بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pertanyaan:

Apakah berdoa meminta jodoh dengan menyebut nama seseorang merupakan hal yang sia -sia karena jodoh telah tertulis di lauh mahfudz apakah doa ini termasuk sia -sia.

Jawab

Jika doa ini dianggap sia -sia maka meminta rezeki juga termasuk sia-sia karena rezeki juga sudah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, Umar bin Khattab pernah berkata:”Tidak penting bagi saya apakah doa saya itu dikabulkan atau tidak yang penting bagi saya apakah saya sudah berdoa atau tidak”, jika kita berdoa kepada Allah maka itu merupakan tanda bahwa Allah menginginkan kebaikan untuk kita, doa itu tidak disia-siakan oleh Allah karena doa tidak terlepas dari 3 hal: yang pertama langsung dikabulkan, yang kedua dipalingkan darinya marabahaya sebagai gantinya atau yang ketiga digantikan untuknya yang lebih baik di akhirat.

Misalkan dia berdoa menyebut nama seseorang yang dia suka dari sisi agamanya maka ini tidak mengapa bisa jadi dikabulkan oleh Allah, atau dipalingkan agar dia terhindar dari marabahaya atau digantikan yang lebih baik nanti di akhirat di dalam surga, tetapi ada amalan yang lebih baik dari berdoa langsung sambil menyebut namanya yaitu sholat Istikharah karena belum tentu yang anda sebut namanya baik disisi Allah dan betapa banyak orang yang dulu menikah apalagi yang didahului dengan pacaran setelah menikah ia berkata:”Andaikan waktu bisa dikembalikan ke belakang apakah saya masih memilih wanita tersebut”, walaupun berandai andai membuka pintu syaithan, oleh karenanya sebelum menikah cari yang terbaik dan setelah menikah terima apa adanya.

Nabi mengajarkan kepada kita sholat istikharah atau membaca doa istikharah dan manusia yang paling banyak beristikharah adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Jadi, misalkan ada satu nama atau 2 nama yang disodorkan kepada kita namun kita masih ragu menerimanya maka berdoalah dengan doa istikharah setelah sholat 2 rakaat baca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى – قَالَ – وَيُسَمِّى حَاجَتَهُ

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau jelek bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya”. (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

Sahabat pernah berkata:”Nabi mengajarkan kepada kami do’a istikharah sebagaimana mengajarkan kepada kami surah dalam Al-Qur’an”, doa ini menumbuhkan harapan di dalam hati dan memberikan motivasi dan kekuatan mental dan kalaupun tidak terjadi kita telah menyerahkan semuanya kepada Allah, adapun jika dia jodoh kita Alhamdulillah adapun jika dia bukan jodoh kita boleh jadi Allah menyiapkan yang lebih baik dari apa yang kita inginkan, Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui“. (QS. Al-Baqarah: 216).

Olehnya hafalkan doa istikharah ini adapaun jika kita tidak menghafalnya kata para ulama bisa dibaca, oleh karenanya sebagaimana Nabi banyak istikharah maka kita juga harus banyak istikharah dari segala urusan jangan hanya dalam masalah jodoh tetapi juga ketika memulai bisnis, memulai usaha dan seterusnya kecuali jika perkara itu dalam urusan yang sudah wajib maka tidak boleh kemudian istikharah, misalnya ia pergi ke masjid untuk sholat berjama’ah kemudian ia istikharah terlebih dahulu maka hal seperti ini tidak dibolehkan, atau ia merokok kemudian dinasehati untuk berhenti merokok akan tetapi dia berkata:”Saya istikharah dulu“, maka ini tidak dibolehkan.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 28 Dzulqai’dah 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

1 KOMENTAR

  1. Boleh nggak kita berdoa dalam sepertiga malam tapi orang yang kita sayangi tidak mau berdoa sepertiga malam?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.