بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebagian orang memiliki sifat jika diberi dia senang dan jika tidak diberi dia marah atau murka sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surah Al Ahzab, Allah Berfirman:

أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ ۚ أُولَٰئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al-Ahzab: 19).

Jadi, orang munafik demikian jika orang muslim menang seakan – akan mereka yang paling berjasa dan ketika orang muslim kalah maka nampak kebobrokan dan aib mereka dan ini ada disetiap zaman.

Olehnya Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan di dalam Al-Qur’an untuk berhati – hati dari orang yang seperti itu bahkan Allah menurunkan satu surah yang disebut surah taubah dan nama lain dari surah taubah adalah surah Al Fadikhah (yang menyingkap aib, cela serta cacat orang – orang munafik serta rahasia – rahasia mereka), hadist ini merupakan peringatan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tentunya bukan berarti kita meninggalkan dunia secara keseluruhan karena Allah sendiri berfirman didalam Al-Qur’an:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“. (QS. Qasas : 77).

Tapi yang tercela adalah ketika kesibukan kita terhadap dunia itu melalaikan dari kewajiban kita, melalaikan dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, melalaikan kita untuk mengeluarkan yang wajib seperti zakat yang harus dikeluarkan kemudian menyantuni fakir miskin, membantu orang lain, namun selama kita mencari nafkah dan mencari dunia maka ini tidak mengapa selama tidak melalaikan dari kewajiban sebagaimana Nabi – Nabi Allah Subhanahu wata’ala pun juga demikian mereka mencari nafkah bahkan mereka ke pasar sebagaimana yang Allah sebutkan didalam Al-Qur’an:

وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ ۙ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا

“Dan mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?”. (QS. Al-Furqan: 7).

Sebagaimana profesi Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam begitupula Nabi – Nabi yang lain, tidaklah ada Nabi yang diutus kata Rasulullah melainkan mereka itu sebagai seorang penggembala seperti Nabi Musa ‘Alaihissalam, ketika Allah Subhanahu wata’ala bertanya kepada Musa:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ , قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ

Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?, Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya“. (QS. Thaha: 17-18).

Begitupula Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bergembala kambing, sebagian ulama ada yang menyebutkan hikmahnya bahwasanya para Nabi telah dilatih untuk menghadapi ummatnya, kambing jika ditarik ke kanan maka dia akan lari ke kiri dan ummat para Nabi demikian ketika mereka dipanggil ke kanan mereka lari ke kiri, para Nabi – Nabi Allah sampai yang diberikan kelapangan kepada mereka bahkan kekuasaan dan kekuatan seperti Nabi Daud ‘Alaihissalam, kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Sesungguhnya daud dia makan dari hasil tangannya”, apa profesi dari Nabi Daud ‘Alaihissalam yaitu pandai besi:

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya”. (QS. Saba: 10).

Nabi Daud jika ada besi yang kuat ketika sampai ditangannya besi itu menjadi lunak dan beliau bisa membentuk sesuai yang beliau inginkan, beliau membuat baju perang atau peralatan – peralatan yang lain yang dibutuhkan, jadi Nabi makan dari hasil tangannya ini menunjukkan bahwasanya beliau diperintah oleh Allah Subhanahu wata’ala bekerja, bukan berarti jika kita berbicara tentang kezuhudan terhadap dunia kemudian kita hanya dimasjid berdoa, menunggu emas dari langit, Allah Subhanahu wata’ala berfirman didalam Al-Qur’an:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Jumu’ah : 10). Cari rezeki dari Allah Subhanahu wata’ala.

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang“. (HR. Ahmad (1/30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402)

Apakah burung itu tinggal disarangnya tidak karena Nabi mengatakan:”Dia pergi pada pagi hari“. Dia mencari sebab – sebab rezeki karena tawakkal tidak menafikan usaha yang kita lakukan oleh karenanya Imam Ibnul Qayim Rahimahullah mengatakan:”Rezeki itu terbagi menjadi 2 yang pertama rezeki yang engkau cari yang kedua rezeki yang mencari mu”, adapun rezeki yang engkau cari Allah akan berikan kepadamu dengan keadilan, orang yang berusaha tidak akan disia – siakan oleh Allah Subhanahu wata’ala, ada rezeki yang mencari anda karena sudah ditentukan oleh Allah, banyak orang yang banting tulang mencari rezeki tapi sedikit hasil yang ia dapatkan, ada yang hanya tinggal dirumahnya saja duduk mengangkat telepon kemudian masuk notifikasi dalam hpnya berupa transferan dan seterusnya. Olehnya jangan kita merasa galau dengan semua hal ini karena Allah sendiri mengatakan:

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-‘Ankabuut: 62).

Dialah Allah Subhanahu wata’ala membentangkan rezeki kepada sebagian yang lain dan dimenyempitkan bagi sebagian yang lain bahkan ada orang yang diharamkan baginya dunia ini adalah bukti cinta Allah kepadanya, mengapa bisa demikian sebagaimana yang terdapat dalam riwayat yang shahih Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwasanya:”Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala melindungi seseorang dari dunia karena kecintaan Allah kepadanya sebagaimana kalian melindungi oran sakit diantara kalian untuk makan dan minum dari jenis makanan dan minuman tertentu”, misalnya bapak kita kolestrol tinggi kemudian dokter mengatakan jangan makan daging, tapi bapak kita mau sekali makan coto dan kita juga kasihan melihatnya sampai terkadang kita menangis karena menghalangi makanan itu darinya bukan karena benci tetapi karena kita sayang kepada dia.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu, 20 Shafar 1441 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.