بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Imam Ahmad pernah ditanya:”Kapankah kita bisa beristirahat wahai imam“, beliau kemudian menjawab:”Kita tidak akan bisa beristirahat sampai kita menginjakkan salah satu kaki kita di dalam surga“.

Hidup didunia ini antara kebahagiaan dan kesengsaraan, antara kebaikan dan keburukan, antara tangisan dan kebahagiaan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ

dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,(QS. An Najm : 43).

Orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala seluruh urusannya akan menjadi baik, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Dalam syariat kita yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kita telah diberikan tuntunan bagaimana menghadapi ujian dan musibah yang menimpa kita, sebagian manusia ada yang ketika tertimpa musibah, bumi baginya terasa sempit  padahal dunia tidaklah selebar daun kelor, dunia ini adalah merupakan tempat bagi kita untuk diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

(Dialah Allah) yang telah menciptakan kematian dan kehidupan demi menguji siapakah di antara kalian yang terbaik amalannya, dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Mulk: 2)

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar“. (QS. Al-Baqarah : 155).

Setiap diantara kita punya permasalahan dalam kehidupannya  dan siapa yang tidak memiliki masalah atau ujian maka diragukan keimanannya, Allah Subhanahu wata’ala menegaskan didalam Al-Qur’an:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?“. (QS. Al Ankabut : 2).

Oleh karenanya salah satu konsekuensi keimanan adalah besiap  untuk menerima segala ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wata’ala.

Salah satu hal yang harus dilakukan agar tidak berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala yaitu :

  1. Suatu hal yang harus kita yakini sebagai seorang muslim sebagaimana penegasan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Setelah kita merasakan lapar maka kita akan merasakan kenyang, ketika kita merasakan kehausan maka kita akan merasakan kelegahan setelahnya, pada saat kita sakit Allah akan memberikan kepada kita kesembuhan dan kesehatan dan seterusnya .

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:” perjara bagiku adalah merupakan kesempatan untuk berkhalwat dengan Allah Subhanahu wata’ala, oleh karenanya hendaknya kita senantiasa berbaik sangka kepad Allah Subhanahu wata’ala, dialah Allah Subhanahu wata’ala yang menyelamatkan Nabi Musa ‘Alahissalam, ketika beliau diperhadapkan dengan lautan yang snagat luas, dan dibelakang beliau fir’aun dan bala tentaranya telah hampir mendapati Musa dan kaumnya tapi dengan penuh keyakian ketika kaumnya Nabi Musa berkata:”Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”, Musa menjawab:”Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku“. (QS. Asy-Syu’ara:62)

Begitupula Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam ketika beliau dilemparkan oleh kaumnya untuk dimasukkan kedalam api yang berkobar, baliau kemudian yakin dengan pertolongan Allah Azza wajalla dengan mengatakan:”hasbiyallahu wani’mal wakil…”, dan api yang berkobar berubah menjadi sejuk dan memberikan keselamatan kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya mengingatkan kita:

…وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ

“Sesungguhnya pertolongan itu (akan datang) bersama dengan kesabaran.” (HR. Ahmad)

Al Hasan Al Bashri mengatakan bahwa ketika turun surat Alam Nasyroh ayat 5-6, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أبْشِرُوا أتاكُمُ اليُسْرُ، لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ

Kabarkanlah bahwa akan datang pada kalian kemudahan. Karena satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.”

Kesulitan disebut dalam bentuk ma’rifat adapun yusran dalam bentuk naqirah menunjukkan bahwasanya kemudahan yang pertama bukanlah kemudahan yang kedua , adapun kesulitan yang pertama itupula kesulitan yang kedua.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya“. (QS. Al-Baqarah :286).

  1. Hendaknya senantiasa bertafakkur betapa banyak nikmat yang diberikan kepada Allah Subhanahu wata’ala yang mewajibkan kita untuk mensyukurinya

Betapa banyak keutamaan – keutamaan yang Allah Subhanahu wata’ala siapkan untuk kita, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)“.(QS. Ibrahim :34)

Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan kesehatan kepada tubuh kita, keamanan pada tempat tinggal kita, memberikan kepada kita pakaian, udara, air dan semuanya telah kita dapatkan secara gratis  dari Allah Subhanahu wata’ala, kita telah memilikinya namun jarang kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan”. (QS. Luqman : 20)

Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan kepada kita akal yang mengangkat derajat kita disisinya dan yang membedakan kita dari hewan dan binatang.

Betapa banyak orang yang kaya raya namun ia terbaring diatas pembaringannya andaikan penyakit yang dideritanya bisa dibeli dengan seluruh harta yang ia miliki maka dia akan rela untuk memberikannya, Allah Subhanahu wata’ala memberikan kita nikmat tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Barangsiapa yang tiba dipagi hari yang merasakan keamanan , tidak ada gangguan pada tubuhnya, dirinya, keluarganya , harta bendanya, ia beraktifitas tubuhnya sehat , lalu ada makanan yang bisa ia nikmati hari itu, sungguh seakan akan dunia dan isinya telah dibentangkan untuknya“.

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Luqman : 34)

  1. Janganlah terlalu memikirkan hal – hal yang telah berlalu dari kehidupan kita untuk kita sesali

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita berlindung dari kegalauan dan kegelisahan, sebagaimana dalam doa

للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari belenggu hutang dan tekanan manusia”.

Para ulama kita mengatakan: Al hammu adalah sesuatu yang mengkhawatirkan kita seperti masa depan kita atau apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang.

Ada seseorang yang dari awalnya memang tidak mampu melakukan sesuatu oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:”Mintalah pertolongan dari Allah dan janganlah engkau merasa tidak mampu”, oleh karenanya salah satu kunci kesuksesan adalah dengan menghilangkan kata saya tidak mampu, seperti tatkala kita diberi sebuah amanah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:”Bersemangatlah engkau mengerjakan sesatu yang bermanfaat bagimu.

Al Kasal = di mana ia mampu tapi malas sehingga banyak pekerjaan yang terlalaikan, banyak sesuatu yang bisa ia kerjakan namun terhalangi oleh kemalasannya. Dari kekikiran dan sifat pengecut dan dari lilitan utang, hutang merupakan kegelisahan dimalam hari dan kehinaan disiang hari.

Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran: 139).

وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ

“Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka”. (QS. An-Nahl: 127). Setelah kita mengetahui bahwasanya jangan kita larut meratapi sesuatu yang telah berlalu dan yang telah terjadi  maka fokuskan apa yang sekarang ini kita berada didalamnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan kepada para sahabat Ibnu Umar Radhiyallhu ‘anhu kemudian berkata:”Jika engkau berada di waktu pagi jangan engkau menunggu waktu sore dan jika engkau berada diwaktu sore jangan engkau menunggu waktu pagi”,

Salah satu penyakit yang harus kita obati adalah kata – kata “Nanti, (menunda nunda)” sehingga ketika waktunya dicabut barulah ia menyesal.

  1. Memikirkan banyaknya kritikan dan pandangan negatif dari orang lain

Bahkan Allah Subhanahu wata’ala tidak lepas dari kritikan dan celaan yang kufur kepadanya Sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan dalam Al-Qur’an:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَداً. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئاً إِدّاً. تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدّاً. أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَداً. وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَداً. إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً. لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا

Dan mereka berkata:”Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu Telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, Hampir-hampir langit pecah Karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, Karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah Telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. (QS. Maryam: 88-94).

Dari Abi Musa Al-Asya’ri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidak ada seorangpun yang lebih bersabar mendengar celaan selain Allah, mereka mengatakan bahwa Dia memiliki anak kemudian Dia memaafkan mereka dan memberikan rizki bagi mereka”.

Dalam Hadist Qudsi Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Allah Subhanahu wata’ala berfirman: Anak Adam telah mendustakanku dan tidak sepantasnya dia melakukan hal tersebut. Dia mencelaku padahal dia tidak pantas terhadap hal tersebut. Adapun pendustaannya terhadapku adalah dia berkata: Allah tidak akan mengembalikanku sebagaimana dia memulai penciptaanku, padahal tidaklah awal penciptaan tersebut lebih mudah daripada mengembalikannya. Adapun celaannya terhadapku adalah dia mengatakan Allah memiliki anak, padahal Aku adalah Zat Yang Esa dan segala sesuatu bergantung kepadaKu, Aku tidak pernah melahirkan dan dilahirkan dan tidak ada seorangpun yang setara denganKu”.

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah setiap kali beliau masuk ke negeri kufah atau baghdad dan berjumpa dengan salah seorang dzimmi, (Dzimmi adalah orang kafir yang meminta perlindungan pada pemerintahan kaum muslimin dan ia membayar jisiyah yang wajib untuk dilindungi”, Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang menggangu kafir dzimmi sungguh ia telah menggangguku dan siapa yang menggangguku sama saja mengganggu Allah Subhanahu wata’ala”, namun ketika beliau berjumpa dengan kafir dzimmi, imam Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah beliau menundukkan pandangannya, ketika ditanya:”Mengapa anda melakukan demikian?“, beliau berkata:”Saya tidak kuasa melihat wajah orang yang mengatakan:”Allah Subhanahu wata’ala itu beranak  atau diperanakkan” sebagaimana dalam hadist Qudsi yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala .

Oleh karenanya apapun yang kita lakukan bersiaplah menerima penilaian manusia, dan keridhaan manusia adalah tujuan yang tidak mampu untuk dicapai, maka dari itu carilah keridhaan dari Allah Subhanahu wata’ala, selama kita yakin bahwa kita berjalan diatas kebenaran maka bukti keikhlasan tidaklah kemudian terlena dengan pujian orang yang memuji  dan tidak surut dengan celaan orang yang mencela.

Jika ingin mengetahui buah dari keikhlasan diatas kebaikan sebagaimana kata para ulama kita:”Jangan anda terlena pujian orang yang memuji  dan anda tidak mundur ketika ada orang yang mencela Anda”.

Sofyan Atsaury Rahimahullah mengatakan:”Saya tidak khawatir ketika orang – orang  mencelaku yang saya khawatirkan ketika mereka mulai  memuji saya“.

jika ada yang mencela dan menggunjing kita maka jangan pedulikan perkataan mereka jalan terus  dan ini adalah salah satu sikap yang harus dimiliki oleh seorang mukmin sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an agar beliau ketika berjumpa dengan orang – orang jahil kemudian berkata:”Qalu salama”. kemudian tidak memperdulikan dan juga tidak perlu menyibukkan diri untuk membantah apa yang ia katakan kepada kita.

Syaikh Isa Al Masmari beliau berkata:”Ada 2 golongan yang bisa memperlambat laju perjalanan dakwah”.

  1. Golongan yang senantiasa mencari – cari kesalahan dai dan para ulama
  2. Golongan yang paling sibuk dengan golongan yang pertama (sehingga potensi sia sia akhirya banyak hal yang semesti ia kerjakan tetapi  tersibukkan kepada hal-hal yang tidak bermanfaat tersebut.
  1. Jangan membiasakan diri untuk menunggu ucapan terima kasih dari orang yang berbuat baik kepada kita bahkan 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:“Barangsiapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah kebaikan itu dan jika engkau tidak mampu membalasnya maka doakan dan katakan jazakallahu kahiran“. Adapun jika kita yang melakukan kebaikan tersebut maka mintalah balasan dari Allah Subhanahu wata’ala dan kita tidak menantikan sesuatu baik berupa pujian atau materi dari apa yang telah kita kerjakan tersebut sampai dalam bentuk penghargaan dan ini adalah sifat orang – orang sholeh yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan dalam Al-Qur’an :

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih“. (QS. Al Insan : 9).

  1. Beriman kepada Al Qada dan Qadar

Segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Hadid:22)

Ubadah Ibn Shamit Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Engkau tidak akan merasakan lezatnya kehidupan sampai engkau meyakini bahwasanya apa yang telah ditentukan untukmu tidak akan ada yang mampu menghalanginya dan sebaliknya apa yang tidak ditentukan untukmu maka tidak akan ada yang mampu memberikannya kepadamu”.

Oleh karenanya serahkan segala sesuatunya kepada Allah Subhanahu wata’ala ketika segala usaha kita tempuh dan telah kita memaksimalkan segala cara tersebut namun kenyataannya tidak sesuai dengan yang kita inginkan maka kembalikan semuanya kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena segala yang terbaik adalah apa yang dipilihkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR. Al-Bukhari). Rasulullah melarang kita ketika mengerjakan sesuatu namun tidak sesuai dengan harapan kita lalu kita mengatakan”andaikan, seandainya”, karena kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:”kata-kata andaikan membuka pintu syaithan” oleh karenanya apapun yang terjadi katakan:”Segala Sesuatunya telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Allah Subhanahu wata’ala melakukan apapun yang ia kehendaki“.

Inilah beberapa hal yang apabila kita amalkan akan melapangkan hati-hati kita bahkan musibah atau ujian akan berubah menjadi nikmat karena kita mengharapkan ganjaran dan pahala  disisi Allah Subhanahu wata’ala, kita hidup didunia ini adalah merupakan tempat kita diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan kita akan kembali kepada Allah dan semoga Allah Subhanahu wata’ala ridho tatkala kita berjumpa dengannya.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu,  06 Sya’ban  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.