menambah kebaikan dan jadikanlah kematian bagiku tempat untuk aku beristirahat“.

Kematian seorang mukmin merupakan istirahat baginya, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam haditsnya sebagai berikut :

وعَنِ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshari, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasulullah, maka beliau bersabda:“Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Mereka (para sahabat) bertanya:“Wahai Rasulullah, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?”. Beliau menjawab:“Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allah. Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika masa hidupnya selalu membuat masalah dan mengganggu orang lain dan melakukan kerusakan, ketika meninggal yang semestinya orang mengucapkan:”Innalillahi wainna ilaihi roji’un“, akan tetapi justru orang mengatakan:”Alhamdulillah”,

Lalu Meninggallah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam 

Ketika para sahabat melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mulai sehat dari sakit yang ia derita, Abu Bakar kemudian minta izin pulang kerumahnya namun belum sampai beliau kerumahnya tiba – tiba datang berita bahwa Rasulullah telah meninggal, beliau kemudian kembali kerumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan pada saat itu sahabat – sahabat yang lain gempar dan seakan-akan tidak percaya dengan berita tersebut. Umar Radhiyallahu ‘anhu, beliau menghunus pedangnya dan mengatakan:”Sesungguhnya ada diatara orang – orang munafik yang mengatakan bahwa Rasulullah telah meninggal, sungguh beliau tidak meninggal beliau hanyalah seperti Nabi Musa yang diundang untuk bertemu tuhannya selama 30 malam kemudian ditambah 10 malam sehingga menjdi 40 malam setelah itu kembali kepada kita, siapa yang mengatakan Rasulullah meninggal maka aku penggal lehernya atau memukulnya dengan pedang ini”, dan inilah pentingnya menyampaikan bela sungkawa kepada saudara kita yang telah meningggal sekalipun dia adalah orang yang sholeh.

Berangkatlah Abu Bakar as Shiddiq kerumah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha beliau kemudian melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyingkap wajahnya dan ketika beliau yakin bahwa Rasulullah benar – benar meninggal ia kemudian menangis, mencium Rasulullah dan mengatakan:”Sungguh engkau telah suci hidup dan matimu ya Rasulullah”, Abu Bakar mengetahui bahwa Rasulullah telah meninggal ketika Rasulullah menyampaikan khutbah dihadapan para sahabatnya dengan berkata:”Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberikan pilihan oleh tuhannya untuk tinggall didunia atau kembali kepada rabbnya, namun seorang hamba tersebut lebih memilih untuk kembali kepada tuhannya“, Lalu menangislah Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu karena faham dengan perkataan Rasulullah  bahwa hamba yang diberikan pilihan tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah keistimewahan para Nabi dan Rasul dimana sebelum mereka meninggal mereka diberikan pilihan tinggal didunia atau kembali kepada Allah.

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu yang tidak tenang dengan kepergian Rasulullah, maka datanglah Abu Bakar dan berkata kepada Umar:”Diam dan duduklah wahai Umar”, namun Umar tetap pada sikapnya, akhirnya Abu bakar as Shiddiq mulai menyampaikan kenyataan tersebut dihadapan para sahabatnya, beliau memulai dengan khutbah hajah, orang – orang kemudian berkumpul kepada beliau dan meninggalkan Umar , Abu bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Siapa yang menyembah Muhammad maka sesugguhnya Muhammad telah mati, dan barangsiapa yang menyembah Tuhannya Muhammad maka ketahuilah Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati

Beliau lalu membaca firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur“. (QS. Ali Imran: 144).

Umar bin Khattab seakan-akan baru mendengar ayat tersebut padahal beliau sering membacanya dan begitulah manusia ketika ditimpa musibah ia butuh teman dan suadara – saudaranya untuk menguatkan dirinya yang sedang diuji. Akhirnya Umar Radhiyallahu ‘anhu tenang menerima kenyataan yang pahit tersebut ia tidak mampu lagi memegang pedangnya, kedua kakinya tidak mampu membawa tubuhnya, beliau pasrah dan berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kematian Rasulullah merupakan kematian yang luar biasa bagi para sahabatnya, ketika mendengar kisah kematian Rasulullah kita bersedih, lalu bagaimana dengan para sahabat yang melihat langsung dengan mata mereka yang sebelumnya mereka berada dalam kekufuran, jahiliyah, kesyirikan, kehinaan kemudian dimuliakan oleh Allah dan mengenal Allah Subhanahu wata’ala dan mengetahui bagaimana cara beribadah kepada Allah lewat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau adalah guru, murabbi dan bapak mereka yang ia saksikan kematiannya.

Para sahabat kemudian menerima kenyataan kematian Rasulullah. Keesokan hari ketika masuk waktu subuh Bilal bin Rabah muadzin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menemani beliau dalam suka dan duka baik ketika safar atau mukim, Bilal yang telah didengarkan langkah kakinya didalam surga oleh Rasulullah, Bilal yang ketika Rasulullah merasakan kegalauan beliau mengatakan:

Berdirilah wahai Bilal (kumandangkan azan) istrahatkan kami dengan sholat”, Bilal yang ketika fathul makkah Rasulullah menyeru:”Mana Bilal, naik diatas punggung ka’bah kumandangkan azan“, Bilal yang sebelumnya disiksa oleh majikannya dan dibebaskan oleh Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, Bilal yang mengorbankan hidupnya demi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba – tiba kekasihnya yang paling ia cintai yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, Tinggallah sang muadzin seorang diri, beliau naik diatas menara mengumandangkan azan subuh ketika sampai pada lafadz :”Ashadu anna Muhammadarrasulullah”,  beliau menangis tidak mampu melanjutkan azan sambil menengok ke kamarnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah tiada, Bilal bin Rabah dahulu ketika masuk waktu untuk di iqamah dan Rasulullah terlambat keluar beliau masuk mengingatkan Nabi :”As Sholah Ya Rasulullah”.

Bilal turun dari menara sambil menangis sejadi – jadinya, ia berkata kepada Abu Bakar as Shiddiq:”Izinkan saya untuk tidak lagi mengumandangkan azan setelah hari ini”, dan itulah azan terakhir bagi Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘anhu kecuali setelahnya beliau kembali azan ketika Umar Radhiyallahu ‘anhu menerima kunci Baitul Maqdis dimana pada waktu itu beliau meninggalkan madinah menuju ke Baitul Maqdis  ketika kaum muslimin menaklukkannya:”Umar kemudian berkata:”Mana bilal, Ya Bilal ingatkan kami dengan Rasulullah”, awalnya Bilal mengatakan:”Tidak, saya tidak akan azan setelah kematian Rasulullah”, akan tetapi para sahabat berkata:”Bertakwalah wahai Bilal yang menyuruhmu adalah amirul mukminin’, Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘anhu yang telah tua kemudian berjalan dan mengumandangkan azan, ketika lafadz pertama diucapkan oleh Bilal para sahabat menangis mengingat hari-hari ketika dahulu bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Inilah hari yang memilukan hari meninggalnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwasanya orang yang beriman ketika mendapakan musibah ia mengembalikannya kepada Allah dengan mengucapkan :”Innalillahi wa inna ilaihi Roji’un”,.

Bersambung (Detik Menjelang Kematian Rasulullah Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Jum’at 22 Muharram 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.