mim.or.id – Pada dunia modern dan di tengah kesibukan dunia ada empat nasihat abadi dari Al-Qur’an dalam menghadapi kehidupan yang serba sibuk dan bising, seringkali manusia terlena oleh gemerlap kehidupan duniawi hingga melupakan hakikat keberadaannya.Â
Kematian: Sebuah Kepastian yang Tak Terelakkan
Nasihat pertama adalah setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian. Ini adalah sebuah keniscayaan yang tidak memandang usia, status sosial, kekayaan, maupun jabatan. Bahkan Rasulullah, makhluk yang paling mulia, tidak dikekalkan di dunia ini.
Allah menggunakan kata ‘akan menjumpaimu’ untuk menggambarkan kematian, yang berarti ia akan datang dari depan dan tidak mungkin dihindari, sekuat apa pun kita berusaha lari atau bersembunyi di dalam benteng yang kokoh.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Saya tidak melihat ada sebuah keyakinan tetapi seakan diragukan oleh manusia seperti keyakinan mereka terhadap kematian”. Kita semua yakin akan mati, namun perilaku kita seringkali seolah-olah kita akan hidup selamanya.
Mengingat kematian bukanlah untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk memotivasi kita. Para ulama menyebutkan bahwa mengingat mati “memperluas yang sempit dan mempersempit yang luas”.
Saat kita dalam kesulitan, mengingat mati akan membuat dunia terasa ringan; saat kita berada di puncak kesuksesan, ia akan mengingatkan kita bahwa semua itu akan ditinggalkan.
Hari Pembalasan: Puncak dari Segala Usaha
Nasihat kedua adalah ‘dan balasanmu akan disempurnakan pada hari kiamat’. Pesan ayat ini mengajarkan kita untuk meluruskan niat dalam setiap perbuatan. Balasan utama atas amal kita bukanlah di dunia ini, melainkan di akhirat.
Ini mendorong seorang mukmin untuk senantiasa ikhlas, mengharapkan wajah Allah dalam setiap kebaikan yang dilakukannya, bukan pujian atau balas jasa dari manusia. Syi’ar orang beriman adalah ‘Kami memberimu makan semata-mata karena mengharap wajah Allah, kami tidak mengharapkan balasan bahkan ucapan terima kasih darimu’.
Jika kita hanya berharap pada manusia, kita akan sering kecewa. Namun, Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya dan mengetahui setiap kebaikan, sekecil apa pun, yang kita lakukan.
Baca Juga: Adab Penuntut Ilmu: Kunci Keberkahan Belajar
Keberuntungan Sejati: Selamat dari Neraka, Masuk ke Surga
Nasihat ketiga mendefinisikan ulang arti kesuksesan ‘barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung’. Keberuntungan yang nyata bukanlah karir yang cemerlang, kekayaan yang melimpah, atau popularitas duniawi.
Cita-cita tertinggi seorang mukmin adalah diselamatkan dari api neraka. Rasulullah menggambarkan betapa dahsyatnya balasan akhirat ini. Orang paling nikmat hidupnya di dunia akan dicelupkan sejenak ke dalam neraka, dan ia akan lupa semua kenikmatan yang pernah dirasakannya.
Sebaliknya, orang paling sengsara di dunia akan dicelupkan sejenak ke dalam surga, dan ia akan lupa semua penderitaannya. Inilah keberuntungan dan kerugian yang sesungguhnya.
Dunia yang Menipu dan Perisai Seorang Mukmin
Baca Juga: Mengenal Wali-Wali Allah: Ciri, Syarat, dan Keutamaannya
Nasihat terakhir adalah pengingat keras ‘dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu’. Dunia diibaratkan seperti hujan yang menumbuhkan tanaman hijau yang indah, namun kemudian menguning, kering, dan hancur.
Di tengah kesibukan dan godaan dunia inilah seorang muslim harus memiliki perisai.Perisai tersebut adalah zikir atau mengingat Allah. Sesibuk apa pun kita dengan pekerjaan, keluarga, dan urusan duniawi, jangan sampai hal itu melalaikan kita dari mengingat Allah.
Lisan yang senantiasa basah karena berzikir adalah amalan yang lebih baik dari dunia dan seisinya dan manfaatkan waktu-waktu luang, seperti saat menunggu, untuk berzikir dan mendekatkan diri kepada-Nya, agar dunia tetap berada di tangan kita, bukan di dalam hati kita.



